Ratu Tisha Destria sudah satu tahun mundur dari posisi Sekjen PSSI. (CNN Indonesia/Mundri Winanto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hari ini genap setahun PSSI tak punya Sekretaris Jenderal (Sekjen) definitif. Sejak Ratu Tisha Destria mundur pada 13 April 2020, PSSI belum menjalankan amanah Statuta PSSI untuk menyeleksi calon Sekjen secara terbuka.
Berdasarkan Bab VIII Pasal 61 ayat 2 di dalam revisi statuta PSSI yang disahkan pada 27 Juli 2019 saat Kongres PSSI di Hotel Mercure, Jakarta, Sekjen PSSI harus memenuhi kriteria dan kualifikasi profesional.
"Sekretaris Jenderal harus ditunjuk berdasarkan perjanjian yang diatur oleh hukum privat dan harus memenuhi kriteria dan kualifikasi profesional yang dapat dibuktikan dengan proses seleksi yang transparan dan akuntabel." Begitu bunyi pasal tersebut.
Setelah Tisha mundur, tepatnya pada 20 April 2020, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan menunjuk Yunus Nusi menjadi pelaksana tugas (Plt). Walau dikritik publik karena Yunus merupakan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI dan Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Kalimantan Timur, Iriawan bergeming.
Lelaki yang biasa disapa Iwan Bule itu mengatakan, bakal mencari Sekjen setelah Piala Dunia U-20 2021. Sayangnya, meski Piala Dunia U-20 2021 resmi dinyatakan batal oleh AFC pada Desember 2020, Iriawan tak kunjung membuka proses seleksi seperti diamanatkan statuta.
Pengamat sepak bola nasional, Tommy Welly mengatakan, PSSI hanya mengedepankan status quo. Menurutnya, tak ada organisasi di seluruh dunia, apalagi federasi sepak bola, yang jabatan administratifnya diisi sosok sementara selama satu tahun.
"Padahal, kan, sudah jelas-jelas melanggar statuta dengan yang menjabat Plt yang sekarang. Karena dia Exco, fungsi dan tugas Exco kan berbeda dengan Sekjen. Itu satu. Kedua, dia juga masih menjabat sebagai ketua PSSI Kalimantan Timur. Di statuta jelas-jelas dikatakan Sekjen tidak boleh menjadi bagian atau menjabat sebagai delegate," kata Tommy.
Haruna Soemitro, anggota Exco PSSI mengatakan, Sekjen PSSI (definitif) akan disahkan dalam Kongres PSSI 2021. Rencananya, Kongres PSSI tahun ini akan berlangsung pada 29 Mei. Tanggal ini ditetapkan dalam rapat Exco PSSI pada 27 Januari 2021.
Menurut Haruna, proses pencarian Sekjen tak rumit. Yunus yang telah menjadi Plt Sekjen hampir setahun dianggap sebagai bagian dari proses seleksi. Bahkan, ini dianggapnya sebagai proses terbuka sebagaimana diamanatkan Statuta PSSI.
"Masak sih rumit gitu? Menetapkan pak Yunus (Nusi) jadi Sekjen definitif kan sama saja sudah seleksi terbuka selama 1 tahun? Pokoknya saya vote pak Yunus untuk ditetapkan sebagai Sekjen definitif," kata Haruna melalui pesan singkat kepada CNN Indonesia pada Senin (12/4).
Anggota Exco PSSI lainnya, Hasani Abdulgani menganggap situasi dan kondisi saat ini belum mendesak untuk pencarian sosok Sekjen PSSI. Ia mengakui, secara organisasi tidak elok ada Plt Sekjen sampai satu tahun, tetapi secara pribadi jika organisasi tetap berjalan bukan sebuah masalah.
"Kalau di dalam Statuta PSSI memang tidak disebutkan berapa lama. Durasi tidak disebutkan. Hanya selama diperlukan. Tapi, saya melihat dari angle yang berbeda. Karena situasi kan tidak normal sekarang dalam kondisi pandemi, sepak bola kan tidak jalan," Hasani menjelaskan.
Bung Towel, sapaan akrab Tommy Welly mengatakan, sebagai Plt Sekjen Yunus Nusi banyak blundernya. Salah satu yang paling fatal adalah penunjukan Persija sebagai wakil Indonesia dalam Piala AFC 2021, mendampingi Bali United.
Padahal, dalam Entry Manual for AFC Club Competition 2021 Edition, tepatnya pasal 9.1, AFC menjelaskan klub yang bisa tampil di Piala AFC 2021 harus memiliki salah satu syarat, yakni juara liga, juara turnamen (Piala Indonesia), peringkat kedua liga, peringkat ketiga liga, dan peringkat keempat liga.
