Cara Cabor 'Berdamai' di Masa New Normal Covid-19

CNN Indonesia | Jumat, 22/05/2020 10:12 WIB
Tim renang Indonesia memacu kecepatan saat final 4x100 meter Gaya Ganti Estafet Putri Asian Games ke-18 Tahun 2018 di Aquatic Centre GBK, Senayan, Jakarta, Kamis (23/8). Tim renang Jepang berhasil meraih medali emas sekaligus memecahkan rekor Asian Games dengan catatan waktu 3 menit dan 54.73 detik, sedangkan tim renang Hong Kong naik menjadi peringkat kedua dan Singapura menjadi peringkat ketiga setelah Cina dan Korea Selatan terdiskualifikasi. Sejumlah cabor harus beradaptasi menghadapi The New Normal akibat pandemi Covid-19. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pandemi Covid-19 membuat hampir seluruh agenda olahraga di dunia terpaksa ditunda. Meski begitu cabang olahraga (cabor) mencoba untuk menghadapi The New Normal.

Sedikitnya, ada 13 ajang multi-cabang yang bakal digelar di sepanjang 2021. Selain anggaran, protokol kesehatan juga menjadi sorotan cabor demi menjaga keselamatan atlet.

Sejumlah penyesuaian mulai dipersiapkan sembari menunggu keputusan lanjutan dari pemerintah pusat terkait status darurat corona di Indonesia. Di samping itu, latihan terus berjalan dengan berbagai keterbatasan.


Manajer Pelatnas Angkat Besi Alamsyah Wijaya menyebut tidak akan ada kenaikan anggaran secara signifikan untuk pemusatan latihan nasional (pelatnas).

Anggaran pelatnas dari pemerintah justru berpotensi dirapel untuk mengikuti minimal lima ajang multi-cabang di 2021: Asian Indoor Martial Art Games (AIMAG), SEA Games 2022, Olimpiade, Olimpiade Remaja, dan Islamic Solidarity Games (ISG).

Jumlah anggaran angkat besi terancam dirapel untuk lima even.Jumlah anggaran angkat besi terancam dirapel untuk lima even. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
"Pengeluaran bakal berat diuji coba karena banyak event dan waktunya padat. Anggaran bisa sedikit naik karena saat The New Normal pasti akan menerapkan standar tinggi untuk kesehatan, untuk beli disinfektan, masker, maintenance kebersihan ruangan juga mau tidak mau semakin diperhatikan," ucap Alamsyah kepada CNNIndonesia.com.

Angkat besi menjadi salah satu cabor yang sudah menerapkan sistem karantina total bagi 12 atlet pelatnas di Asrama TNI Kweni, Jakarta Pusat.

Ketatnya protokoler di pelatnas angkat besi termasuk membeli makanan secara online. Jika mendesak makanan harus melewati pemeriksaan anggota TNI. Begitu pula akses keluar masuk asrama.

"Kami memang tidak izinkan pulang karena lebih berisiko untuk pengawasan. The New Normal nanti kami juga akan berikan edukasi ke pemain supaya lebih paham dan mungkin memberikan sedikit kelonggaran karena kami yakin pasti mereka jenuh juga," ujarnya.

Begitu juga dengan cabor bulutangkis yang tidak mengizinkan atlet pelatnas mudik meski latihan diliburkan. Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) Ahmad Budiharto menegaskan Pelatnas Cipayung masih menerapkan protokol kesehatan sesuai standar pemerintah.

Gresya Poli saat ditemui di Pelatnas Cipayung, Selasa (7/11).Gresya Poli saat ditemui di Pelatnas Cipayung, Selasa (7/11). (CNN Indonesia/Andito Gilang Pratama)
Siapapun yang masuk ke Pelatnas Cipayung, baik atlet maupun pelatih, harus melalui pemeriksaan ketat untuk memastikan sterilisasi.

"Keluar kamar harus pakai masker, meski mereka sekarang tidak diizinkan keluar pelatnas. Tapi kalau latihan tidak pakai masker. Pemeriksaan berkala dan pengawasan juga akan dilakukan dan dipantau tim dokter PBSI termasuk nutrisi atlet," ujar Budi.

Para atlet juga harus membatasi diri dalam berinteraksi dengan orang lain. Jika aturan tersebut dilanggar, PBSI, lanjut Budi tidak akan segan mengeluarkan sanksi tegas hingga skorsing.

Jika ada atlet yang kedapatan keluar Pelatnas Cipayung tanpa izin, maka diwajibkan menjalani masa karantina selama 14 hari.

