TESTIMONI

Eko Yuli: Abaikan Kambing untuk Jemput Tiga Medali Olimpiade

Eko Yuli Irawan, CNN Indonesia | Rabu, 24/06/2020 19:00 WIB
Indonesia's Eko Yuli Irawan competes during the Men's 62kg weightlifting competition at the Rio 2016 Olympic Games in Rio de Janeiro on August 8, 2016. (Photo by Stoyan Nenov / POOL / AFP) Eko Yuli Irawan koleksi tiga medali Olimpiade. (AFP/STOYAN NENOV)
Jakarta, CNN Indonesia --

Awal saya kenal dengan angkat besi itu waktu usia 11 tahun. Di Lampung, tepatnya di Metro, di sana saya mulai latihan angkat besi.

Sama seperti anak-anak atau remaja pada umumnya, saya dan teman-teman sebenarnya suka dengan sepak bola. Entah itu bermain di sawah atau di lapangan.

Namanya di kampung, pokoknya di mana saja main bola, termasuk di halaman rumah. Lalu di sekolah ada pengumuman, sekolah sepak bola menerima murid dari sekolah. Di sana ada stadion juga.


Tetapi ternyata, sekolah sepak bola itu ada iurannya juga, ada SPP-nya, belum lagi untuk beli sepatu, beli peralatannya segala macam.

Sedangkan bagi saya untuk sekolah saja masih kekurangan, istilahnya masih susah. Masa mau dibebankan untuk sekolah sepak bola lagi.

Sampai akhirnya, suatu hari teman-teman mengajak, "Ayo nonton orang-orang angkat besi."

Tempat latihan itu tidak jauh dari rumah saya. Jaraknya mungkin hanya sekitar 200 meter dari rumah. Jadi untuk ke tempat latihan angkat besi itu saya dan teman-teman biasa jalan kaki.

Untuk seusia kami ini, di umur 11 tahun jelas awam, tidak tahu angkat besi. Ya memang dasarnya hobi olahraga, kepingin olahraga. Dari nonton itu akhirnya ditawari latihan angkat besi. Dicoba satu hari, dua hari.

Lifter putra Jatim Eko Yuli Irawan bersiap melakukan angkatan clean and jerk pada perlombaan kelas 62 kg PON XIX di Gor Sabilulungan, Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, Jabar, Selasa (20/9). Eko Yuli Irawan meraih emas setelah berhasil melakukan total angkatan 307 kg, sementara medali perak diraih lifter Jabar M Hasbi dengan total angkatan 280 kg dan medali perunggu diraih lifter Sumsel Ardiansyah dengan total angkatan 262 kg. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww/16.Sejak awal Eko Yuli memiliki potensi untuk bersinar di angkat besi. (Wahyu Putro)

Lalu keterusan. Setelah itu mulai ada keseriusan, hingga lama-lama sampai 10 bulan latihan rutin. Kemudian diberikan kesempatan, diajak tanding di kejuaraan nasional remaja, dan saya dapat medali emas.

Orang tua saya awalnya tidak tahu kalau anaknya ikut latihan angkat besi. Saya tidak ngomong dengan orang tua kalau latihan angkat besi. Karena saya juga masih punya tugas menjaga kambing.

Tapi akhirnya orang tua tahu juga. Orang tua saya tidak antusias dengan kegiatan saya latihan angkat besi. Orang tua hanya berpesan, jangan sampai tugas saya menjaga kambing-kambing itu sampai ditinggalkan karena latihan angkat besi. Karena, kambing-kambing itu kan punya orang lain, bukan punya kami. Jadi tanggung jawab saya sebenarnya ada di situ.

Bahkan, mungkin dua bulan sebelum kejuaraan nasional remaja itu pelatih saya yang di Metro datang ke rumah. Pelatih menjelaskan kepada orang tua saya. "Kalau anak bapak ibu ini punya potensi di angkat besi. Kalau terus didukung bisa juara."

[Gambas:Video CNN]

Hanya saja, lagi-lagi orang tua saya cuma menekankan, "Yang penting tugas jaga kambing tidak dilupakan."

Ya sudah, latihan angkat besi saya tetap berjalan. Saat jam latihan kambing-kambing itu diikat saja di sana, kan masih ada lahan kosong yang banyak rumputnya.

Saya sendiri tidak lama latihan di tempat yang dekat rumah itu. Kejuaraan nasional remaja itu akhir 2001. Tidak lama setelah itu, pada pertengahan 2002 tempat latihan angkat besi di Metro itu dibubarkan.

Karena yang bikin tempat latihan itu pembina dari Kalimantan Selatan, Yon Haryono. Jadi, saya ini masuknya perwakilan Kalsel, bukan Lampung setiap ikut kejuaraan.

Hanya saja, di Lampung itu juga sudah ada tempat pembinaan angkat besi di Pringsewu. Jadi, kesannya ada pertanyaan: "Kok ada pembinaan atlet Kalimantan Selatan di Lampung". Pembinaan atlet Kalsel itu akhirnya pindah ke Parung Panjang, Bogor.

Presiden Joko Widodo (tengah) berdialog dengan peraih medali Olimpiade Rio 2016 Tontowi Ahmad (dari kiri-kanan), Liliyana Natsir, Sri Wahyuni, dan Eko Yuli Irawan di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (24/8). Presiden mengapresiasi perolehan medali satu emas dan dua perak dari cabang bulu tangkis dan angkat besi dalam Olimpiade Rio 2016 Brasil, serta berpesan agar Kemenpora meningkatkan prestasi terutama untuk cabang olahraga yang berpotensi memperoleh medali dalam kejuaraan internasional. ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/foc/16.Eko Yuli pamer medali Olimpiade kepada Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma)

Di sana ada pengurus PABBSI buka tempat latihan. Karena, selain pembina angkat besi Kalsel, Pak Yon Haryono juga Ketua PABBSI saat itu.

