Hamilton Kritik F1 yang Tak Respons Kematian George Floyd

CNN Indonesia | Senin, 01/06/2020 16:59 WIB
Mercedes' British driver Lewis Hamilton celebrates after winning his fourth Formula One world title despite finishing the Mexican Grand Prix in ninth place, at the Hermanos Rodriguez circuit in Mexico City on October 29, 2017. / AFP PHOTO / Alfredo ESTRELLA Lewis Hamilton. (AFP PHOTO / Alfredo ESTRELLA)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juara bertahan Formula One (F1Lewis Hamilton mengkritik para pebalap dan publik F1 yang dianggapnya diam menyusul kematian George Floyd.

Hamilton kecewa dengan rekan sesama pembalap yang hingga kini belum merespons kematian Floyd. Sebagai satu-satunya pembalap kulit hitam di ajang F1, Hamilton mengaku sangat kecewa.

"Saya melihat kalian yang tetap diam, beberapa di antara kalian bintang besar, tapi kalian tetap diam di tengah ketidakadilan ini. Tidak ada tanda-tanda dari industri saya [F1] yang tentunya didominasi orang kulit putih," tulis Hamilton melalui Instagram.


"Saya satu-satunya pebalap kulit berwarna, tapi tetap saya berdiri sendirian. Saya ingin berpikir saat ini kalian melihat kenapa ini terjadi dan mengatakan sesuatu, tapi kalian tidak bisa berdiri di samping saya. Ketahuilah sekarang saya tahu siapa kalian, dan saya bisa melihat kalian," sambung Hamilton dikutip dari The Guardian.

Floyd meninggal kehabisan napas di Minneapolis, 25 Mei lalu, setelah polisi bernama Derek Chauvin menekan lehernya menggunakan lutut saat berusaha menangkap Floyd karena dugaan belanja menggunakan uang palsu.

Hamilton menolak aksi protes yang berujung penjarahan dan pembakaran. Pembalap Mercedes berharap kesetaraan ras terwujud di seluruh dunia.

[Gambas:Video CNN]
"Saya tidak mendukung mereka yang menjarah dan membakar gedung, tapi mereka yang protes secara damai. Tidak akan ada kedamaian sampai orang yang kita anggap sebagai pemimpin membuat perubahan. Ini bukan hanya Amerika Serikat, ini adalah Inggris, Spanyol, Italia dan seluruh dunia," tulis Hamilton.

"Cara orang minoritas diperlakukan harus berubah, bagaimana Anda mendidik mereka mengenai kesetaraan, rasialisme, klasisisme, dan bahwa kita semua sama. Kami tidak lahir dengan rasialisme dan rasa benci di hati, ini diajarkan oleh mereka yang kita anggap sebagai panutan," sambung juara dunia F1 enam kali tersebut. (har/jun)