ANALISIS

Tanpa Messi, Barcelona Belum Menjiwai Status Medioker

Nova Arifianto, CNN Indonesia | Rabu, 25/11/2020 08:32 WIB
Kemenangan 4-0 Barcelona atas Dynamo Kiev di Liga Champions tidak menggambarkan keseluruhan pertandingan selama 90 menit. Barcelona mengalami kesulitan menghadapi Dynamo Kiev. (AP/Efrem Lukatsky)
Jakarta, CNN Indonesia --

Barcelona belum sepenuhnya menjiwai tampil sebagai tim medioker. Tampil tak meyakinkan di babak pertama, Blaugrana kemudian mencetak empat gol di babak kedua pada matchday keempat Liga Champions menghadapi Dynamo Kiev.

Tanpa sederet pilar penting, Barcelona bertamu ke markas Kiev dalam lanjutan Liga Champions. Gerard Pique, Sergio Busquets, Sergi Roberto, Frenkie de Jong, dan Lionel Messi ditinggal di Barcelona demi mendapat perawatan dan menjalani istirahat.

Oscar Mingueza, Carles Alena, Junior Firpo, dan Martin Braithwaite pun lantas menjadi pilihan dalam daftar starter selain keberadaan beberapa pemain utama tersisa seperti Marc Andre Ter Stegen dan Philippe Coutinho.


Berbekal kemenangan dari tiga matchday sebelumnya, anak asuh Ronald Koeman membutuhkan tiga poin tambahan untuk memastikan melaju ke fase gugur.

Di atas kertas, Barcelona masih menjadi unggulan kendati ditinggal pemain-pemain kunci. Namun lain hal yang terjadi di atas lapangan.

Barcelona's Lionel Messi celebrates after scoring from a penalty kick during the Champions League group G soccer match between FC Barcelona and Dynamo Kyiv at the Camp Nou stadium in Barcelona, Spain, Wednesday, Nov. 4, 2020. (AP Photo/Joan Monfort)Messi tidak ikut membela Barcelona pada matchday keempat Liga Champions. (AP Photo/Joan Monfort)

Performa yang ditampilkan pemilik lima gelar Liga Champions pada babak pertama tidak cukup impresif. Pantas kiranya jika fan Barcelona khawatir melihat performa racikan Koeman yang memadukan pemain utama, pelapis, dan pemain muda.

Tuan rumah menampilkan perlawanan yang merepotkan Barcelona yang hadir dengan setengah nyawa. Pedri, Francisco Trincao, dan Coutinho tidak bisa leluasa menguasai lini tengah dan mendominasi bola. Kondisi tersebut membuat Braithwaite mati angin.

Sementara Miralem Pjanic dan Alena pun beberapa kali kecolongan. Aliran bola Kiev beberapa kali gagal dipatahkan dua pivot Barcelona itu. Bahkan Pjanic harus mendapat kartu kuning lantaran ceroboh menjatuhkan lawan di dekat garis tengah.

GIF Banner Promo Testimoni

Pada babak pertama, Barcelona bermain layaknya tim medioker yang tidak bisa menembus pertahanan lawan dan hanya membuat bola sekadar masuk daerah sepertiga akhir lawan.

Beruntung pertahanan Barcelona masih bisa mengeliminasi peluang-peluang Kiev yang di antaranya didapatkan Carlos de Pena dan Benjamin Verbic. Mingueza yang merupakan jebolan Barcelona B cukup layak mendapat acungan jempol dalam mengisi jantung pertahanan.

Belum ada tanda Barcelona membaik hingga wasit memulai babak kedua karena Kiev justru memiliki beberapa kans unggul sesaat setelah turun minum.

Ter Stegen juga layak mendapat kredit karena melakukan beberapa aksi penyelamatan yang konsisten sehingga menghindarkan Barcelona dari ketertinggalan.

Setelah mengalami gempuran di awal babak pertama, Barcelona mengubah keadaan. Dua gol dalam jarak lima menit dari Sergino Dest dan Braithwaite cukup menyentak mental lawan.

Barcelona's Sergino Dest celebrates with his teammates after scoring his side's opening goal during the Champions League group G soccer match between Dynamo Kyiv and FC Barcelona at the Olimpiyskiy Stadium in Kyiv, Ukraine, Tuesday, Nov. 24, 2020. (AP Photo/Efrem Lukatsky)Barcelona baru bisa mencetak gol pada babak kedua. (AP Photo/Efrem Lukatsky)

Raut muka bingung dan gusar yang diperlihatkan Koeman pada babak pertama pun berangsur berubah. Mantan pemain Barcelona itu kemudian terlihat lebih tenang dan bisa sedikit pamer senyum ketika Braithwaite 'menyudahi' pertandingan lewat gol ketiga yang kemudian dilengkapi gol penutup Antoine Griezmann.

Kemenangan besar Barcelona atas Kiev menunjukkan status klub asal Catalunya yang memiliki nama besar di pentas Eropa. Namun performa yang ditunjukkan memperlihatkan anak asuh Koeman belum stabil.

Ketimbang predikat juara grup yang dimiliki Barcelona di Liga Champions, peringkat Barcelona di Liga Spanyol lebih mewakili tim saat ini yang masih mencari-cari racikan terbaik dan berjuang kembali menjadi penguasa.

Penampilan Barcelona yang jauh dari performa ketika masih merajai Eropa bisa jadi merupakan siklus dari perputaran nasib. Barcelona yang dalam masa peremajaan pemain masih membutuhkan waktu untuk mematangkan tim dan kembali stabil di papan atas.

Kiev hanya merupakan tes kecil bagi Barcelona, selanjutnya Koeman dan anak asuhnya masih akan dihadapkan pada pertandingan yang bakal menguji seberapa tangguh mereka melewati proses evolusi tim. Apakah betah berlama-lama di papan tengah, atau akan kembali dengan kekuatan baru.

(osc)

[Gambas:Video CNN]
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK