TESTIMONI

Iie Sumirat, Bukti Indonesia Lebih Hebat dari China

Iie Sumirat, CNN Indonesia | Rabu, 16/09/2020 19:00 WIB
Legenda Iie Sumirat mengungkapkan cerita ketika mengalahkan pemain China seperti Tang Xianhu dan Hou Jia Chang yang sebelumnya sangat ditakuti. Iie Sumirat salah satu legenda badminton Indonesia. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perkenalan pertama saya dengan turnamen badminton terjadi pada pertandingan di Pameran Industri Jawa Barat di Braga. Lapangan masih di luar ruang, dekat rel kereta api. Di turnamen itu saya bisa jadi juara kelompok anak-anak. Saat itu saya masih kelas 5 SD.

Setelah itu, saya terus menekuni badminton. Di 1968, saya bisa jadi juara taruna di Purwokerto. Lalu setahun kemudian, saya menjadi juara Jawa Barat.

Pada 1970, saya berhasil masuk tim Piala Thomas setelah menang seleksi untuk nomor ganda. Saya berpasangan dengan kakak, Nara Sudjana, dan mampu juara pertama pada seleksi tersebut.


Saat itu saya hanya duduk sebagai cadangan dari tim yang berhasil jadi juara Piala Thomas 1970. Saat itu masih banyak pemain yang lebih senior dari saya.

Di 1971, saya bisa jadi juara kejuaraan nasional di Yogyakarta. Hal itu membuat saya mulai bisa masuk pelatnas untuk nomor tunggal.

Legenda badminton Indonesia Iie Sumirat.Legenda badminton Indonesia Iie Sumirat. (CNN Indonesia/Huyogo Simbolon)

Begitu masuk pelatnas, sudah ada sosok Rudy Hartono di dalam. Saat itu sosok Rudy tentu terasa begitu jauh dibanding saya. Rudy Hartono pada 1968 sudah juara All England, sedangkan saya masih juara taruna tingkat nasional.

Pada awal jadi pemain pelatnas, tentu penampilan saya masih di bawah standar. Saya hanya berlatih dengan pemain-pemain yang juga ada di kelas dua.

Tidak sembarang orang bisa berlatih dengan Rudy Hartono. Rudy biasanya berlatih dengan Muljadi atau pemain yang dianggap kelas utama. Di awal masuk, saya masih jauh kelasnya dibandingkan Rudy.

Setelah terus berlatih giat akhirnya saya mulai bisa juara Singapura Open di 1972 dan 1973. Di situ saya mulai bisa sesekali berlatih dengan Rudy Hartono. Tetapi tetap tidak sering.

Kejuaraan Invitasi Asia

Pada era 70-an, China belum masuk sebagai anggota IBF. Karena itu mereka tidak bisa main di kejuaraan seperti All England. Mereka hanya bisa bertemu pemain-pemain lain di Kejuaraan Asia atau Asian Games.

GIF Banner Promo Testimoni

Di 1976 ada inisiatif menggelar Kejuaraan Invitasi Asia sebagai pertarungan pemain-pemain Asia yang berbarengan waktunya dengan All England. Saat itu mungkin ada unsur politiknya dari pihak Asia dan berupaya membuat turnamen yang bersaingan dengan All England.

Indonesia memutuskan membuat dua tim, satu tim ke All England, dan satu tim ke Kejuaraan Invitasi Asia. Rudy Hartono, Liem Swie King, dan Tjun Tjun/Johan Wahjudi ke All England. Saya dan Christian Hadinata/Ade Chandra ke Bangkok tempat Kejuaraan Invitasi Asia.

Di masa itu sempat digembar-gemborkan tidak ada yang mampu mengalahkan dua pemain China, yaitu Hou Jia Chang dan Tang Xianhu. Pada Asian Games 1974, Liem Swie King berhasil dikalahkan mereka, begitu juga di Kejuaraan Asia.

Soal kenapa Rudy Hartono tidak pernah tampil di Asian Games dan Kejuaraan Asia untuk bertemu pemain China, saya tidak tahu masalah dan alasan pasti soal itu. Seingat saya Rudy Hartono baru pertama kali bertemu pemain China di Piala Thomas 1982 saat China resmi masuk IBF.

Saat itu sering dibanding-bandingkan kekuatan pemain China terhadap pemain-pemain Indonesia yang jarang bertemu. Melihat situasi yang ada, sepertinya Indonesia terlihat ketakutan. Karena pemain-pemain China dikabarkan tidak pernah kalah.

Kata berita-berita seperti itu. Bahkan lawan-lawan yang dihadapi tidak pernah ada yang mampu memaksakan rubber set dan selalu kalah di bawah 10 angka. Kejuaraan Invitasi Asia seolah jadi penentuan.

Dalam masa persiapan, Ketua KONI Pak Suprayogi ternyata punya video pertandingan pemain China. Saya menonton video tersebut untuk mempelajari sambil terus mengasah persiapan baik teknik maupun fisik. Saat itu tidak ada pelatih teknik, hanya pelatih fisik saja yaitu Pak Tahir Djide.

Pada Kejuaraan Invitasi Asia, saya dan Danny Sartika jadi pemain yang turun di nomor tunggal. Pada kejuaraan itu sebetulnya bukan hanya Hou Jia Chang dan Tang Xianhu saja yang berbahaya. Ada Bandid Jaiyen dari Thailand, Prakash Padukone dari India, dan pemain-pemain lainnya.

Rudy Hartono, salah satu legenda bulu tangkis Indonesia. Rudy memenangi delapan titel All England sepanjang karirnya, dengan tujuh diantaranya dilakukan secara beruntun. Ia juga menjadi bagian penting Indonesia saat memenangi Piala Thomas pada tahun 1970, 1973, 1976, dan 1979. Rudy pun berhasil menjadi juara dunia pada tahun 1980.Rudy Hartono menjadi senior Iie Sumirat di Pelatnas. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)

Saya berhasil masuk semifinal dan tiga pemain lain yang ada di semifinal adalah pebulutangkis China yaitu Tang Xianhu, Hou Jia Chang, dan Luan Jin.

Saya bertemu Tang Xianhu di semifinal. Ini adalah kali pertama saya bertemu dia. Tang Xianhu sungguh luar biasa, memang termasuk kategori pemain hebat. Namun dengan modal semangat juang yang tinggi saya bisa mengalahkan Tang Xianhu.

Di babak final, saya juga berhasil menang lawan Hou Jia Chang yang saat itu memang lebih ditakuti dibandingkan Tang Xianhu. Bagi saya semangat yang tinggi didukung fisik dan stamina yang bagus jadi kunci untuk menang. Kemauan juga harus tinggi sehingga bisa berhasil.

Setelah menang lawan Hou Jia Chang, saya sempat berbincang-bincang dengannya. Hou Jia Chang dan Tang Xianhu kan berasal dari Indonesia, jadi bisa bahasa Indonesia.

"Iie pake raket apa?" kata si Hou Jia Chang.

Lalu saya jawab, "Saya pakai raket alumunium tapi senarnya nylon."

Si Hou Jia Chang kaget. Dia tak percaya saya main dengan raket tersebut. Pemain China saat itu masih pakai raket kayu, tetapi dengan senar yang bagus.

Sementara saya sudah pake raket alumunium, carbonex, tapi senarnya nylon. Senar itu saya pasang sendiri di daerah Senen. Zaman dulu tiap pemain harus memasang senar sendiri-sendiri, belum ada fasilitas langsung di PBSI.

"Elu bisa main pake senar begini?" kata Hou Jia Chang. Jadi dia kaget. Hahaha..

Selain itu, Hou Jia Chang juga penasaran dengan sosok Rudy Hartono.

"Iie, kalau elu sama Rudy menang mana?"

Lalu saya jawab,"Aah, saya masih jauh sama Rudy Hartono."

Lalu dia membalas, "Aah gak mungkin kalau kamu kalah sama Rudy Hartono kalau mainnya seperti itu."

Itulah komentar Hou Jia Chang saat saya berbincang-bincang usai pertandingan.

Selain saya dan Christian/Ade bisa juara di Kejuaraan Invitasi Asia, Rudy Hartono juga mampu juara All England dengan mengalahkan Liem Swie King di partai final.

Akhirnya tim yang pulang dari Inggris dan Bangkok bertemu dahulu di Singapura agar bisa bersama-sama tiba di Indonesia dalam satu rombongan.

Tiba di Bandara Kemayoran, pejabat dari berbagai tempat sudah menjemput kami. Suasana sungguh luar biasa. Menurut saya, sambutan seperti saat itu mungkin tidak akan terulang lagi karena begitu meriah.

Kami lalu berjumpa Gubernur dan juga diterima Presiden Soeharto. Kami juga diarak di Bandung, Surabaya, dan berbagai kota lainnya.

Kabur dan Menang di Piala Thomas 1979

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2