Inter Milan makin kokoh di puncak klasemen usai menang 3-0 atas AC Milan. (REUTERS/DANIELE MASCOLO).
Jakarta, CNN Indonesia --
Inter Milan melanjutkan performa bagusnya saat mengandaskan AC Milan dalam lanjutan Liga Italia akhir pekan kemarin. Kemenangan yang membuat Inter menjauh dari kejaran Rossoneri dan sangat berpeluang lari sendiri menuju juara di akhir musim.
Laga Derby Della Madonnina itu berjalan timpang. Inter bermain efektif, sementara Milan membuang-membuang peluang. Skor akhir yang mencolok, 3-0, menunjukkan betapa Inter superior dan Milan inferior.
Inter membuka keunggulan saat laga baru berjalan lima menit. Lautaro Martinez terbang bebas tanpa kawalan untuk menanduk bola hasil umpan silang Romelu Lukaku. Sundulannya menghunjam gawang Gialnuigi Donnarumma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah gol itu, Inter makin leluasa memainkan bola. Beberapa peluang kembali tercipta meski gagal berbuah gol.
Milan sebetulnya punya tiga peluang untuk menyamakan skor di babak kedua. Dua sundulan Zlatan Ibrahimovic digagalkan Samir Handanovic. Sedangkan tendangan keras Sandro Tonali kembali dihalau Handanovic.
Namun justru Inter yang kemudian menambah dua gol. Pertama lewat gol kedua Lautaro Martinez pada menit ke-57. Sontekan jarak dekatnya menerima umpan tarik dari kiri tak mampu dibendung Donnarumma.
Sementara gol ketiga tercipta sembilan menit kemudian lewat kaki Lukaku. Menggiring bola di seperempat lapangan Milan, Lukaku yang tanpa kawalan ketat melepas tendangan keras ke pojok kanan bawah Donnarumma.
Hasil ini jelas membuat Inter kokoh di puncak klasemen. Dengan koleksi 53 poin, mereka unggul empat angka dari Milan di tempat kedua.
AC Milan makin tertinggal di klasemen usai kalah 0-3 dari Inter. (AP/Antonio Calanni).
Kemenangan ini juga menunjukkan La Beneamata menjadi tim yang paling berpeluang di perburuan gelar juara. Sebab dari 23 laga musim ini yang sudah dilakoni, mereka baru dua kali kalah. Rinciannya mereka menang 16 kali dan lima kali seri.
Bahkan empat laga terakhir diakhiri dengan kemenangan secara beruntun. Sebelum dikalahkan Sampdoria 2-1 pada 6 Januari 2021 lalu, Inter juga meraih delapan kemenangan berturut-turut.
Selain menjadi tim dengan jumlah kemenangan terbanyak musim ini, Inter juga menjadi tim dengan jumlah gol paling banyak. Mereka sudah membuat 57 gol dan kebobolan 24 kali. Selisih gol 33 juga merupakan selisih paling banyak ditorehkan Inter ketimbang tim-tim lain.
Penampilan impresif Nerazzurri juga tak lepas dari moncernya kedua penyerangan mereka, Lautaro Martinez dan Lukaku. Duet ini sudah menghasilkan 30 gol untuk Inter. Rinciannya Lukaku 17 gol, dan Lautaro 13 gol.
Artinya lebih dari setengah jumlah gol Inter keseluruhan dilesakkan duet striker Argentina-Belgia tersebut.
Jika menilik lebih dalam, ada sosok Antonio Conte yang menjadi 'otak' di balik penampilan positif Inter musim ini. Conte membuat komposisi formasi dengan keseimbangan antarlini.
Selalu memakai tiga bek, Conte kerap menggunakan pakem 3-5-2 atau 3-4-1-2. Sisanya Conte pernah menggunakan 3-4-2-1 dan 3-1-4-2 masing-masing sekali.
Dari empat formasi itu, Conte lebih menemukan kekuatan Inter dengan 3-5-2. Dari 16 laga dengan formasi itu, Inter menang 12 kali, tiga imbang, dan sekali kalah. Sedangkan dalam lima laga memakai 3-4-1-2, Inter menang tiga kali dan dua laga berakhir imbang.
Formasi tiga bek, khususnya 3-5-2 dan 3-4-1-2, sejatinya membuat Inter punya fleksibilitas dalam permainan. Saat menyerang, duet Lautaro Martinez-Lukaku dapat sokongan dari Achraf Hakimi dan Ivan Perisic dari kedua sisi sayap.
Saat bertahan, kedua pemain itu juga menjadi full back yang sempurna memperkuat benteng pertahanan bersama trio bek tengah Milan Skriniar, Stefan de Vrij, dan Alessandro Bastoni.
Sementara di tengah Nicollo Barella dan Arturo Vidal, Marcelo Brozovic/Christian Eriksen tampil apik dalam transisi bertahan ke menyerang.
Racikan Conte membuat Inter benar-benar tak mau berjalan pelan. Inter terus berlari kencang, menyusul, dan akhirnya meninggalkan AC Milan.
Inter benar-benar tampil memukau musim ini. Meski diselingi beberapa kali hasil imbang, namun Inter juga meraih banyak hasil maksimal. Tiga poin demi tiga poin mereka dapatkan, khususnya dalam empat laga terakhir.
Impresifnya penampilan Inter di pentas Serie A ini juga tak lepas dari faktor x, yakni hanya satu kompetisi yang kini diikuti Lukaku dkk. Dua kompetisi sebelumnya, Liga Champions dan Coppa Italia, Inter sudah angkat koper.
Sejak Desember tahun lalu, Inter dipastikan gagal lolos dari fase grup Liga Champions. Mereka gagal bersaing dengan Real Madrid, Borussia Moenchengladbach, Shaktar Donetsk di Grup B.
Dari enam laga di grup, Inter cuma meraih sekali menang dan tiga kali seri serta dua kali kalah. Dengan hanya punya enam koleksi, Inter jadi juru kunci dan gagal terlempar ke Liga Europa usai di laga terakhir hanya bermain imbang 0-0 dengan M'Gladbach.
Romelu Lukaku produktif sebagai mesin gol Inter musim ini. (AP/Luca Bruno)
Selain itu, Inter juga tak mampu bertahan di pentas Coppa Italia. Melaju ke semifinal setelah menghentikan langkah AC Milan di perempat final, Inter harus terdepak saat bertemu Juventus.
Di leg pertama, Inter kalah 1-2 dan tak mampu membalas di leg kedua karena imbang 0-0 di markas Juventus.
Dengan tersingkirnya Inter dari dua kompetisi itu membuat mereka kini bisa memfokuskan diri pada Serie A. Mereka juga punya waktu istirahat yang lebih banyak ketimbang AC Milan dan Juventus.
Milan masih berkompetisi di Liga Europa. Sedangkan Juventus selain Liga Champions, juga masih akan tampil di final Coppa Italia.
Dengan kondisi seperti, maka Inter diunggulkan untuk terus tancap gas dan lari sendirian hingga akhir musim.
Jakarta, CNN Indonesia --
Inter Milan melanjutkan performa bagusnya saat mengandaskan AC Milan dalam lanjutan Liga Italia akhir pekan kemarin. Kemenangan yang membuat Inter menjauh dari kejaran Rossoneri dan sangat berpeluang lari sendiri menuju juara di akhir musim.
Laga Derby Della Madonnina itu berjalan timpang. Inter bermain efektif, sementara Milan membuang-membuang peluang. Skor akhir yang mencolok, 3-0, menunjukkan betapa Inter superior dan Milan inferior.
Inter membuka keunggulan saat laga baru berjalan lima menit. Lautaro Martinez terbang bebas tanpa kawalan untuk menanduk bola hasil umpan silang Romelu Lukaku. Sundulannya menghunjam gawang Gialnuigi Donnarumma.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah gol itu, Inter makin leluasa memainkan bola. Beberapa peluang kembali tercipta meski gagal berbuah gol.
Milan sebetulnya punya tiga peluang untuk menyamakan skor di babak kedua. Dua sundulan Zlatan Ibrahimovic digagalkan Samir Handanovic. Sedangkan tendangan keras Sandro Tonali kembali dihalau Handanovic.
Namun justru Inter yang kemudian menambah dua gol. Pertama lewat gol kedua Lautaro Martinez pada menit ke-57. Sontekan jarak dekatnya menerima umpan tarik dari kiri tak mampu dibendung Donnarumma.
Sementara gol ketiga tercipta sembilan menit kemudian lewat kaki Lukaku. Menggiring bola di seperempat lapangan Milan, Lukaku yang tanpa kawalan ketat melepas tendangan keras ke pojok kanan bawah Donnarumma.
Hasil ini jelas membuat Inter kokoh di puncak klasemen. Dengan koleksi 53 poin, mereka unggul empat angka dari Milan di tempat kedua.
AC Milan makin tertinggal di klasemen usai kalah 0-3 dari Inter. (AP/Antonio Calanni).
Kemenangan ini juga menunjukkan La Beneamata menjadi tim yang paling berpeluang di perburuan gelar juara. Sebab dari 23 laga musim ini yang sudah dilakoni, mereka baru dua kali kalah. Rinciannya mereka menang 16 kali dan lima kali seri.
