Cerita Pilu Atlet AS Kehilangan Ibu Usai Raih Perak Olimpiade

CNN Indonesia | Rabu, 04/08/2021 15:31 WIB
Atlet tolak peluru putri Amerika Serikat Raven Saunders kehilangan ibunya yang meninggal beberapa hari setelah meraih medali perak Olimpiade Tokyo. Raven Saunders kehilangan ibu usai raih perak Olimpiade Tokyo. (AFP/GIUSEPPE CACACE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Atlet tolak peluru putri Amerika Serikat Raven Saunders kehilangan ibunya yang meninggal beberapa hari setelah meraih medali perak Olimpiade Tokyo 2020.

Saunders meraih perak tolak peluru putri pada Minggu (1/8) usai mencatatkan jarak 19,79 meter. Lemparan atlet 25 tahun itu kalah dari Gong Lijiao dari China dengan catatan 20,58 meter. Sedangkan perunggu diraih Valerie Adams dari Selandia Baru dengan 19,62 meter.

Dikutip dari CNN, dua hari setelah naik podium Olimpiade Tokyo, berita duka menghampiri Saunders. Saluran televisi Live 5 News melaporkan ibu Ravens, Clarissa Saunders meninggal.


Ravens Saunders memberitahukan kabar duka itu lewat unggahan di Twitter. Dia juga berharap media sosial menghormati keluarganya yang tengah berkabung.

"Berharap media sosial untuk sementara menjaga mental saya dan keluarga," ucap Saunders.

"Ibu saya adalah wanita hebat dan akan selamanya hidup bersama saya," kata Saunders menambahkan.

USA's Raven Saunders celebrates with her national flag after placing second in the women's shot put final during the Tokyo 2020 Olympic Games at the Olympic Stadium in Tokyo on August 1, 2021. (Photo by Andrej ISAKOVIC / AFP)Raven Saunders melakukan selebrsi kontroversial usai penyerahan medali Olimpiade. (AFP/ANDREJ ISAKOVIC)

Atlet kelahiran Charleston, South Carolina itu juga mengunggah kenangan bersama ibunya, Clarissa.

"Percapakan terakhir kami adalah salah satu yang terbaik yang pernah ada. Mama, saya tahu kamu mencintai saya setiap saat dengan setiap serat di tubuhmu," tutur Saunders.

Clarssa Saunders sendiri dilaporkan sempat menyaksikan Saunders bertanding dalam acara nonton bareng di Sekolah Burke.

"Tidak berada di sana [Tokyo] sedikit mengecewakan, tapi hei, kami bersorak di sini. Dia tahu kita bersorak di sini untuknya," ucap Clarissa kepada WCSC.

[Gambas:Video CNN]

Ravel Saunders sendiri termasuk atlet yang vokal dalam memperjuangkan melawan depresi jelang Olimpiade Tokyo. Hal itu dia lakukan dengan harapan bisa membantu menghilangkan stigma soal kesehatan mental dengan berbicara terbuka.

Usai seremoni penyerahan medali Olimpiade Tokyo lalu, Saunders mengangkat tangannya membentuk 'X' di podium selama lebih dari 20 detik sebagai bentuk protes. Menurut Saunders simbol itu menggambarkan persimpangan tempat semua orang yang tertindas bertemu.

(sry/ptr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK