TESTIMONI

Aples Tecuari: Sopir Angkot dan 2 Final Pahit

Aples Tecuari, CNN Indonesia | Rabu, 11/11/2020 19:00 WIB
Aples Tecuari sempat jadi sopir angkot usai disanksi Komdis PSSI dan gagal memberikan gelar bergengsi untuk Timnas Indonesia. Foto: Dok. Pribadi
Jakarta, CNN Indonesia --

Saya cukup lama malang melintang di persepakbolaan Tanah Air. Jika dihitung-hitung lebih dari satu dekade saya bermain sepak bola di level atas.

Saya besar dan belajar sepak bola di Ifar Gunung, Sentani, Jayapura. Saya berasal dari keluarga petani di mana orang tua ingin anak-anaknya punya pendidikan yang bagus, bukan bermain sepak bola.

Setiap hari saya harus pergi bertani sepulang sekolah semasa kanak-kanak. Baru setelah selesai bantu orang tua, saya diperbolehkan main di lapangan bola bersama teman-teman.


Kami hidup susah sehingga tidak mungkin orang tua mencukupi kebutuhan saya untuk jadi pemain sepak bola, termasuk membeli sepatu. Saya sering pinjam sepatu dari teman-teman untuk bisa bermain. Kalau tidak ada yang kasih pinjam maka saya terpaksa nonton saja di pinggir lapangan.

Saya berjuang dengan segala keterbatasan itu. Tekad kuat itu berbuah manis karena karier sepak bola saya terus naik. Saya masuk PPLP Irian Jaya pada 1990, tim PON Irian Jaya, hingga akhirnya dipanggil ke Timnas Indonesia U-21.

Dari sana pintu untuk saya memperkuat Timnas Indonesia terbuka. Seingat saya, pada 1992 saya kali pertama dipanggil masuk Timnas Indonesia. Ketika itu saya baru 19 tahun.

Aples TecuariAples Tecuari lebih dari satu dekade berseragam Timnas Indonesia. (Dok. Pribadi)

Saya dipanggil ke Timnas Indonesia yang dilatih Ivan Toplak untuk Pra Piala Dunia 1994. Setelah itu, siapa pun pelatihnya, mulai dari Anatoly Polosin, Danurwindo, Henk Wullems, hingga Ivan Kolev, saya selalu terpilih masuk skuad.

Saya tidak tahu dengan pasti alasan mereka memanggil saya. Rasanya saya juga tidak pernah menanyakan soal ini. Mungkin mereka senang dengan etos kerja saya yang selalu serius di lapangan.

Jujur, saya bukan pribadi yang senang bercanda saat latihan. Saya sosok yang selalu serius begitu sudah masuk lapangan, baik itu latihan dan terutama pertandingan.

Saya tidak pernah suka jadi pemain pelengkap di tim. Dalam pikiran saya, hanya ada satu target yaitu masuk 11 pemain utama. Di manapun, Timnas Indonesia maupun klub. Ketika latihan sama teman-teman di timnas, saya serius. Saya tidak memandang ini cuma latihan, ini teman-teman saya. Tidak ada itu.

Hal itu mungkin yang membuat pelatih-pelatih senang dengan karakter saya. Mungkin mereka menilai saya dari sana. Dari etos kerja saya sejak di latihan. Selalu 100 persen saya berikan, siapa pun pelatihnya.

Pernah ada satu momen, masih saya ingat dengan baik saat Timnas Indonesia main melawan tuan rumah Yaman di Pra Piala Dunia 1998. Dua hari sebelum pertandingan, saya tidak berhenti buang air, kondisi saya tidak bagus.

Tetapi pelatih Henk Wullems bilang, "kamu pasti bisa. Semua kembali ke mental kamu. Karena saya lebih percaya kamu. Kamu harus tampil."

Sore sebelum main, kondisi saya sekitar 70-80 persen. Saya bilang ke pelatih, "Oke, kalau kamu percaya sama saya maka saya akan main. Kondisi saya tidak bagus tapi saya akan tunjukkan."

Ketika itu saya main sampai selesai dan kami menahan imbang mereka. Selesai pertandingan, pelatih bilang, "Saya tidak lihat kondisi kamu tapi saya butuh mental kamu, karena kamu luar biasa."

