WAWANCARA EKSKLUSIF

Iie Sumirat: Paling Menegangkan Lawan Svend Pri

CNN Indonesia | Minggu, 20/09/2020 12:31 WIB
Dalam wawancara eksklusif dengan CNNIndonesia.com, Iie Sumirat bercerita mengenai sukses di Piala Thomas hingga kegiatan usai pensiun. Iie Sumirat kini fokus melatih pemain usia muda. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Badminton adalah hobi Iie Sumirat sejak kecil. Pria kelahiran Bandung, 15 November 1950, ini dikenal masyarakat setelah namanya menjadi buah bibir pada era 70-an.

Singapura Terbuka 1972 menjadi turnamen internasional pertama yang mengangkat nama Iie Sumirat di dunia bulutangkis. Empat tahun berselang, Iie kembali mengharumkan nama Indonesia di ajang World Badminton Championship di Bangkok, Thailand.

Tak sampai di situ, pemain bulutangkis yang dijuluki Meteor dari Bandung Selatan ini juga pernah mengantarkan tim Thomas Cup Indonesia juara pada 1976 dan 1979. Iie, kala itu tergabung dalam tim yang dihuni tujuh pemain andalan Indonesia seperti Rudi Hartono dan Liem Swie King.


Memutuskan pensiun sebagai atlet bulutangkis pada 1982, Iie lebih banyak menghabiskan waktu di Bandung. Selama 38 tahun terakhir Iie memilih jalur melatih anak-anak usia dini.

CNNIndonesia.com berkesempatan berbincang dengan Iie di GOR Sarana Muda Iie Sumirat, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 52, beberapa waktu lalu. Siang itu, Iie yang mengenakan jersey bulutangkis hitam baru saja melatih sejumlah anak kecil.

Berikut hasil perbincangan CNNIndonesia.com dengan Iie Sumirat:

Apa saja kegiatan Iie Sumirat selama pensiun sebagai atlet nasional?

Ya setiap hari dari sore kadang dari pagi banyak anak-anak yang belajar bulutangkis. Seperti biasa menggeluti bulutangkis saja, sore melatih anak-anak dari jam 5 sampai jam 9 malam.

Legenda badminton Indonesia Iie Sumirat.Iie Sumirat membangun GOR untuk melatih pemain usia muda. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)

Bikin klub atau PB?

Sebenarnya klub juga ada di SGS Iie Sumirat. Seminggu hampir tiap hari karena anak-anak dibagi-bagi jadwal latihannya.

Berapa usia rata-rata yang ikut berlatih?

Ada yang pelajar, kelas 2 SD, kelas 3 SD.

Ada kegiatan lain di luar bulutangkis?

Enggak ada. Cuma ada rencana di Jawa Barat. Kemarin kita sudah ada pertemuan dan pembicaraan dengan KONI Jawa Barat mau membuat Pelatda Jawa Barat. Untuk membina anak-anak usia dini dalam rangka persiapan atlet muda berpotensi. Sudah tiga kali pertemuan. Sudah start sejak sebulan lalu.

GIF Banner Promo Testimoni

Waktu pensiun apa pertimbangannya?

Waktu pensiun satu karena memikirkan untuk ke depan, tidak mungkin bulutangkis terus. Pas setelah Thomas Cup masih sempat ke Singapore Open kemudian ke Denmark. Dari situ saya memikirkan untuk ke depan. Jadi pulang dari pelatnas di Jakarta waktu itu mengharapkan bangun lapangan (GOR bulutangkis). Alhamdulillah dari niat itu ada lapangan ini.

Sarana Muda Bandung dibangun pakai uang sendiri?

Waktu itu ada sebagian bantuan dari Pemprov (Jabar), zaman Gubernur Pak Aang Kunaefi almarhum. Sebagian lagi saya tanahnya beli pelan-pelan, dikumpul-kumpul.

Selain melatih anak-anak di GOR, Iie Sumirat pernah melatih di luar negeri?

Pernah, waktu itu ke Kamboja pada 1994 ditugaskan dari KONI pusat untuk melatih di sana. Waktu itu banyak konflik di Kamboja, ada Khmer Merah. Jadi istilahnya menghubungkan politik juga. Karena waktu itu ada TNI yang ditugaskan ke sana juga. Perginya bareng. Sampai beberapa bulan saja. Selama di sana bukan hanya melatih, tapi istilahnya mendekatkan negara kita dengan Kamboja.

Setelah itu ada melatih lagi? Di Pelatnas?

Kalau di pelatnas waktu Thomas Cup 2000 di Bukit Jalil, Malaysia. Kebetulan Pak Siregar (almarhum) Ketua Bidang Pembinaan PBSI memanggil saya, tolong dibantu untuk Thomas Cup. Pak Iie ke sana lah. Istilahnya mengawasi anak-anak berlatih. Waktu itu diperkuat Hendrawan, Taufik Hidayat, Marleve Mainaky, Ricky-Rexy, Tony Gunawan, Sigit Budiarto, Candra Wijaya. Alhamdulillah, kita waktu itu final sama China. Kita menang.

Legenda badminton Indonesia Iie Sumirat.Iie Sumirat memiliki klub SGS. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)

Menyangkut Taufik Hidayat, sejak umur berapa dia main di sini?

