TESTIMONI
Thoriq Alkatiri, Wasit Kenyang Teror dan Mimpi ke Piala Dunia
Thoriq Alkatiri | CNN Indonesia
Kamis, 11 Jun 2020 19:49 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Cukup banyak pengalaman saya saat menjadi wasit. Ketika ambil lisensi FIFA pada 2014 juga jadi pengalaman tersendiri. Waktu itu tidak ada rencana ambil lisensi FIFA. Cuma dulu usia pas 25, jadi didaftarkan. Saat itu berdekatan dengan tanggal pernikahan saya.
Sebelum ambil lisensi FIFA saya memang ada rencana menikah. Akhirnya ambil FIFA di Brunei Darussalam, di sana kursus selama satu minggu. Waktunya itu 20 hari sebelum tanggal pernikahan. Calon istri saya waktu itu santai saja.
Sama seperti profesi lain, jadi wasit juga ada suka dan duka. Sukanya bisa jalan-jalan ke seluruh Indonesia, ke setiap pulau. Hampir semua kota-kota besar di Indonesia pernah saya datangi, ke luar negeri juga pernah.
Sedangkan untuk dukanya, ya seperti yang selama ini terdengar lewat berita saja tentang wasit itu bagaimana? Ya ancaman teror, seperti dari suporter, lalu diteriaki dengan caci-maki. Cuma karena sudah terbiasa, ya sudah dinikmati saja, bukan masalah.
Selain itu saya juga sudah pernah kena pukul. Kena pukul sudah, kena tendang juga sudah. Kalau dipukul waktu itu di Sorong, Papua, saat Persiram Raja Ampat lawan Persipura Jayapura pada 2013 kalau tidak salah.
Saya kena pukul oleh ofisial Persiram, kejadiannya setelah babak kedua. Begitu selesai pertandingan penonton sudah penuh di garis lapangan. Itu karena saking penuhnya stadion di sana. Penuh dengan penonton dari Persipura, bukan tim tuan rumah. Kalah jumlah penonton Persiram sama Persipura.
Saat skor akhir imbang 1-1, semua penonton ke lapangan mengejar pemain. Saya sudah diamankan Polisi Militer. Tapi ada ofisial Persiram memukul dari belakang.
Waktu itu saya tidak tahu. Namun akhirnya pemain Persipura kasih tahu sambil mengejar ofisial itu, antara Boaz Solossa dan Ortizan Solossa yang kasih tahu pemukulan itu. Setelah itu semuanya beres.
Dulu suka sekali diteriaki penonton tuan rumah, apalagi kalau hasilnya kurang memuaskan bagi mereka. Tapi tidak enak disebut timnya. Memiliki kerjaan sebagai wasit sering seperti di ujung tanduk, sering jadi kambing hitam, apalagi kalau kami buat kesalahan.
Bagi kami sudah biasa, ketika ada tim kalah atau kami buat satu kesalahan lalu dibesar-besarkan. Ya tapi saya tidak kapok. Saya pun tidak tahu soal mafia wasit.
Saya tidak menyesal jadi wasit. Saya menikmatinya, saya mencintai pekerjaan jadi wasit. Kalau dihitung-hitung antara kejadian buruk dan kesenangannya, ya banyak senangnya. Dapat teman baru juga jadi kepuasan bagi seorang wasit.
Sebelum ambil lisensi FIFA saya memang ada rencana menikah. Akhirnya ambil FIFA di Brunei Darussalam, di sana kursus selama satu minggu. Waktunya itu 20 hari sebelum tanggal pernikahan. Calon istri saya waktu itu santai saja.
Lihat juga:Resmi: Jadwal MotoGP 2020, Total 13 Balapan |
Sama seperti profesi lain, jadi wasit juga ada suka dan duka. Sukanya bisa jalan-jalan ke seluruh Indonesia, ke setiap pulau. Hampir semua kota-kota besar di Indonesia pernah saya datangi, ke luar negeri juga pernah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu saya juga sudah pernah kena pukul. Kena pukul sudah, kena tendang juga sudah. Kalau dipukul waktu itu di Sorong, Papua, saat Persiram Raja Ampat lawan Persipura Jayapura pada 2013 kalau tidak salah.
Thoriq Alkatiri salah satu wasit Indonesia yang saat ini memiliki lisensi FIFA. (Dok.Pribadi) |
Saat skor akhir imbang 1-1, semua penonton ke lapangan mengejar pemain. Saya sudah diamankan Polisi Militer. Tapi ada ofisial Persiram memukul dari belakang.
Waktu itu saya tidak tahu. Namun akhirnya pemain Persipura kasih tahu sambil mengejar ofisial itu, antara Boaz Solossa dan Ortizan Solossa yang kasih tahu pemukulan itu. Setelah itu semuanya beres.
Bagi kami sudah biasa, ketika ada tim kalah atau kami buat satu kesalahan lalu dibesar-besarkan. Ya tapi saya tidak kapok. Saya pun tidak tahu soal mafia wasit.
Saya tidak menyesal jadi wasit. Saya menikmatinya, saya mencintai pekerjaan jadi wasit. Kalau dihitung-hitung antara kejadian buruk dan kesenangannya, ya banyak senangnya. Dapat teman baru juga jadi kepuasan bagi seorang wasit.
Mengikuti Jejak Salim Alaydrus
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
Thoriq Alkatiri salah satu wasit Indonesia yang saat ini memiliki lisensi FIFA. (Dok.Pribadi)
Thoriq Alkatiri cedera dan berhenti bermain sepak bola saat SMA. (Dok.Pribadi)
Thoriq Alkatiri memimpin pertandingan ISL. (Dok.Pribadi)