Pemotongan Gaji Seenak Jidat di Liga 1

Jun Mahares, CNN Indonesia | Kamis, 09/04/2020 07:20 WIB
Pemotongan gaji pemain Liga 1 mencapai 75 persen karena imbas virus corona terbilang sebagai keputusan 'seenak jidat'. Gaji pemain Liga 1 dan Liga 2 dipangkas hingga 75 persen. (ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemotongan gaji pesepakbola lumrah dilakukan di tengah pandemi virus corona. Tapi, yang berlaku di Liga 1 dan Liga 2 seenak jidat sendiri.

Sebab, keputusan terkesan diambil sepihak. Besaran jumlah potongan juga kelewat besar dan mencekik leher. Gaji seluruh pemain dan ofisial dipangkas hingga 75 persen.


PSSI lewat surat keputusan bernomor SKEP/48/III/2020, menyatakan klub wajib membayar maksimal 25 persen dari nominal kontrak untuk periode Maret hingga Juni 2020.


Keputusan ini diambil setelah operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB) menerima usulan klub-klub dengan dalih kondisi force majeure karena wabah Covid-19.

Artinya, tiap pemain hanya berhak mengantongi 25 persen dari gaji semestinya.

PSSI memutuskan pemotongan gaji 75 persen selama penangguhan kompetisi.PSSI memutuskan pemotongan gaji 75 persen selama penangguhan kompetisi. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)
Ambil contoh, salah satu pemain top Indonesia misalnya mendapat kontrak Rp1 miliar selama semusim. Dengan metode pembayaran di Indonesia, si pemain biasanya akan mendapat uang muka sebesar 25 persen atau 250 juta saat resmi menandatangani kontrak.

Sementara 750 juta sisanya dibayar per bulan selama semusim atau sekitar 10 bulan. Pemain ini harusnya mendapat 75 juta per bulan tapi pemotongan gaji membuatnya hanya mendapatkan Rp18,7 juta.

Pemain menengah yang mendapat kontrak Rp500 juta semusim akan mendapat Rp9,3 juta. Sementara pemain muda dengan kontrak 200 juta hanya akan mengantongi Rp4,3 juta di masa penangguhan kompetisi.

Pendapatan pemain Liga 2 yang nilai kontraknya bisa saja di bawah Rp200 juta bisa lebih rendah lagi. Itupun tak menjamin gaji mereka diberikan mengingat ada sebagian klub Liga 2 yang masih menunggak hak pemain.

Klub Minim Aset

Pemangkasan gaji jadi ide lumrah di tengah krisis finansial yang dialami klub-klub Indonesia. Terlebih hampir semua klub di Tanah Air tak memiliki aset.

Mereka hanya mengandalkan sponsor yang tak seberapa dan berharap dari hak siar operator kompetisi. Suporter terkadang dijadikan sapi perah lewat harga tiket cukup mahal. Meski demikian, tak jarang pemilik klub terpaksa merogoh kocek pribadi atau berutang.

Glenn Fredly, Fan Barcelona dan Timnas Belanda
Namun, pemangkasan gaji 75 persen tak lantas bisa dimaklumi begitu saja. Pemotongan melebihi setengah dari pendapatan adalah keputusan sadis yang amat merugikan pemain, pelatih, dan staf ofisial.

Segelintir pemain mengaku pasrah. Sementara sebagian lainnya tak berani bersuara dan mengandalkan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) sebagai corong.

Liga 1 ditangguhkan hingga waktu yang tak ditentukan.Liga 1 ditangguhkan hingga waktu yang tak ditentukan. (ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra)
Beruntung APPI bersikap tegas. Dalam rilisnya, asosiasi pemain yang dipimpin Firman Utina tersebut memprotes keputusan yang terkesan seenak jidat.

Dalam rilisnya, APPI menegaskan, keputusan pembayaran gaji sebesar 25% sejak Maret-Juni merupakan hal yang seharusnya disepakati kedua belah pihak dan tidak bisa diputuskan sepihak.

"Kami meminta adanya pertemuan dan pembicaraan yang melibatkan semua stakeholder tanpa terkecuali dengan dasar saling respect dan fair untuk mencapai solusi yang bisa diterima oleh semua pihak," bunyi pernyataan APPI pada 28 Maret 2020.