Dari umur 9 tahun sampai SMU. Sekolahnya di Taman Siswa terus dari situ pas 16 tahun masuk pelatnas. Dia relatif muda masuk pelatnas. Saya dulu masuk pelatnas umur 19 tahun, waktu itu sudah umur yang cukup tua.

Selain Taufik Hidayat, siapa saja atlet yang pernah bermain di SGS Iie Sumirat?

Setelah Taufik Hidayat, ada Antony Ginting lah di sini pernah diarahkan sama saya dibantu. Fajar/Alfian juga kadang di sini berlatih sama anak saya karena mereka sahabatan. Ada juga Edi Ismanto mantan pemain timnas. Halim Haryanto juga pernah, kemudian Flandy Limpele juga produk dari SGS.

SGS Iie Sumirat didirikan untuk pembibitan usia dini?

Ya, kami dari semua usia kelompok. Ada empat camp. Lokasi latihannya ada di sini, Lodaya, Cijerah, dan Antapani. Paling senior ada yang 20 tahun.

Indonesia's Taufik Hidayat returns a shot against Lee Chong Wei of Malaysia during their men's singles quarterfinals match of the Malaysia Open Badminton Superseries in Kuala Lumpur on January 13, 2012. AFP PHOTO / Saeed Khan (Photo by SAEED KHAN / AFP)Taufik Hidayat pernah dilatih Iie Sumirat. (AFP PHOTO / Saeed Khan)

Apa yang Iie Sumirat lihat dari bibit muda saat di Bandung?

Di Bandung ada banyak klub seperti Mutiara dan klub lain. Kalau saya lihat ada sih bibit-bibit, tapi yang mau jadi juara itu mau enggak anaknya latihan keras, disiplin kemudian berlatih yang betul dan punya cita-cita jadi pemain nasional. Saya selalu menerapkan latihan teknik dan fisik. Supaya mereka terbiasa.

Sebagai atlet asal Bandung, Iie Sumirat punya keinginan melihat atlet asal Bandung muncul kembali di nasional?

Mudah-mudahan. Kebetulan kemarin pak Ketua Umum KONI Provinsi Jabar itu kita sering ngobrol bahwa dibentuk Pelatda Jabar. Realisasi dari pembicaraan itu sudah ada mufakat mau dibentuk pelatda tadi. Untuk sekarang Kota Bandung ada dulu pemilihan Kota Bandung. Nanti dilaksanakan untuk kepengurusan Kota Bandung. Dari situ dilanjut ke Pelatda Jabar.

Setelah itu dibuat turnamen lokal di Bandung atau Jabar. Jadi bisa dilihat dari situ. Bisa dilihat lah ada Taufik, Ginting dan yang lainnya dari Bandung ya kan. Mereka semua dilihat dari dasar dulu.

Iie Sumirat masuk pelatnas 1969, seperti apa program latihan saat itu?

Waktu dulu saya masuk pelatnas 1969 sampai 1970. Sempat masuk tim Thomas Cup cadangan. Kemudian dari situ kita terus dilatih hanya oleh pelatih fisik saja. Waktu itu Pak Drs. Sukartono dari Bandung, kemudian ada Drs. Tahir Djide yang melatih fisik. Jadi kita tidak ada pelatih teknik seperti sekarang. Kita bareng aja berlatih sama Rudi Hartono, Liem Swie begitu saja enggak ada instruksi dari pelatih. Kalau sekarang kan pelatih khusus tunggal, ganda. Dulu mah enggak ada.

Apa saja metode latihannya?

Kalau latihan fisik programnya ada lari di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Ada skipping, ada weight training, variasilah. Kalau teknik sore dari jam 4 di Hall C yang dekat pacuan kuda dulu. Latihan setiap hari mulai Senin sampai Jumat. Sabtu libur, tapi kadang lari jauh dulu di sekitar Istora. Ya begitu-begitu aja kita latihan. Jadi kita ikut instruksi-instruksi dari senior. Waktu itu ada Muljadi, Rudi Hartono. Di antara pemain senior, dua itu aja yang sering saya minta saran bagaiamana jadi pemain itu. Akhirnya latihan berjalan terus seperti biasa.

Kapan Iie Sumirat tampil di ajang Thomas Cup?

Waktu pertama kali tampil dari 1976 (Thailand) dan 1979 (Jakarta). Dua-duanya Indonesia juara.

Kenangan apa yang masih diingat dalam dua kali juara Thomas Cup?

Yang paling menegangkan dan tanggung jawabnya sangat besar waktu dipasang tunggal pertama Thomas Cup 1979 lawan Svend Pri (Denmark). Alhamdulillah bisa mengatasi waktu itu, rubber set.

Ketegangan seperti apa?

Ya namanya juga manusia, malam sebelum pertandingan baru diumumkan bahwa akan tampil besoknya. Waktu itu masih sembilan partai. Malam pertama saya menang lawan Svend Pri. Kemudian saya lawan Morten menang rubber set juga. Kemudian saya juga tampil di ganda sama Tjun Tjun, menang juga. Total saya tiga kali tampil.

(hyg/har)