Liverpool vs Chelsea, 2 Pesakitan Berebut Zona Liga Champions
Duel Liverpool vs Chelsea juga bakal kembali mempertemukan dua pesaing lama, Klopp dan Tuchel. Keduanya diketahui pernah membesut dua tim yang sama di masa lalu, tapi juga belasan kali berduel untuk dua klub berbeda selama masih di Liga Jerman.
Tuchel dua kali jadi suksesor Klopp di Liga Jerman. Pertama ketika Klopp pergi dari Mainz 05 pada 2008 silam setelah melatih selama tujuh tahun. Tuchel ditunjuk menggantikan Klopp pada 2009 dan melatih sampai 2014.
Klopp sendiri saat itu menerima pinangan Borussia Dortmund dan mengabdi sebagai juru taktik di sana sampai 2015. Lagi-lagi Tuchel menggantikan Klopp yang pergi ke Inggris untuk melatih Liverpool.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Klopp kemudian menata kesuksesan bersama Liverpool ketika menjuarai Liga Champions pada 2018/2019 dan Liga Inggris pada 2019/2020. Sedangkan Tuchel selepas dari Dortmund berkelana ke PSG.
Bedanya, Tuchel hanya bisa mengantar PSG juara di kancah domestik, sementara di Liga Champions hanya 'nyaris' juara pada 2019/2020.
Secara head to head, kedua pelatih sudah 14 kali bertemu. Rinciannya 10 kali di Liga Jerman, dua kali di Liga Europa, dan dua kali di Liga Champions.
Dari 14 pertemuan dengan Jurgen Klopp, Thomas Tuchel baru menang dua kali. (AP/Frank Augstein). |
Dari seluruh pertemuan itu, Tuchel cuma menang dua kali dan sembilan kali kalah dari Klopp. Tiga laga lain berakhir imbang.
Dua pertemuan terakhir terjadi di Liga Champions 2018/2019 ketika PSG satu grup dengan Liverpool. Saat itu keduanya saling mengalahkan. Liverpool menang di pertemuan pertama 3-2, tapi PSG yang menang 201 di leg kedua.
Kini keduanya akan kembali bertarung dalam satu liga lokal yang sama. Tuchel yang baru sekitar sebulan lebih diplot sebagai pengganti Lampard di Chelsea, bakal kembali bertemu "musuh lama", Klopp yang sudah memasuki tahun keenam di Liverpool.
Meski Tuchel baru seumur jagung di Chelsea, sedangkan Klopp "lebih senior" di Liga Inggris, namun kedua pelatih itu pasti punya senjata rahasia karena sudah mengantongi kelemahan masing-masing.
Jadi duel Liverpool vs Chelsea ini nenjadi ajang persaingan menuju empat besar. Saat ini Liverpool di urutan keenam klasemen dengan 43 poin. Sedangkan Chelsea satu strip di atasnya dengan keunggulan satu angka.
Siapapun yang menang, bukan hanya menambah catatan positif bagi masing-masing pelatih tersebut, tetapi juga membuka jalan bagi kedua tim untuk masuk empat besar alias zona Liga Champions.
(osc/sry)Liverpool dan Chelsea punya kesamaan di musim ini, yakni melupakan ambisi juara Liga Inggris. Kesamaan lainnya adalah menjadi pesakitan dan kini harus berebut masuk masuk zona Liga Champions di akhir musim ini.
Tapi pertanyaannya siapa di antara dua pesakitan ini yang berhak finis di empat besar musim ini?.
The Reds maupun The Blues musim ini benar-benar tampil di luar ekspektasi. Liverpool misalnya. Musim ini benar-benar tak seperti musim lalu. Performa mereka menurun drastis, tak segarang dulu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Musim 2019/2020 menjadi tahun sangat luar biasa bagi kubu Anfiled Gank. Mereka tak cuma buka puasa gelar juara untuk pertama kali setelah 30 tahun lamanya, tetapi juga menjadi tim yang menakutkan.
Statistik Liverpool di Liga Inggris musim itu menunjukkannya. Dari 38 laga, mereka 32 kali menang dan imbang tiga kali. Hanya tiga laga yang berakhir kekalahan, itu pun pertama kali dialami di pekan ke-28 saat kalah dari Watford 0-3.
Artinya selama 27 pekan sebelumnya The Kop melesat dengan 26 menang dan cuma sekali seri. Mereka bahkan masih unggul 19 poin dari Manchester City kala itu.
Namun semua itu berubah di musim ini. Liverpool bak kembali ke masa-masa suram tahun-tahun lalu. Dari 26 laga yang sudah dimainkan Mohamed Salah cs musim ini, mereka sudah tujuh kali kalah, tujuh kali seri, dan baru mengemas 12 kemenangan.
Sebuah anomali tentunya bagi pasukan Jurgen Klopp yang di awal musim mengusung misi back to back alias dua kali juara Liga Inggris beruntun. Alih-alih menjadi tim penantang juara, Liverpool kini tak ubahnya tim medioker yang berjuang untuk bisa mendapat tiket ke kompetisi Eropa.
Selain banyak pemain utama cedera, salah satu faktor lain menurunnya performa The Reds adalah taktik usang dari Klopp. Dengan mengandalkan gegenpressing dipadukan dengan agresivitas, taktik itu rasa-rasanya mulai terbaca lawan-lawan. Para lawan tampaknya mulai bisa mengantisipasi atau bahkan punya solusi terhadap taktik Klopp.
