Keyakinan mantan pelari nasional tersebut dia ungkapkan ketika melakoni misi pencarian bakat dari Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) di kampung halaman Lalu Muhammad Zohri tersebut. Suryo Agung mengungkapkan ada tradisi permainan lari tiang yang membuat bakat-bakat alam bocah di sana terasah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rekornya itu kemudian dipecahkan oleh sprinter muda asal NTB, Lalu Zohri, ketika dia meraih perak pada Kejuaraan Atletik Asia 2019. Zohri mencatatkan rekor 10,13 detik pada lari nomor 100 meter.
Lalu Zohri, sprinter Indonesia kebanggaan Lombok, NTB. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
Program scouting di Kemenpora ini baru dilakukan pada 2017. Di NTB, dia bersama tim memantau tiga titik. Jumlah itu diakuinya yang paling banyak dari 20-an titik pemanduan bakat.
"Saya berani bilang NTB itu seperti Jamaika di Indonesia. Banyak sekali talenta-talenta yang bisa dipoles menjadi atlet-atlet atletik yang andal," ujar Suryo Agung kepada CNNIndonesia.com.
Salah satu yang mendukung bakat lari anak-anak NTB, disebut Suryo adalah tradisi permainan lari tiang.
"Di sana mereka biasa menyebutnya adu lari tiang. Patokannya [start hingga finis] memang tiang-tian listrik di jalanan. Mau berapa tiang jaraknya? Tinggal mereka sebut untuk tantangan lari," terang Suryo.
Suryo pun mengaku pihaknya sudah mendata sejumlah talenta muda di NTB, dan daerah-daerah lain di Indonesia yang sudah dikunjungi.
"Khusus untuk atlet atletik termasuk pelari, memang dilahirkan, bukan hanya dilatih. Anak-anak yang memiliki serat otot putih lebih banyak, potensinya besar untuk menjadi atlet."
"Tinggal caranya untuk bisa memoles bakat-bakat mereka. Untuk itu kami harus benar-benar mengupayakannya," pungkas Suryo.
[Gambas:Video CNN]
(bac/jal)
Lalu Zohri, sprinter Indonesia kebanggaan Lombok, NTB. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)