Jakarta, CNN Indonesia -- Awal saya kenal dengan angkat besi itu waktu usia 11 tahun. Di Lampung, tepatnya di Metro, di sana saya mulai latihan angkat besi.
Sama seperti anak-anak atau remaja pada umumnya, saya dan teman-teman sebenarnya suka dengan sepak bola. Entah itu bermain di sawah atau di lapangan.
Namanya di kampung, pokoknya di mana saja main bola, termasuk di halaman rumah. Lalu di sekolah ada pengumuman, sekolah sepak bola menerima murid dari sekolah. Di sana ada stadion juga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tetapi ternyata, sekolah sepak bola itu ada iurannya juga, ada SPP-nya, belum lagi untuk beli sepatu, beli peralatannya segala macam.
Sedangkan bagi saya untuk sekolah saja masih kekurangan, istilahnya masih susah. Masa mau dibebankan untuk sekolah sepak bola lagi.
Sampai akhirnya, suatu hari teman-teman mengajak, "Ayo nonton orang-orang angkat besi."
Tempat latihan itu tidak jauh dari rumah saya. Jaraknya mungkin hanya sekitar 200 meter dari rumah. Jadi untuk ke tempat latihan angkat besi itu saya dan teman-teman biasa jalan kaki.
Untuk seusia kami ini, di umur 11 tahun jelas awam, tidak tahu angkat besi. Ya memang dasarnya hobi olahraga, kepingin olahraga. Dari nonton itu akhirnya ditawari latihan angkat besi. Dicoba satu hari, dua hari.
 Sejak awal Eko Yuli memiliki potensi untuk bersinar di angkat besi. (Wahyu Putro) |
Lalu keterusan. Setelah itu mulai ada keseriusan, hingga lama-lama sampai 10 bulan latihan rutin. Kemudian diberikan kesempatan, diajak tanding di kejuaraan nasional remaja, dan saya dapat medali emas.
Orang tua saya awalnya tidak tahu kalau anaknya ikut latihan angkat besi. Saya tidak ngomong dengan orang tua kalau latihan angkat besi. Karena saya juga masih punya tugas menjaga kambing.
Tapi akhirnya orang tua tahu juga. Orang tua saya tidak antusias dengan kegiatan saya latihan angkat besi. Orang tua hanya berpesan, jangan sampai tugas saya menjaga kambing-kambing itu sampai ditinggalkan karena latihan angkat besi. Karena, kambing-kambing itu kan punya orang lain, bukan punya kami. Jadi tanggung jawab saya sebenarnya ada di situ.
Bahkan, mungkin dua bulan sebelum kejuaraan nasional remaja itu pelatih saya yang di Metro datang ke rumah. Pelatih menjelaskan kepada orang tua saya. "Kalau anak bapak ibu ini punya potensi di angkat besi. Kalau terus didukung bisa juara."
[Gambas:Video CNN]
Hanya saja, lagi-lagi orang tua saya cuma menekankan, "Yang penting tugas jaga kambing tidak dilupakan."
Ya sudah, latihan angkat besi saya tetap berjalan. Saat jam latihan kambing-kambing itu diikat saja di sana, kan masih ada lahan kosong yang banyak rumputnya.
Saya sendiri tidak lama latihan di tempat yang dekat rumah itu. Kejuaraan nasional remaja itu akhir 2001. Tidak lama setelah itu, pada pertengahan 2002 tempat latihan angkat besi di Metro itu dibubarkan.
Karena yang bikin tempat latihan itu pembina dari Kalimantan Selatan, Yon Haryono. Jadi, saya ini masuknya perwakilan Kalsel, bukan Lampung setiap ikut kejuaraan.
Hanya saja, di Lampung itu juga sudah ada tempat pembinaan angkat besi di Pringsewu. Jadi, kesannya ada pertanyaan: "Kok ada pembinaan atlet Kalimantan Selatan di Lampung". Pembinaan atlet Kalsel itu akhirnya pindah ke Parung Panjang, Bogor.