Kuwaiti forward Bashar Abdul Aziz (L) duels with Indonesian defender Aples Tecuari (R) during their Asian Cup match  held in Abu Dhabi stadium 04 December.The match between Kuwait and Indonesia ended  in a tie 2-2. (Photo by RABIH MOGHRABI / AFP)Aples Tecuardi termasuk sosok yang serius di setiap sesi latihan semasa masih aktif bermain. (AFP/RABIH MOGHRABI)

Saya memang pemain yang seperti itu. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membayar kepercayaan pelatih, seberat apapun kondisinya.

Sayangnya etos kerja itu tidak berbanding lurus dengan prestasi. Tidak ada gelar besar di timnas maupun klub yang pernah saya raih. Kayaknya memang bukan rezeki meraih gelar selama aktif sebagai pesepakbola ha..ha..ha..

Momen untuk jadi juara di klub sebenarnya ada. Tahun 1997 waktu itu Liga Kansas, Pelita Jaya punya skuad yang luar biasa. Kami dengan PSMS Medan kejar-kejaran di klasemen Wilayah Tengah.

Tapi situasi keamanan yang tidak kondusif membuat kompetisi dihentikan. Saya rasa itu kesempatan paling besar buat kami meraih gelar.

Kemudian pada 2001 saat tim bernama Pelita Solo, kami tidak terkalahkan hingga paruh musim. Di tengah jalan ada masalah antara pelatih Yusack Sutanto dan manajemen. Pelatih diganti dan performa kami anjlok sehingga gagal juara.

Pada 2002 saya pindah ke PSPS Pekanbaru. Materi pemain PSPS saat itu 70 persen dari skuad Timnas Indonesia di Piala Tiger 2002. Ada Kurniawan Dwi Yulianto, Bima Sakti, Sugiantoro, Hendro Kartiko, hingga Uston Nawawi.

Baru beberapa pertandingan berjalan di musim itu, saya malah kena hukuman larangan bermain selama satu tahun dari Komisi Disiplin PSSI. Perkaranya karena dianggap memukul wasit saat pertandingan melawan Persijatim.

Kami benar-benar dikerjain wasit habis-habisan di laga tandang itu. Setiap ada kesempatan bikin gol, wasit selalu membuat keputusan yang berlawanan dengan kami. Teman-teman terpancing emosi dan mereka mengejar wasit setelah pertandingan.

Setelah disanksi satu tahun, kontrak saya diputus oleh PSPS. Saya memilih kembali ke kampung halaman. Berkumpul dengan anak-anak dan istri di rumah.

Selama masa-masa itu saya sempat jadi sopir angkutan kota untuk mencari tambahan sekaligus mengisi waktu luang. Saya jadi sopir angkot sampai sanksi saya selesai.

Begitu kontrak diputus, saya enggak punya penghasilan apa-apa karena seluruhnya dari sepak bola. Kebetulan saya punya angkot tiga. Dua saya kasih orang lain untuk pegang, yang satu saya bawa sendiri.

Saya waktu itu berpikir daripada stres lebih baik saya isi waktu. Saya punya angkot tiga, daripada bengong kenapa tidak narik saja.

GIF Banner Promo Testimoni


Jadi saya coba isi waktu dengan kegiatan yang positif. Kalau sore saya ke lapangan untuk latihan, menjaga kondisi fisik. Dari pagi sampai siang saya narik angkot.

Saya cuek saja. Tidak ada perasaan yang aneh-aneh atau merasa canggung dengan pilihan saya ini. Mereka memang sempat kaget begitu melihat saya narik angkot tetapi saya bilang enggak ada bedanya saya dengan kalian.

Saya bahkan sempat ikut kompetisi lokal di Manokwari bersama mereka. Bikin tim untuk senang-senang saja karena namanya main sama sopir. Saya tetap jadi bek, kami main sambil ketawa-ketawa di turnamen itu.

Saya juga kerap jadi penengah mereka saat ada yang berantem. Kalau ada perselisihan mereka panggil saya untuk menengahi. Kadang sopir angkot sering berantem karena kadang penumpang sering pilih-pilih untuk naik angkot.

Saya menasehati mereka agar tidak terjadi perselisihan. Saya menikmati masa-masa itu meski istri tidak setuju saya jadi sopir angkot. Istri bilang tidak enak kalau dilihat orang mengingat status saya. Apalagi orang-orang juga kenal saya sebagai pesepakbola.

Tetapi saya bilang itu kan pandangan orang. Saya dengan sopir-sopir angkot itu enggak ada beda. Tidak ada salahnya juga jadi sopir angkot.

Kisah Pahit di Timnas Indonesia

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK