Real Madrid, 'Raja Spanyol' yang Mendambakan Mahkota

CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2020 12:05 WIB
Real Madrid, 'Raja Spanyol' yang Mendambakan Mahkota Real Madrid. (AP Photo/Bernat Armangue)
Jakarta, CNN Indonesia -- Real Madrid berupaya menebus kesalahan musim lalu dengan mengejar trofi di musim 2019/2020.

Pada musim sebelumnya, selain terpuruk di Liga Champions 2018/2019, Madrid juga gagal di Liga Spanyol serta Copa del Rey.

Bagi Madrid, musim tidak berarti tanpa trofi. Meskipun, gelar domestik selayaknya tidak lagi jadi prioritas untuk level Madrid yang sudah mengoleksi 13 gelar Liga Champions.


Akan tetapi, demi gengsi sebagai salah satu tim besar Eropa, trofi apa pun penting untuk Los Merengues, daripada lemari piala kosong di musim tersebut kosong.


Sejumlah rekrutan baru didatangkan Madrid di awal musim guna memperkuat skuat dan berharap mendatangkan gelar. Termasuk mengembalikan Zinedine Zidane ke Santiago Bernabeu sebelum musim lalu selesai.

Eden Hazard, Luka Jovic, Eder Militao, Ferland Mendy, hingga Rodrygo direkrut sesuai permintaan Zindane. Namun, rekrutan itu tidak selalu menguntungkan Madrid.

Langkah Los Blancos tampak mulus di awal musim dengan meraih tiga kemenangan dari lima pertandingan. Total tim asuhan Zinedine Zidane itu tidak terkalahkan dalam delapan pertandingan, lima kali menang dan tiga kali imbang.

Vinicius Junior mulai bersinar bersama Madrid.Vinicius Junior mulai bersinar bersama Madrid. (AFP/OSCAR DEL POZO)
Klub ibu kota Spanyol itu benar-benar memberikan perlawanan kepada juara bertahan Barcelona. Usai berada di puncak klasemen pada pekan pertama, Karim Benzema dan kawan-kawan kembali berada di posisi teratas pada pekan keenam.

Madrid mempertahankan puncak klasemen untuk dua pekan berikutnya usai mengalahkan Granada 4-2 di pekan kedelapan. Total, Madrid delapan pekan di puncak klasemen sampai dengan saat ini.

Dikutip dari Transfermarkt, Madrid hanya sekali keluar dari zona empat besar, yaitu di pekan ketiga setelah ditahan imbang Villarreal 2-2.

Kekalahan 0-1 dari Real Mallorca di pekan kesembilan bisa dibilang sebagai salah satu faktor dimulainya inkonsistensi Madrid di musim ini. Kekalahan tersebut membuat Madrid turun ke posisi kedua, puncak klasemen jadi milik Barcelona yang menang 3-0 atas Eibar.

[Gambas:Video CNN]

Usai kemenangan itu, Barcelona bertahan di tempat teratas selama 12 pekan. Meski demikian, Madrid tetap memberikan perlawanan dengan tidak membuat jarak terlalu jauh dari Blaugrana.

Itu dibuktikan dengan posisi puncak klasemen yang kembali ke tangan Madrid di pekan ke-21 setelah menang 1- atas Real Valladolid.

Bulan Januari jadi salah satu periode apik Madrid di musim ini. Selain meraih tiga kemenangan beruntun di La Liga, Sergio Ramos dan kawan-kawan juara Piala Super Spanyol usai kalahkan Atletico Madrid 4-1 lewat adu penalti.

Real Madrid, 'Raja Spanyol' yang Mendambakan Mahkota
Nasib Madrid berbeda saat memasuki Februari. Madrid tersingkir dari Copa del Rey setelah kalah 3-4 dari Real Sociedad di awal bulan tersebut di babak perempat final.

Setelah tersingkir dari Copa del Rey, posisi Madrid di klasemen La Liga turun satu setrip ke peringkat kedua usai kalah 0-1 dari Levante setelah di pekan sebelumnya ditahan imbang Celta Cigo 2-2.

Kemenangan 2-0 atas Barcelona dalam El Clasico di pekan ke-26 sempat mengapungkan nama Madrid sebagai salah satu calon juara musim ini. Gelar La Liga ke-34 dalam bidikan Madrid.

Madrid butuh gelar La Liga untuk mengukuhkan posisi sebagai 'Raja Spanyol' yang memiliki trofi Liga Spanyol terbanyak sampai dengan saat ini.

Predikat Madrid sebagai penguasa Liga Spanyol dengan koleksi 33 trofi masih sulit dikejar Barcelona yang sudah mengoleksi 26 gelar. Apalagi oleh Atletico yang hanya 10 trofi untuk posisi tiga besar pengoleksi gelar La Liga.

Real Madrid, 'Raja Spanyol' yang Mendambakan Mahkota
Sayangnya, inkonsistensi Madrid kambuh di pekan ke-27 sebelum kompetisi di hentikan karena pandemi virus corona. Di minggu itu Madrid kalah 1-2 dari Real Betis, Barcelona pun berada di puncak klasemen saat liga ditangguhkan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Niat Madrid mengangkat mahkota terganjal krisis Covid-19. Tidak saja di La Liga, perjuangan Madrid di Liga Champions juga tersendat.

Madrid masih perlu membalikkan agregat sementara yang tertinggal 1-2 dari Manchester City di babak 16 besar Liga Champions. Leg kedua babak tersebut akan digelar di kandang Man City.

Naik-turun Madrid di musim terjadi karena sejumlah faktor, salah satunya skuat yang kerap tidak komplet saat dibutuhkan Zidane.

Eden Hazard yang diharapkan jadi bintang baru Madrid cedera cukup lama. Hazard belum lagi bermain untuk Madrid sejak akhir Februari karena patah tulang fibula, dan diharapkan pulih pada akhir Mei nanti.

Marco Asensio yang menjadi salah satu pemain andalan Zidane di musim-musim sebelumnya justru belum bermain sejak awal musim karena kerusakan ligamen.

Pemain-pemain baru yang belum klop dengan skema Zidane juga diprediksi sebagai aspek yang menghambar laju Madrid di musim ini.

Meski demikian, Madrid cukup tertolong dengan bersinarnya sejumlah pemain muda seperti Rodrygo atau Vinicus Junior. Performa gelandang Federico Valverde juga cukup memuaskan Zidane.

Vinicius Junior jadi salah satu pencetak gol saat Madrid mengalahkan Barcelona 2-0. Sedangkan Rodrygo mengemas empat gol dan dua assist dari empat penampilan di Liga Champions.

Hanya dengan tertinggal dua poin dari Barcelona, kans Madrid meraih gelar Liga Spanyol musim ini masih terbuka lebar. Asalkan kompetisi kembali digulirkan usai krisis corona ini.

Namun jika La Liga memutuskan kompetisi berhenti total karena masa darurat yang diperpanjang, maka harapan Madrid hanya tinggal impian, Madrid pun harus rela dua musim hampa gelar.

Situasi serupa terjadi di Liga Champions. Dengan tertinggal agregat 1-2 bukan perkara sulit untuk Los Merengues. Sekalipun harus membalikkan kedudukan di Etihad. Madrid punya komposisi bagus untuk mengejutkan Man City. Tetapi semua tergantung keputusan UEFA yang tetap ngotot menyelesaikan musim ini walaupun terkendala Covid-19. (sry/nva)

[Gambas:Video CNN]