ANALISIS

Terlalu Prematur Gelar Liga Inggris Awal Juni

Juprianto Alexander, CNN Indonesia | Rabu, 13/05/2020 07:07 WIB
Liverpool's Egyptian midfielder Mohamed Salah (R) reacts  at the final whistle during the UEFA Champions league Round of 16 second leg football match between Liverpool and Atletico Madrid at Anfield in Liverpool, north west England on March 11, 2020. (Photo by Paul ELLIS / AFP) Liga Inggris punya kemungkinan kembali bergulir pada awal Juni. (AFP/PAUL ELLIS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Operator Liga Inggris sudah mendapatkan lampu hijau dari Pemerintah Inggris untuk melanjutkan kompetisi pada 1 Juni 2020. Keputusan ini bisa jadi terlalu prematur dengan melihat kondisi terakhir, baik dari penanganan corona maupun keinginan pemain.

Pengumuman itu dilakukan Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson pada Senin (11/5) waktu setempat. Panduan setebal 60 halaman yang salah satu poinnya mengizinkan olahraga kembali digelar juga sudah diterbitkan plus seabrek protokol yang mesti ditaati.


Pernyataan dari Johnson jelas melegakan, khususnya untuk para penggemar Liga Inggris. Mereka telah menanti cukup lama untuk melihat aksi para pemain dari 20 klub peserta lapangan hijau usai kompetisi ditangguhkan pada 13 Maret lalu.


Jika segalanya berjalan sesuai rencana, Premier League akan mengikuti jejak K-League dan Bundesliga Jerman. K-League sudah berlangsung pada 8 Mei lalu, sementara Bundesliga akan kembali bergulir pada 16 Mei atau akhir pekan ini.

Satu dari banyak pertanyaan pun muncul berkaitan dengan rencana menghadirkan kembali sepak bola di Inggris. Apakah sudah benar-benar aman untuk memutar kembali salah satu liga paling elite di Eropa itu pada 1 Juni mendatang?
Manchester United's Anthony Martial, second from right, celebrates after scoring the opening goal during the English Premier League soccer match between Manchester United and Manchester City at Old Trafford in Manchester, England, Sunday, March 8, 2020. (AP Photo/Dave Thompson)Liga Inggris disebut siap menyusul K-League dan Bundesliga untuk kembali memulai kompetisi. (AP/Dave Thompson)

Operator K-League diperbolehkan menggelar kompetisi seiring menurunnya jumlah kasus positif di negara tersebut sejak April. Berdasarkan data Worldometers pada Senin (12/5) sore WIB, kasus positif di Negeri Ginseng hanya 35 orang pada 11 Mei. Bahkan, angka kematian per hari di Korsel maksimal hanya dua orang sejak 17 April lalu.

Penurunan kasus positif corona juga terjadi di Jerman meski angkanya masih tergolong tinggi. Per 11 Mei, 697 kasus per hari dan 92 orang meninggal dunia. Angka yang masih fluktuatif ini juga sebenarnya membuat keputusan menggelar Bundesliga bukan tanpa risiko.

Sedangkan di Inggris Raya, kasus positif covid-19 tercatat mencapai angka 3.877 pada 11 Mei. Angka ini empat kali lebih banyak dibandingkan kasus positif di Jerman.

Begitu pula dengan angka kematian yang mencapai 210 orang per tanggal 11 Mei. Jumlah tersebut dua kali lipat lebih banyak dari kasus kematian di Jerman.

Dengan kasus positif dan kematian yang tergolong tinggi, menggelar Liga Inggris dalam hitungan kurang dari tiga pekan ke depan tergolong prematur. Meskipun seluruh pertandingan akan berlangsung tanpa penonton, sehingga potensi kasus positif dalam jumlah besar akan sangat minimal.

Belum lagi kabar seorang pemain Brighton & Hove Albion yang positif terinfeksi virus corona pada akhir pekan lalu. Sebelumnya sudah dua pemain Brighton yang terkena dampak dari penyebaran virus covid-19.
Aston Villa's Mbwana Samatta, right, heads the ball to score his side's first goal during the League Cup soccer match final between Aston Villa and Manchester City, at Wembley stadium, in London, England, Sunday, March 1, 2020. (AP Photo/Alastair Grant)Para pemain dianggap belum satu suara untuk memulai kembali kompetisi. (AP Photo/Alastair Grant)

Kabar ini menjadi sinyal awal bahwa sepak bola di Inggris belum sepenuhnya aman untuk digelar. Hal ini ditambah pro- kontra yang juga masih terjadi di kalangan pemain hingga klub-klub peserta kompetisi itu sendiri.

Artinya, klub dan pemain yang menjadi nyawa dalam sebuah kompetisi belum satu suara terkait keinginan menggelar kembali sisa 92 pertandingan Premier League musim ini.

Bek kiri Newcastle United dan timnas Inggris, Danny Rose, merupakan salah satu yang bersuara keras menentang kembali berlangsungnya Premier League. Rose menilai masih sangat berisiko melanjutkan kompetisi dan ia tak habis pikir pesepak bola disebut sebagai pelecut moral negara di tengah pandemi covid-19.

"Persetan dengan moral negara! Ini seperti menempatkan hidup banyak orang dalam risiko. Sepak bola seharusnya tidak meributkan kapan bisa kembali bergulir sampai jumlah kasus [virus corona] menurun drastis," ucapnya lewat akun Instagram Live.

Legenda Manchester United, Gary Neville, juga satu suara dengan Rose. Mantan kapten MU itu melihat tanggal 1 Juni 2020 bukan waktu yang pas untuk melanjutkan sisa kompetisi musim 2019/2020.
GIF Banner Promo Testimoni

Neville kemudian mengusulkan agar kompetisi dijadwalkan berlangsung pada Juli mendatang atau satu bulan lebih lambat dari rencana semula.

"Saya rasa jika apa yang dikatakan Jamie [Carragher] benar, ada tiga atau empat pemain di skuat [tidak ingin bermain] itu persentase yang besar. Sebanyak 25 persen dari skuat," ujar Neville seperti dilansir Daily Mail.

"Ada peningkatan tekanan ekonomi, ada persoalan kesehatan yang tertunda. Tetapi jika mereka [operator] bisa mendapatkan jaminan dari pemerintah, saya rasa Premier League akan mencoba dan memulai kembali."

Aspek kemanusiaan memang wajib diutamakan ketimbang masalah finansial yang mungkin menggerogoti klub karena virus corona. Pasalnya, ada kesan tarik ulur terkait urusan uang hak siar yang dilibatkan dalam keputusan ini.

Dengan meneruskan kompetisi, klub-klub bisa mengurangi biaya yang harus dikembalikan kepada pemegang hak siar Premier League musim ini. Dana tersebut juga bisa membantu klub untuk melewati masa sulit akibat ketiadaan pemasukan sekitar dua bulan. Ego inilah yang harus dihilangkan sembari memikirkan waktu terbaik untuk melanjutkan kompetisi musim ini. (ptr)

[Gambas:Video CNN]