 Eko Yuli pamer medali Olimpiade kepada Presiden Joko Widodo. (ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma) |
Di sana ada pengurus PABBSI buka tempat latihan. Karena, selain pembina angkat besi Kalsel, Pak Yon Haryono juga Ketua PABBSI saat itu.
Akhirnya setelah lulus SD, saya dipindahkan ke Parung Panjang. Semua yang ada di Metro, Lampung, satu paket diangkut merantau ke sana.
Atlet-atlet yang benar-benar berpotensi dan ingin merantau dipindahkan ke Parung Panjang. Ada sekitar 10 orang yang dibawa ke sana. Dari tahun 2002 itu saya latihan di Parung Panjang sampai masuk Pelatnas Angkat Besi pada 2006, dan bisa seperti sekarang ini.
Kalau cita-cita dahulu sejak kecil tidak pernah kepikiran ingin jadi atlet, jadi pesepakbola juga enggak kepikiran. Saya cuma cita-cita ingin jadi orang sukses saja, enggak tahu suksesnya dari mana. Pokoknya ingin jadi orang sukses.
Tiba-tiba ketemu dengan angkat besi, ya sudah cita-citanya ingin dapat emas Olimpiade. Yang namanya dunia olahraga kan target tertinggi di Olimpiade.
Karena sejak awal latihan di Metro, Lampung, itu saya sudah dikasih omongan dari pelatih, bahwa target atlet, ya di Olimpiade. Waktu itu momentumnya Olimpiade 2000 di Sydney, Australia, ada atlet dari Lampung (Winarni) yang mendapat medali perunggu, lalu atlet lainnya juga dapat medali.
"Kalau nanti kamu latihan rutin dan bisa juara, apalagi di Olimpiade, nanti kami bisa dapat bonus Rp1 miliar. Bisa bantu orang tua, bisa buat apa saja," kata pelatih begitu waktu itu.
Nah, maka dari itu dari sana saya ingin dapat emas Oimpiade. Dahulu kan bonus emas Olimpiade masih Rp1 miliar. Ya sudah, saya ingin juara Olimpiade.
Cuma, karena anak kecil, masih belum nalar juga, saat dapat emas di kejuaraan nasional remaja itu saya tagih soal bonus. Kan saya dapat emas, tapi kok enggak dapat hadiah apa-apa, cuma medalinya doang. Hahaha...
Akhirnya pelatih bilang, ini kan tingkatnya masih nasional. Kalau Olimpiade sudah tingkat dunia, di situ dia jelaskan semuanya.
 Tahun 2007 menjadi momen kemunculan Eko Yuli di pentas internasional. (SAPTONO) |
Dari Pelatnas sejak 2006 itu saya bisa dapat medali perak di Kejuaraan Dunia Junior. Sedangkan di Kejuaraan Dunia senior di peringkat kedelapan. Tapi kan usia saya masih remaja saat itu, sedangkan lawannya juara dunia. Bisa masuk 10 besar sudah bagus.
Lalu tahun 2007 dapat emas di Kejuaraan Dunia Junior, di Kejuaraan Dunia senior dapat perunggu. Di SEA Games 2007 dapat emas. Tahun 2007 ini bisa dibilang munculnya Eko Yuli Irawan di pentas internasional. Kalau di tingkat nasional sejak saya di angkat besi sudah dapat emas terus, bisa dikatakan ditakuti untuk di kelas saya.
Istilahnya tahun 2007 itu saya ini rising star. Dapat emas di Kejuaraan Dunia Junior, di senior peringkat ketiga, dan di SEA Games dapat emas. SEA Games itu kan masuknya tingkat senior, padahal usia saya masih junior.
Masuk tahun 2008 saya ikut Olimpiade pertama di Beijing, China. Di sana tantangannya berat, karena target saya emas. Tapi akhirnya dapat perunggu, jadi harus berusaha lagi untuk dapat emas.