Bahkan empat laga terakhir diakhiri dengan kemenangan secara beruntun. Sebelum dikalahkan Sampdoria 2-1 pada 6 Januari 2021 lalu, Inter juga meraih delapan kemenangan berturut-turut.
Selain menjadi tim dengan jumlah kemenangan terbanyak musim ini, Inter juga menjadi tim dengan jumlah gol paling banyak. Mereka sudah membuat 57 gol dan kebobolan 24 kali. Selisih gol 33 juga merupakan selisih paling banyak ditorehkan Inter ketimbang tim-tim lain.
Penampilan impresif Nerazzurri juga tak lepas dari moncernya kedua penyerangan mereka, Lautaro Martinez dan Lukaku. Duet ini sudah menghasilkan 30 gol untuk Inter. Rinciannya Lukaku 17 gol, dan Lautaro 13 gol.
Artinya lebih dari setengah jumlah gol Inter keseluruhan dilesakkan duet striker Argentina-Belgia tersebut.
Jika menilik lebih dalam, ada sosok Antonio Conte yang menjadi 'otak' di balik penampilan positif Inter musim ini. Conte membuat komposisi formasi dengan keseimbangan antarlini.
Selalu memakai tiga bek, Conte kerap menggunakan pakem 3-5-2 atau 3-4-1-2. Sisanya Conte pernah menggunakan 3-4-2-1 dan 3-1-4-2 masing-masing sekali.
Dari empat formasi itu, Conte lebih menemukan kekuatan Inter dengan 3-5-2. Dari 16 laga dengan formasi itu, Inter menang 12 kali, tiga imbang, dan sekali kalah. Sedangkan dalam lima laga memakai 3-4-1-2, Inter menang tiga kali dan dua laga berakhir imbang.
Formasi tiga bek, khususnya 3-5-2 dan 3-4-1-2, sejatinya membuat Inter punya fleksibilitas dalam permainan. Saat menyerang, duet Lautaro Martinez-Lukaku dapat sokongan dari Achraf Hakimi dan Ivan Perisic dari kedua sisi sayap.
Saat bertahan, kedua pemain itu juga menjadi full back yang sempurna memperkuat benteng pertahanan bersama trio bek tengah Milan Skriniar, Stefan de Vrij, dan Alessandro Bastoni.
Sementara di tengah Nicollo Barella dan Arturo Vidal, Marcelo Brozovic/Christian Eriksen tampil apik dalam transisi bertahan ke menyerang.
Racikan Conte membuat Inter benar-benar tak mau berjalan pelan. Inter terus berlari kencang, menyusul, dan akhirnya meninggalkan AC Milan.
Berkah dari Kegagalan di Liga Champions dan Coppa Italia
Duet Romelu Lukaku dan Lautaro Martinez kian mematikan di musim ini. (AP/Antonio Calanni).
Inter benar-benar tampil memukau musim ini. Meski diselingi beberapa kali hasil imbang, namun Inter juga meraih banyak hasil maksimal. Tiga poin demi tiga poin mereka dapatkan, khususnya dalam empat laga terakhir.
Impresifnya penampilan Inter di pentas Serie A ini juga tak lepas dari faktor x, yakni hanya satu kompetisi yang kini diikuti Lukaku dkk. Dua kompetisi sebelumnya, Liga Champions dan Coppa Italia, Inter sudah angkat koper.
Sejak Desember tahun lalu, Inter dipastikan gagal lolos dari fase grup Liga Champions. Mereka gagal bersaing dengan Real Madrid, Borussia Moenchengladbach, Shaktar Donetsk di Grup B.
Dari enam laga di grup, Inter cuma meraih sekali menang dan tiga kali seri serta dua kali kalah. Dengan hanya punya enam koleksi, Inter jadi juru kunci dan gagal terlempar ke Liga Europa usai di laga terakhir hanya bermain imbang 0-0 dengan M'Gladbach.
Romelu Lukaku produktif sebagai mesin gol Inter musim ini. (AP/Luca Bruno)
Selain itu, Inter juga tak mampu bertahan di pentas Coppa Italia. Melaju ke semifinal setelah menghentikan langkah AC Milan di perempat final, Inter harus terdepak saat bertemu Juventus.
Di leg pertama, Inter kalah 1-2 dan tak mampu membalas di leg kedua karena imbang 0-0 di markas Juventus.
Dengan tersingkirnya Inter dari dua kompetisi itu membuat mereka kini bisa memfokuskan diri pada Serie A. Mereka juga punya waktu istirahat yang lebih banyak ketimbang AC Milan dan Juventus.
Milan masih berkompetisi di Liga Europa. Sedangkan Juventus selain Liga Champions, juga masih akan tampil di final Coppa Italia.
Dengan kondisi seperti, maka Inter diunggulkan untuk terus tancap gas dan lari sendirian hingga akhir musim.