Persipura pun protes dengan keputusan tersebut. Bukannya meminta maaf atas putusan yang keliru itu, PSSI lewat Yunus malah membuang badan. "Soal protes dari Persipura sudah kami sampaikan ke AFC. Jadi, sekarang kami tinggal menunggu penentuan dari AFC," ucap Yunus pada 19 Desember 2020.
Blunder lainnya, menurut Tommy, Sekjen PSSI selalu lambat memberi informasi tentang putusan dari AFC ke publik. Padahal, sebelum diumumkan oleh AFC, setiap federasi termasuk PSSI, terlebih dahulu mendapat informasi berupa surat resmi keputusan.
"Yang paling terasa (kinerja Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi) hubungan dengan AFC, dengan konfederasi. Menurut saya komunikasi dengan konfederasi sangat lambat. Saya pikir sekarang ini tidak ada yang peduli lagi dengan jabatan Plt Sekjen yang sudah setahun. Bahkan voters pun tidak ada yang keberatan dengan status Plt tersebut," katanya.
Namun, Hasani beda pendapat. Menurutnya, Yunus bekerja cukup baik sebagai Plt Sekjen. Hasani pun pernah berbicara langsung kepada Yunus mengenai posisi Sekjen dan Exco yang berbenturan. Hasani mengingatkan, jika Yunus ingin menjadi Sekjen PSSI harus mundur dari Exco PSSI dan Ketua Asprov PSSI Kaltim.
"Saya katakan, kalau sebagai teman Exco, kami support. Kan, pilihannya ada di Pak Yunus sebagai calon Sekjen dan Ketua Umum yang membutuhkan Kesekjenan. Kami Exco menerima setelah ada calon kami seleksi, tapi kami tidak bisa mengganti. Itu hak ketua umum," ucap Hasani.
Sejauh ini, menurut Hasani, belum ada pembahasan soal seleksi Sekjen PSSI. Jika Haruna mengatakan bakal ditetapkan saat Kongres PSSI pada Mei nanti, Hasani malah belum tahu.
"Kalau akan dibuka seleksi kami (Exco) akan diundang dalam rapat internal. Secara resmi kami belum ada diundang untuk rapat tersebut. Bisa jadi saat kongres, bisa jadi sebelum kongres. Yang punya hak untuk mempertanyakan adalah pemilik suara," kata Hasani.
Jakarta, CNN Indonesia --
Hari ini genap setahun PSSI tak punya Sekretaris Jenderal (Sekjen) definitif. Sejak Ratu Tisha Destria mundur pada 13 April 2020, PSSI belum menjalankan amanah Statuta PSSI untuk menyeleksi calon Sekjen secara terbuka.
Berdasarkan Bab VIII Pasal 61 ayat 2 di dalam revisi statuta PSSI yang disahkan pada 27 Juli 2019 saat Kongres PSSI di Hotel Mercure, Jakarta, Sekjen PSSI harus memenuhi kriteria dan kualifikasi profesional.
"Sekretaris Jenderal harus ditunjuk berdasarkan perjanjian yang diatur oleh hukum privat dan harus memenuhi kriteria dan kualifikasi profesional yang dapat dibuktikan dengan proses seleksi yang transparan dan akuntabel." Begitu bunyi pasal tersebut.
Setelah Tisha mundur, tepatnya pada 20 April 2020, Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan menunjuk Yunus Nusi menjadi pelaksana tugas (Plt). Walau dikritik publik karena Yunus merupakan anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI dan Ketua Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI Kalimantan Timur, Iriawan bergeming.
Lelaki yang biasa disapa Iwan Bule itu mengatakan, bakal mencari Sekjen setelah Piala Dunia U-20 2021. Sayangnya, meski Piala Dunia U-20 2021 resmi dinyatakan batal oleh AFC pada Desember 2020, Iriawan tak kunjung membuka proses seleksi seperti diamanatkan statuta.
Pengamat sepak bola nasional, Tommy Welly mengatakan, PSSI hanya mengedepankan status quo. Menurutnya, tak ada organisasi di seluruh dunia, apalagi federasi sepak bola, yang jabatan administratifnya diisi sosok sementara selama satu tahun.
"Padahal, kan, sudah jelas-jelas melanggar statuta dengan yang menjabat Plt yang sekarang. Karena dia Exco, fungsi dan tugas Exco kan berbeda dengan Sekjen. Itu satu. Kedua, dia juga masih menjabat sebagai ketua PSSI Kalimantan Timur. Di statuta jelas-jelas dikatakan Sekjen tidak boleh menjadi bagian atau menjabat sebagai delegate," kata Tommy.
Haruna Soemitro, anggota Exco PSSI mengatakan, Sekjen PSSI (definitif) akan disahkan dalam Kongres PSSI 2021. Rencananya, Kongres PSSI tahun ini akan berlangsung pada 29 Mei. Tanggal ini ditetapkan dalam rapat Exco PSSI pada 27 Januari 2021.