Di Olimpiade berikutnya di London tahun 2012, juga masih dapat perunggu, tetap berusaha lagi. Ikut Olimpiade lagi tahun 2016. Lagi-lagi belum dapat emas, dapatnya perak. Harus lebih bagus lagi latihannya, saya masih banyak kekurangan yang perlu terus diperbaiki.
Dalam tiga Olimpiade berturut-turut saya disebut orang pertama yang selalu dapat medali. Saya sendiri tidak terlalu memusingkan anggapan itu. Yang penting target saya emas Olimpiade.
Jadi tidak ada kata puas sampai dengan saat ini. Susah juga sebenarnya menjelaskannya. Dibilang puas, tapi emas belum tercapai. Mau ngomong tidak puas, nanti dianggapnya tidak mensyukuri.
Saya hanya terus memotivasi diri sendiri soal target yang belum tercapai. Sampai dengan saat ini, ketika latihan menjelang kejuaraan apa pun, mau SEA Games atau lainnya, pokoknya target tetap menatap ke Olimpiade.
Triyatno dan Dua Kali Ingin Berhenti
Eko Yuli lifter Indonesia pertama yang raih emas di Asian Games. (AFP/STOYAN NENOV)
Saya menikmati karier ini. Termasuk dengan segala persaingan di dalamnya. Bahkan, dengan Triyatno yang juga rekan satu tim saya bersaing.
Saya itu dengan Triyatno sama-sama sejak awal, di klub di Metro bareng-bareng, masuk pelatnas juga sama-sama sampai sekarang. Cuma masalah rezeki dan prestasi saja yang tidak bisa disamakan. Jadi kami punya 'tulisannya' masing-masing, rezekinya ada di mana.
Dahulu, waktu di Olimpiade 2012 London, Triyatno sudah dapat perak, saya dapatnya perunggu. Saya baru dapat perak di Olimpiade 2016.
Hanya saja, karena dia kelasnya di atas saya, jadi lawannya juga agak berat, peluangnya juga sedikit susah. Triyatno juga sempat cedera lutut dan dioperasi tahun 2013, sampai sekarang belum pulih benar.
Walaupun saya dengan Triyatno beda kelas, tapi saya tetap berusaha mengejar dia. Dan Triyatno juga tidak mau saya kejar.
Saya tidak memikirkan soal nanti angkatan lawan berapa. Yang penting, adalah angkatan Triyatno, karena dia kelasnya di atas saya, jadi bisa lebih kuat.
Kalau saya bisa menyamai angkatan dia, berarti kan di atas kertas saya bisa juara ketika di kelas saya. Sedangkan Triyatno sendiri yang kelasnya ada di atas juga enggak mau kalah dengan yang di bawah.
Maka dari itu dia tetap terpancing untuk tidak kalah dengan kelas yang di bawahnya. Dalam latihan, saya dan Triyatno selalu kejar-kejaran dalam catatan angkatan.
 Meski satu tim, Eko Yuli dan Triyatno tetap memiliki persaingan. (AFP PHOTO / GOH Chai Hin) |
Sama seperti atlet-atlet lainnya. Banyak hal tidak enak atau sebaliknya yang saya alami sejauh ini. Mulai dari lulus SD sudah jauh dari orang tua saja itu jadi hal yang tidak enak bagi saya.
Sejak lulus SD saya harus merantau ke Parungpanjang, Bogor, untuk berlatih angkat besi, sedangkan orang tua di Metro, Lampung. Tapi kami beruntung, semua dibiayai, uang makan dan sekolah ditanggung. Dengan begitu, orang tua tidak perlu repot-repot lagi. Orang tua hanya perlu mengurusi adik-adik saja.
Selain itu, namanya olahraga pasti pernah cedera, ada momen susahnya juga. Kalau momen sukanya tentu saja ketika juara dan diapresiasi. Seperti sekarang ini, paling tidak punya tabungan, dibanding waktu-awal-awal yang tidak punya apa-apa.