Akhirnya setelah lulus SD, saya dipindahkan ke Parung Panjang. Semua yang ada di Metro, Lampung, satu paket diangkut merantau ke sana.

Atlet-atlet yang benar-benar berpotensi dan ingin merantau dipindahkan ke Parung Panjang. Ada sekitar 10 orang yang dibawa ke sana. Dari tahun 2002 itu saya latihan di Parung Panjang sampai masuk Pelatnas Angkat Besi pada 2006, dan bisa seperti sekarang ini.

Kalau cita-cita dahulu sejak kecil tidak pernah kepikiran ingin jadi atlet, jadi pesepakbola juga enggak kepikiran. Saya cuma cita-cita ingin jadi orang sukses saja, enggak tahu suksesnya dari mana. Pokoknya ingin jadi orang sukses.

Tiba-tiba ketemu dengan angkat besi, ya sudah cita-citanya ingin dapat emas Olimpiade. Yang namanya dunia olahraga kan target tertinggi di Olimpiade.

Karena sejak awal latihan di Metro, Lampung, itu saya sudah dikasih omongan dari pelatih, bahwa target atlet, ya di Olimpiade. Waktu itu momentumnya Olimpiade 2000 di Sydney, Australia, ada atlet dari Lampung (Winarni) yang mendapat medali perunggu, lalu atlet lainnya juga dapat medali.

"Kalau nanti kamu latihan rutin dan bisa juara, apalagi di Olimpiade, nanti kami bisa dapat bonus Rp1 miliar. Bisa bantu orang tua, bisa buat apa saja," kata pelatih begitu waktu itu.

Nah, maka dari itu dari sana saya ingin dapat emas Oimpiade. Dahulu kan bonus emas Olimpiade masih Rp1 miliar. Ya sudah, saya ingin juara Olimpiade.

Cuma, karena anak kecil, masih belum nalar juga, saat dapat emas di kejuaraan nasional remaja itu saya tagih soal bonus. Kan saya dapat emas, tapi kok enggak dapat hadiah apa-apa, cuma medalinya doang. Hahaha...

Akhirnya pelatih bilang, ini kan tingkatnya masih nasional. Kalau Olimpiade sudah tingkat dunia, di situ dia jelaskan semuanya.

Atlet angkat besi Indonesia Eko Yuli Irawan berusaha mengangkat beban 174 kg pada clean&Jerk kelas 62 kg Asian Games 2014 di Moolight Festival Garden, Incheon, Minggu (21/9). Walaupun gagal diangkatan tersebut Eko berhasil merebut medali perunggu. ANTARA FOTO/SAPTONO/Spt/14Tahun 2007 menjadi momen kemunculan Eko Yuli di pentas internasional. (SAPTONO)

Dari Pelatnas sejak 2006 itu saya bisa dapat medali perak di Kejuaraan Dunia Junior. Sedangkan di Kejuaraan Dunia senior di peringkat kedelapan. Tapi kan usia saya masih remaja saat itu, sedangkan lawannya juara dunia. Bisa masuk 10 besar sudah bagus.

Lalu tahun 2007 dapat emas di Kejuaraan Dunia Junior, di Kejuaraan Dunia senior dapat perunggu. Di SEA Games 2007 dapat emas. Tahun 2007 ini bisa dibilang munculnya Eko Yuli Irawan di pentas internasional. Kalau di tingkat nasional sejak saya di angkat besi sudah dapat emas terus, bisa dikatakan ditakuti untuk di kelas saya.

Istilahnya tahun 2007 itu saya ini rising star. Dapat emas di Kejuaraan Dunia Junior, di senior peringkat ketiga, dan di SEA Games dapat emas. SEA Games itu kan masuknya tingkat senior, padahal usia saya masih junior.

Masuk tahun 2008 saya ikut Olimpiade pertama di Beijing, China. Di sana tantangannya berat, karena target saya emas. Tapi akhirnya dapat perunggu, jadi harus berusaha lagi untuk dapat emas.

GIF Banner Promo Testimoni

Di Olimpiade berikutnya di London tahun 2012, juga masih dapat perunggu, tetap berusaha lagi. Ikut Olimpiade lagi tahun 2016. Lagi-lagi belum dapat emas, dapatnya perak. Harus lebih bagus lagi latihannya, saya masih banyak kekurangan yang perlu terus diperbaiki.

Dalam tiga Olimpiade berturut-turut saya disebut orang pertama yang selalu dapat medali. Saya sendiri tidak terlalu memusingkan anggapan itu. Yang penting target saya emas Olimpiade.

Jadi tidak ada kata puas sampai dengan saat ini. Susah juga sebenarnya menjelaskannya. Dibilang puas, tapi emas belum tercapai. Mau ngomong tidak puas, nanti dianggapnya tidak mensyukuri.

Saya hanya terus memotivasi diri sendiri soal target yang belum tercapai. Sampai dengan saat ini, ketika latihan menjelang kejuaraan apa pun, mau SEA Games atau lainnya, pokoknya target tetap menatap ke Olimpiade.

Triyatno dan Dua Kali Ingin Berhenti

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2