Kemenangan Gaethje atas Tony Ferguson di UFC 249, Minggu (10/5), membuat petarung berjuluk The Highlight itu berpeluang besar menghadapi Khabib yang berstatus sebagai juara bertahan kelas ringan UFC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari 28 kemenangan yang diraih Khabib di mixed martial arts (MMA) petarung asal Rusia itu memang mampu meraih delapan kemenangan KO/TKO. Tapi hal itu kali terakhir terjadi April 2016 saat menang TKO atas Darrell Horcher.
Justin Gaethje petarung yang menghibur dengan standing fight. (Douglas P. DeFelice/Getty Images/AFP) |
Conor McGregor dan Dustin Poirier yang merupakan dua lawan terakhir Khabib sudah merasakan betapa hebatnya kemampuan ground fighting petarung asal Dagestan itu. Jika harus menghadapi lawan dengan kemampuan standing fight yang luar biasa, Khabib dipastikan akan memilih 'main bawah' untuk meraih kemenangan.
Statistik mencatat, rataan Khabib berusaha menjatuhkan lawan dan melakukan ground fighting di UFC adalah 5,35 per 15 menit. Akurasi take down Khabib mencapai 47 persen dan dia memiliki kemampuan bertahan tidak dijatuhkan mencapai 84 persen.
Sebaliknya, Gaethje merupakan penghibur sejati. Petarung 31 tahun itu lebih gemar melakukan pertarungan atas meski memiliki disiplin gulat. Total 19 kemenangan, dari 22 kemenangan, diraih Gaethje secara KO/TKO. The Highlight petarung ketiga berbahaya di UFC dengan raihan 0,95 KO/TKO per 15 menit.
Catatan itu membuat Gaethje tidak pernah memberi penonton pertarungan yang membosankan. Pasalnya, Gaethje akan terus melepaskan pukulan sampai sang lawan terkapar. Ada ketakutan Gaethje tidak mampu menjalani lima ronde karena kelelahan, tapi anggapan itu terpatahkan saat melawan Ferguson.
Pertarungan melawan Ferguson merupakan kali pertama Gaethje menjalani pertarungan lima ronde di MMA. Sebelumnya, kemenangan KO/TKO diraih Gaethje paling lambat di ronde ketiga.
Duel Dua Kutub
Jika duel Khabib vs Gaethje terjadi saat ini dengan kedua petarung 100 persen fit, maka Khabib pantas difavoritkan. Pasalnya, The Eagle dipastikan akan langsung berusaha menjatuhkan Gaethje dan memaksakan ground fighting sejak awal ronde pertama.
[Gambas:Video CNN]
Terlebih Gaethje tidak terbiasa melakukan pertarungan jarak jauh. Jika mengandalkan pertarungan jarak dekat, maka Khabib akan sesering mungkin menjatuhkan Gaethje demi mencari kemenangan submission.
Gaethje bukan penggemar pertarungan bawah. Bahkan akurasi take down dan usaha submission Gaethje di UFC tercatat 0 persen. Dia pernah satu kali meraih kemenangan lewat submission di MMA, tapi itu terjadi saat ajang Rage In The Cage melawan Sam Young pada September 2012.
Kondisi semakin sulit bagi Gaethje karena Khabib terbilang cukup impresif menghadapi pertarungan atas. Khabib punya kemampuan bertahan dari pukulan mencapai 67 persen dan akurasi pukulan mencapai 49 persen.
Sejumlah catatan di atas membuat Khabib vs Gaethje merupakan duel dua kutub berbeda. Satu petarung mengagungkan ground fighting dan satunya ahli dalam standing fight. Jika Gaethje tidak melatih kembali kemampuan gulatnya, maka Khabib diprediksi bisa meraih kemenangan submission dengan mudah. (ptr)
Justin Gaethje petarung yang menghibur dengan standing fight. (Douglas P. DeFelice/Getty Images/AFP)