Orang tua juga sudah bisa haji, sudah dibuatkan rumah. Yang awalnya rumah kami berada di atas tanah orang, sekarang alhamdulillah sudah punya rumah, jadi sudah tenang.
 Eko Yuli mengaku dua kali ingin pensiun. (ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana) |
Atlet seperti saya ini pernah berada di titik terendah dalam karier, pernah punya rasa frustrasi dalam karier, apalagi waktu cedera. Ketika cedera kita tidak bisa berlatih, saat sedang kesusahan, pasti ada rasa ingin berhenti.
Kalau saya di kelas 62 kg itu kan harus diet terus. Ingin sekali-sekali lepas dari aturan itu. Jadi suka muncul rasa ingin lepas dahulu dan istirahat, agar tidak diet terus.
Terkadang, cedera juga memberikan tekanan. Karena latihan jadi tidak maksimal, tetapi harus terus latihan dan target jalan terus. Orang awam dan pemerintah kan tidak tahu kalau kondisi atlet sedang cedera atau tidak.
Orang-orang itu tahunya dari awal target angkat besi harus seperti ini, seperti itu. Mau enggak mau, kami terbebani dengan hal itu, karena yang seperti itu pasti kepikiran sama saya.
[Gambas:Video CNN]
Dalam situasi sulit itu, terkadang kepikiran dengan target awal karier, bahwa saya harus dapat emas Olimpiade. Emas Olimpiade saja belum tercapai, masa mau berhenti di tengah jalan.
Ya sudah, akhirnya pelan-pelan diskusi dengan pelatih. Setelah berbagi cerita dengan pelatih, akhirnya dipaksakan berpikiran positif dahulu saja. Mula-mula kondisi membaik, cedera juga membaik, motivasi naik lagi karena sudah bisa latihan lagi.
Momen-momen itu terjadi bukan waktu di awal-awal karier, saya merasakan itu dalam beberapa tahun belakangan, setelah tahun 2015 ke sini. Ada dua kali momen saya ingin berhenti sebagai atlet.
Yang paling terasa itu waktu kejuaraan Islamic Solidarity Games tahun 2017. Itu bukan kejuaraan besar. Cuma saya harus ikut itu dan tiba-tiba harus diet lagi.
 Eko Yuli masih penasaran dengan medali emas Olimpiade. (AFP/JUNG YEON-JE) |
Kalau masuk pelatnas harusnya kan tujuan kami itu di akhir. Kalau SEA Games ya di SEA Games, kalau Asian Games ya di Asian Games. Tapi Islamic Solidarity Games ini kan sama saja dengan try out.
Ditambah lagi Eko Yuli yang bertanding, pasti targetnya harus emas. Padahal kejuaraannya levelnya bukan Olimpiade atau Kejuaraan Dunia. Bukan juga level SEA Games atau regional, cuma ajang internasional dengan negara-negara Islam, tapi seolah-olah Eko Yuli sudah wajib emas.
Nanti kalau Eko cedera terus enggak dapat emas jadi cemoohan, meskipun sudah maksimal, tetap saja akan ada omongan orang di belakang. Karena tidak ada yang tahu kondisi atlet sedang cedera atau sakit. Mereka tidak tahu.
Maka dari itu, dalam kondisi tersebut kadang pikiran ingin berhenti itu muncul. Tapi setelah tenang, lalu disuruh mikir lagi bahwa saya belum dapat emas Olimpiade.
Banyak masalah cedera yang mengganggu saya. Waktu menjelang Olimpiade 2008 saya cedera hamstring, tahun 2009 cedera lutut, tahun 2012 tulang kering retak. Saat 2016 cedera lutut juga. Terakhir ingin Asian Games 2018 sempat tifus.
Oleh sebab itu, sejak awal kami memang tidak menargetkan apa-apa, karena memang tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Kalau masalah ingin dapat emas, siapa yang tidak mau medali emas.