Menurut Haruna, proses pencarian Sekjen tak rumit. Yunus yang telah menjadi Plt Sekjen hampir setahun dianggap sebagai bagian dari proses seleksi. Bahkan, ini dianggapnya sebagai proses terbuka sebagaimana diamanatkan Statuta PSSI.
"Masak sih rumit gitu? Menetapkan pak Yunus (Nusi) jadi Sekjen definitif kan sama saja sudah seleksi terbuka selama 1 tahun? Pokoknya saya vote pak Yunus untuk ditetapkan sebagai Sekjen definitif," kata Haruna melalui pesan singkat kepada CNN Indonesia pada Senin (12/4).
Anggota Exco PSSI lainnya, Hasani Abdulgani menganggap situasi dan kondisi saat ini belum mendesak untuk pencarian sosok Sekjen PSSI. Ia mengakui, secara organisasi tidak elok ada Plt Sekjen sampai satu tahun, tetapi secara pribadi jika organisasi tetap berjalan bukan sebuah masalah.
"Kalau di dalam Statuta PSSI memang tidak disebutkan berapa lama. Durasi tidak disebutkan. Hanya selama diperlukan. Tapi, saya melihat dari angle yang berbeda. Karena situasi kan tidak normal sekarang dalam kondisi pandemi, sepak bola kan tidak jalan," Hasani menjelaskan.
Rapor Yunus Nusi
Yunus Nusi merangkap jabatan sebagai Exco dan juga Plt Sekjen PSSI. (CNN Indonesia/ Adhi Wicaksono)
Bung Towel, sapaan akrab Tommy Welly mengatakan, sebagai Plt Sekjen Yunus Nusi banyak blundernya. Salah satu yang paling fatal adalah penunjukan Persija sebagai wakil Indonesia dalam Piala AFC 2021, mendampingi Bali United.
Padahal, dalam Entry Manual for AFC Club Competition 2021 Edition, tepatnya pasal 9.1, AFC menjelaskan klub yang bisa tampil di Piala AFC 2021 harus memiliki salah satu syarat, yakni juara liga, juara turnamen (Piala Indonesia), peringkat kedua liga, peringkat ketiga liga, dan peringkat keempat liga.
Persipura pun protes dengan keputusan tersebut. Bukannya meminta maaf atas putusan yang keliru itu, PSSI lewat Yunus malah membuang badan. "Soal protes dari Persipura sudah kami sampaikan ke AFC. Jadi, sekarang kami tinggal menunggu penentuan dari AFC," ucap Yunus pada 19 Desember 2020.
Blunder lainnya, menurut Tommy, Sekjen PSSI selalu lambat memberi informasi tentang putusan dari AFC ke publik. Padahal, sebelum diumumkan oleh AFC, setiap federasi termasuk PSSI, terlebih dahulu mendapat informasi berupa surat resmi keputusan.
"Yang paling terasa (kinerja Plt Sekjen PSSI Yunus Nusi) hubungan dengan AFC, dengan konfederasi. Menurut saya komunikasi dengan konfederasi sangat lambat. Saya pikir sekarang ini tidak ada yang peduli lagi dengan jabatan Plt Sekjen yang sudah setahun. Bahkan voters pun tidak ada yang keberatan dengan status Plt tersebut," katanya.
Namun, Hasani beda pendapat. Menurutnya, Yunus bekerja cukup baik sebagai Plt Sekjen. Hasani pun pernah berbicara langsung kepada Yunus mengenai posisi Sekjen dan Exco yang berbenturan. Hasani mengingatkan, jika Yunus ingin menjadi Sekjen PSSI harus mundur dari Exco PSSI dan Ketua Asprov PSSI Kaltim.
"Saya katakan, kalau sebagai teman Exco, kami support. Kan, pilihannya ada di Pak Yunus sebagai calon Sekjen dan Ketua Umum yang membutuhkan Kesekjenan. Kami Exco menerima setelah ada calon kami seleksi, tapi kami tidak bisa mengganti. Itu hak ketua umum," ucap Hasani.
Sejauh ini, menurut Hasani, belum ada pembahasan soal seleksi Sekjen PSSI. Jika Haruna mengatakan bakal ditetapkan saat Kongres PSSI pada Mei nanti, Hasani malah belum tahu.
"Kalau akan dibuka seleksi kami (Exco) akan diundang dalam rapat internal. Secara resmi kami belum ada diundang untuk rapat tersebut. Bisa jadi saat kongres, bisa jadi sebelum kongres. Yang punya hak untuk mempertanyakan adalah pemilik suara," kata Hasani.