Para atlet bulutangkis nasional pun dianggap Budi lebih mandiri selama menjalani proses karantina. Sebab, petugas kebersihan yang biasa membantu membersihkan kamar dan pakaian untuk sementara dirumahkan.

"Kebersihan kamar jadi tanggung jawab penghuni, yang biasa bantu dihentikan dulu karena mereka pulang ke rumah jadi supaya kami lebih aman. Itu satu pembelajaran baik, mereka jadi cuci pakaian sendiri. Mereka buat jadwal piket bersih-bersih juga per sektor."

[Gambas:Video CNN]
PBSI yang dipastikan bakal menyiapkan diri untuk beradaptasi. Tak hanya program baru, tapi juga banyak hal yang berimbas akibat Covid-19.

Risiko Relaksasi Olahraga

Sementara itu cabor renang yang sempat meminta relaksasi untuk mempergunakan kolam berlatih mengurungkan niatnya. Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PB PRSI) tidak ingin relaksasi yang diharapkan berujung kegaduhan.

Sekjen PB PRSI Ali Patiwiri mengatakan tidak mau ambil risiko dan mengutamakan keselamatan dan kesehatan atlet di atasnya. PRSI juga tidak mau jika diberi kesempatan membuka kolam untuk kepentingan pelatnas, atlet daerah nantinya akan merasa diperlakukan berbeda.

"Poin pertama adalah menjaga keselamatan atlet. Kedua, kami ingin berlaku adil kalau mau kasih kesempatan pelatnas ya daerah juga. Jadi satu komando pusat ke daerah juga kami satu komando dengan FINA (Federasi Renang Dunia) yang tidak memperbolehkan semua atlet berlatih bersama di satu kolam renang," ucap Ali.

PRSI ikuti aturan dariPRSI ikuti aturan dari FINA di masa pandemi corona. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Saat ini atlet pelatnas menjalani latihan mandiri di rumah masing-masing dengan program yang diberikan pelatih. Meski tidak di pelatnas, para atlet juga diimbau untuk tetap mengikuti protokol pemerintah.

"Mereka berlatih di darat tidak ke kolam dengan program recovery dan penguatan. Hampir di semua negara lain juga seperti itu. Karena kalau recovery di darat mereka baik, tidak perlu waktu lama untuk kembali adaptasi di air apalagi status mereka atlet nasional," ungkapnya.

Skenario Protokol Kesehatan

Dikonfirmasi terpisah, Sesmenpora Gatot S Dewa Broto mengatakan dampak luas pandemi mengubah perilaku masyarakat termasuk di dunia olahraga. Misalnya, aspek kesehatan yang selama ini terabaikan ketika suporter dalam stadion untuk menyaksikan pertandingan diprediksi bakal menjadi sorotan utama nantinya.

Terkait anggaran, Kemenpora menurut Gatot harus mematuhi dan menerima berapapun jumlah dana yang diberikan Kementerian Keuangan sebagai bendahara negara. Terlebih dampak Covid-19 membuat pemasukan negara dari sektor pajak turun drastis. Sedangkan keuangan negara semakin banyak tergerus untuk recovery ekonomi dan jaminan sosial.

"Sebenarnya untuk 2021 plot anggaran kementerian dan lembaga sudah keluar. Jumlah yang kami dapat tidak jauh berbeda dari tahun ini yang mencapai Rp1,7 triliun. Tapi kami tidak protes karena sadar negara sedang membutuhkan uang mengatasi wabah," sebut Gatot.

Meski begitu Kemenpora meminta kepada cabor supaya tidak merasa melankolis karena negara-negara lain di dunia juga merasakan hal yang sama seperti Indonesia. Kemenpora tinggal mengolah anggaran yang ada dengan menerapkan skala prioritas sesuai kebutuhan.

Menyoal protokol kesehatan, Gatot menyebut Kemenpora saat ini sudah mulai menyiapkan skenario yang akan dikeluarkan ketika pemerintah menyatakan berakhirnya pandemi Covid-19 di Indonesia. Seperti misalnya, protokol persentase penonton yang bisa masuk ke venue pertandingan.

Namun, Kemenpora baru akan mengeluarkan protokol tersebut semacam Gugus Tugas maupun Kementerian Kesehatan belum memberikan izin. Kemenpora sampai saat ini belum bisa berkompromi soal penyelenggaraan event olahraga karena menomorsatukan kesehatan atlet dan masyarakat.

"Pengawasannya nanti kami akan duduk bareng dengan pihak-pihak yang punya kepentingan untuk sama-sama mengawasi. Selama itu belum berjalan, cabor dituntut kreatif dan tetap terus bergerak latihan supaya bisa cepat beradaptasi saat kondisi kembali normal," ujar Gatot. (TTF/jun)