APPI juga mendesak klub untuk melunasi uang muka kontrak pemain. Ternyata tidak semua klub menunaikan kewajibannya kepada pemain.

Ironisnya, permintaan APPI yang menjadi corong seluruh pemain Indonesia tak digubris. Hingga saat ini tak ada respons dari PSSI, LIB, maupun klub-klub peserta.

Pemain Inggris dan Italia Tolak Pemotongan Gaji

Rencana pemangkasan gaji pemain juga sedang marak terjadi di liga-liga Eropa. Liga Inggris dan Liga Italia misalnya. Kedua kompetisi ini mengusulkan rencana pemotongan 30 persen gaji.

Besaran potongan 30 persen sebenarnya cukup masuk akal. Namun, asosiasi pemain Liga Inggris dan Liga Italia menolak. Mereka menuntut klub melakukan negosiasi ulang terkait kontrak dan tidak menyamaratakan pemotongan.

Alih-alih membantu mengatasi finansial klub, pemotongan gaji justru dianggap mengebiri hak-hak pemain. Sebab, mereka dijadikan korban atas krisis yang menimpa klub.

Ikon sepak bola Inggris, Wayne Rooney, melayangkan kritik pada pemerintah dan Premier League atas rencana pemotongan gaji para pemain selama pandemi virus corona.

Wayne Rooney tolak pemotongan gaji merata sebanyak 30 persen.Wayne Rooney tolak pemotongan gaji merata sebanyak 30 persen. (AP/Rui Vieira)
Mantan pemain Manchester United itu menilai, kebijakan pemotongan gaji sebesar 30 persen justru menempatkan pemain dalam situasi paling dirugikan.

Secara pribadi, Rooney rela berkontribusi dalam membantu penanganan pandemi ini tanpa melalui kebijakan pemotongan gaji. Tapi, menurutnya tak semua pemain dalam situasi yang berkecukupan.

"Saya berada dalam posisi di mana saya bisa memberikan sesuatu. Tidak semua pemain sepak bola berada di posisi yang sama. Namun tiba-tiba seluruh pemain diminta potong gaji 30 persen. Mengapa para pesepakbola tiba-tiba jadi kambing hitam," kata Rooney seperti dikutip Sky Sports.


Presiden Asosiasi Pesepakbola Italia AIC, Damiano Tommasi, juga memprotes keputusan sepihak Serie A.

"Saya tidak bisa memahami logika bisnis di balik perilaku ini: menempatkan pemain sebagai protagonis utama, dalam situasi yang buruk. Rasanya gila bagi saya," kata Tommasi.

Mantan pemain AS Roma itu juga berharap klub dan pemain melakukan negosiasi ulang terkait kontrak mereka. Sebab, pemain masih bekerja sampai Maret dan saat ini pun tetap menjalankan program dari tim pelatih.

Bambang Pamungkas

Sebenarnya, para pemain Indonesia butuh dukungan dari sosok mantan pesepakbola kritis macam Bambang Pamungkas. Pasalnya, ia menjadi satu-satunya pemain Indonesia yang sukses 'melawan' manajemen klub (Persija Jakarta) dalam kasus penunggakan gaji pada 2014.

Kala itu, PSSI harus turun tangan menengahi konflik Bambang dan Manajemen Persija yang dipimpin Ferry Paulus. Namun, setahun kemudian Bambang kembali ke Persija hingga pensiun pada 2019.
Bambang Pamungkas kini jadi manajer Persija Jakarta.Bambang Pamungkas kini jadi manajer Persija Jakarta. (CNN Indonesia/ Titi Fajriyah)
Saat ini Bambang menjabat manajer Persija. Posisi cukup strategis untuk menentang kebijakan sepihak manajemen soal pemotongan gaji 75 persen.

Tapi, keberadaan Bambang di dalam manajemen klub ternyata tak bisa membantu pemain. Manajemen pimpinan Ferry Paulus ikut arus pemangkasan gaji 75 persen.

Para pemain mau tidak mau harus bersatu untuk menentang rencana pemotongan gaji yang seenak jidat. Sebab, tak semua pemain punya pendapatan besar terutama pemain Liga 2 yang masih banyak terjadi penunggakan gaji sejak musim lalu. (nva)

[Gambas:Video CNN]