Satu contoh Manchester City yang berhasil mempermak Liverpool di Anfield dengan skor 4-1. Terlepas dari dua blunder Alisson Becker, taktik Josep Guardiola bukti nyata, The Citizens punya cara jitu menjinakkan gegenpressing.
Liverpool di musim ini mengalami penurunan performa. (AP/Lawrence Griffiths). |
Sama-sama menekankan high pressing, namun Raheem Sterling cs lebih fleksibel dalam bertahan maupun menyerang. Sementara Liverpool agak sedikit kaku dan terlalu agresif menekan yang berujung pada kelengahan yang berhasil dimanfaatkan Man City.
Chelsea juga sebelas dua belas, terutama ketika masih di tangan Frank Lampard. Chelsea tampil angin-anginan sedari awal musim ini.
Dari 19 pertandingan bersama Lampard, Chelsea sudah menelan enam kekalahan, lima kali seri, dan hanya delapan laga meraih kemenangan. Jelas torehan itu tak sebanding dengan duit yang dikucurkan untuk membeli mahal sejumlah pemain di awal musim 2020/2021.
Faktanya, pembelian pemain-pemain sekaliber Edouard Mendy, Timo Werner, Kai Havertz, hingga Hakim Ziyech tak menjamin Chelsea menuai hasil baik. Justru letak kesalahannya pada ketidakmampuan Lampard mengaplikasikan pemain-pemainnya pada taktik dan formasi yang diturunkan.
Lampard kerap memainkan formasi 4-3-3 namun tanpa memahami keinginan para pemainnya. Werner misalnya, yang berposisi asli sebagai penyerang tengah kerap diturunkan sebagai penyerang sayap.
Alhasil permainan Chelsea cenderung monoton, minim kreatifitas, dan kaku baik dalam menyerang maupun bertahan karena beberapa pemainnya bermain tidak dalam posisi alaminya.
Taktik yang lemah itu membuat Chelsea kesulitan di tiap laga, sampai akhirnya Lampard dipecat lalu digantikan Thomas Tuchel pada Januari tahun ini.
Tuchel vs Klopp
Jurgen Klopp bakal menghadapi musuh lamanya, Thomas Tuchel yang kini melatih Chelsea. (Pool via REUTERS/NICK POTTS).
Duel Liverpool vs Chelsea juga bakal kembali mempertemukan dua pesaing lama, Klopp dan Tuchel. Keduanya diketahui pernah membesut dua tim yang sama di masa lalu, tapi juga belasan kali berduel untuk dua klub berbeda selama masih di Liga Jerman.
Tuchel dua kali jadi suksesor Klopp di Liga Jerman. Pertama ketika Klopp pergi dari Mainz 05 pada 2008 silam setelah melatih selama tujuh tahun. Tuchel ditunjuk menggantikan Klopp pada 2009 dan melatih sampai 2014.
Klopp sendiri saat itu menerima pinangan Borussia Dortmund dan mengabdi sebagai juru taktik di sana sampai 2015. Lagi-lagi Tuchel menggantikan Klopp yang pergi ke Inggris untuk melatih Liverpool.
Klopp kemudian menata kesuksesan bersama Liverpool ketika menjuarai Liga Champions pada 2018/2019 dan Liga Inggris pada 2019/2020. Sedangkan Tuchel selepas dari Dortmund berkelana ke PSG.
Bedanya, Tuchel hanya bisa mengantar PSG juara di kancah domestik, sementara di Liga Champions hanya 'nyaris' juara pada 2019/2020.
Secara head to head, kedua pelatih sudah 14 kali bertemu. Rinciannya 10 kali di Liga Jerman, dua kali di Liga Europa, dan dua kali di Liga Champions.
Dari 14 pertemuan dengan Jurgen Klopp, Thomas Tuchel baru menang dua kali. (AP/Frank Augstein). |
Dari seluruh pertemuan itu, Tuchel cuma menang dua kali dan sembilan kali kalah dari Klopp. Tiga laga lain berakhir imbang.
Dua pertemuan terakhir terjadi di Liga Champions 2018/2019 ketika PSG satu grup dengan Liverpool. Saat itu keduanya saling mengalahkan. Liverpool menang di pertemuan pertama 3-2, tapi PSG yang menang 201 di leg kedua.
Kini keduanya akan kembali bertarung dalam satu liga lokal yang sama. Tuchel yang baru sekitar sebulan lebih diplot sebagai pengganti Lampard di Chelsea, bakal kembali bertemu "musuh lama", Klopp yang sudah memasuki tahun keenam di Liverpool.
Meski Tuchel baru seumur jagung di Chelsea, sedangkan Klopp "lebih senior" di Liga Inggris, namun kedua pelatih itu pasti punya senjata rahasia karena sudah mengantongi kelemahan masing-masing.
Jadi duel Liverpool vs Chelsea ini nenjadi ajang persaingan menuju empat besar. Saat ini Liverpool di urutan keenam klasemen dengan 43 poin. Sedangkan Chelsea satu strip di atasnya dengan keunggulan satu angka.
Siapapun yang menang, bukan hanya menambah catatan positif bagi masing-masing pelatih tersebut, tetapi juga membuka jalan bagi kedua tim untuk masuk empat besar alias zona Liga Champions.
Dari 14 pertemuan dengan Jurgen Klopp, Thomas Tuchel baru menang dua kali. (AP/Frank Augstein).
Liverpool di musim ini mengalami penurunan performa. (AP/Lawrence Griffiths).