Greysia adalah salah satu sosok pebulutangkis veteran Indonesia yang punya jalan karier panjang. Sudah dikenal sejak usia muda, Greysia selalu jadi tumpuan nomor ganda putri Indonesia dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Perjalanan karier Greysia pun terbilang berliku dan penuh tantangan sebelum akhirnya ia bersama Apriyani bisa meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Bagaimana cerita Greysia soal perjalanan kariernya?
Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Greysia Polii:
1. Meski berusaha bermain lepas, ketegangan dan beban sebagai satu-satunya wakil di final badminton Olimpiade Tokyo tetap mengiringi. Bagaimana perasaan anda jelang final?
Beban itu pasti akan ada, jadi memang saya dan Apri tidak terlalu memikirkan ke situ. Kami punya rasa tegang juga, punya rasa nervous. Tapi itu bagus buat kami supaya adrenalin itu tetap terjaga bertanding di partai final. Justru itu menguntungkan kami supaya kami tetap fokus sampai akhir.
Greysia/Apriyani berhasil berdiri di podium tertinggi nomor ganda putri Olimpiade. (REUTERS/HAMAD I MOHAMMED)
2. Setelah juara Olimpiade, apa yang pertama terlintas di pikiran?
Kalau saya, mungkin lebih berpikir bahwa setiap bertanding ganda putri kan capek banget. Kami selalu mengeluarkan tenaga yang luar biasa, banyak banget tenaga yang kami habiskan.
Nah itu tuh tidak ada kepikiran menang juara Olimpiade, tetapi bersyukur pertandingan sudah kelar dan kami menang. Kami ada di posisi menang dan itu saja sih yang sebenarnya saya pikirkan pas posisi shuttlecock keluar. Ahirnya kelar juga ya, tidak perlu main terlalu lama. Kelar gitu tugasnya dan kami di posisi menang.
Itu yang membuat saya dan Apri bisa heboh, ketawa-ketawa. Tetapi lima menit kemudian kami sadar bahwa ini Olimpiade. Jadi Koh Didi [Eng Hian] datang. Jadi kayak mixed feeling, bisa menangis, tertawa lagi, haru luar biasa.
3. Selama ini ganda putri selalu dianggap kalah bersaing dibanding nomor lain yang lebih diunggulkan. Bagaimana kamu melihat hal itu?
Mungkin kalau saya bisa bercerita tentang pengalaman, sudah biasa bahwa ganda putri itu selalu dinomorduakan selalu targetnya, tapi memang normal karena memang kami belum ada prestasi yang membanggakan sekali.
Dari 2012 sampai 2014 kami bisa mencetak prestasi, ada breakthrough [emas Asian Games dan perunggu Kejuaraan Dunia 2015], tetapi memang belum bisa dikatakan ganda putri sebagai sebuah sektor yang bisa diandalkan sekali.
Tetapi yang namanya sudah terbiasa kita di nomor duakan, saya sih tidak kepikiran kami dinomorduakan. Saya dan pelatih dan Titun [Nitya Krishinda Maheswari], dan teman-teman [ganda putri], Apri juga, kami cuma berpikir bagaimana mencapai prestasi yang setinggi mungkin, semaksimal mungkin. Tentang yang dinomorduakan malah mencambuk kami untuk lebih berprestasi lagi.
4. Kapan pertama kali tahu ada sosok pebulutangkis bernama Apriyani Rahayu?
Kalau saya lihat Apri pertama kali di Kejurnas 2016, saat itu kami main di Solo. Saya main di Kejurnas bersama Jaya Raya. Sebelum main, kan biasanya kami menonton junior dulu.
Saya lihat Apri dan Jauza [Fadhila Sugiarto] bertanding melawan tim Djarum, kalau tak salah Ribka/Ana atau siapa gitu.
Dari situ saya mulai tahu Apri, bahwa ada pebulutangkis yang bernama Apriyani Rahayu. Eh, gak tahunya 2017 dia masuk pelatnas. Jadi sebulan setelah Kejurnas, dia masuk pelatnas.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
5. Ingatkah kapan pertama kali Apriyani cium tangan?
Dari...tidak tahu sih. Dari awal Apri memang, kalau misalnya pas lagi main atau kelar main, dia suka cium tangan begitu. Mungkin saya berpikir karena kami dari Jaya Raya, kami sudah dibiasakan.
Saya juga kalau bertemu yang lebih tua dari saya, saya pasti akan cium tangan. Kami di Jaya Raya dibiasakan untuk sungkem. Kalau ketemu yang lebih tua, pasti kami akan cium tangan.
Saya rasa karena Apri juga dari Jaya Raya, pasti saya rasa hal seperti itu sudah turun-temurun begitu. Saya rasa karena ini memang tradisi yang baik sekali yang Jaya Raya ajarkan pada kami.
Yang bisa saya tangkap adalah, ini salah satu tanda kami yang lebih senior atau kakak dihargai dan yang lebih junior hormat ke kakaknya. Ada kesinambungan perasaan batin antara kami berdua.
6. Berapa persen kamu yakin pensiun setelah insiden diskualifikasi di Olimpiade London 2012?
90 persen. Waktu 2012 itu keinginan saya mau berhenti dari bulutangkis itu 90 persen. Karena saat itu sudah tidak punya keinginan lagi, gairah untuk melanjutkan bulutangkis sebagai karier saya.
Saat itu saya punya waktu karena saya kena hukuman. Jadi di saat itu, saya coba untuk mengembalikan semuanya ke jalan yang benar. Motivasi dikembalikan lagi, traumanya dihilangkan.
Greysia/Apriyani bisa jadi juara Olimpiade setelah empat tahun berpasangan. (REUTERS/HAMAD I MOHAMMED)
Dari saat itu saya berpikiran, pada akhirnya saya tidak mau terlalu ambil pusing dengan pencapaian. Jadi saya cuma ingin menjalani, tetapi bukan berarti tidak berniat mendapat prestasi yang maksimal.
Selama Tuhan masih kasih kesempatan dan banyak orang yang dukung dan saya juga memilih untuk mau, saya yakin prestasi yang tertinggi itu akan datang. Tetapi saya tidak tahu apa dan kapan.
Saya cuma menjalani saja. Segala pencapaian itu saya serahkan semua kepada Tuhan yang bisa kontrol. Saya tidak bisa kontrol.
Itu mengubah pikiran saya pada saat itu. Saya pada akhirnya berjalan dengan kekuatan iman dan keyakinan dalam hati untuk menjalani karier.
7. Kamu genap berusia 34 tahun pada 11 Agustus. Bagaimana perbedaan ulang tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya?
Perbedaannya dikarantina. Ulang tahun sendiri nih hahaha..
Ya, bersyukur sekali. Saya selalu mempunyai pemikiran bahwa ketika saya masih dikasih hidup dan umur panjang, berarti selalu ada kesempatan saya masih bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi orang lain dan berguna untuk orang banyak.
Saya tidak memikirkan pencapaian apa yang telah saya raih, saya betul-betul tidak memikirkan pencapaian, tentang 'Saya sudah jadi apa ya, sudah jadi ini ya'. Betul-betul enggak saya pikirkan.
Selama saya masih dikasih kesempatan untuk umur panjang, saya bisa menjadi diri saya yang lebih baik dan berguna untuk orang banyak.
Greysia adalah salah satu sosok pebulutangkis veteran Indonesia yang punya jalan karier panjang. Sudah dikenal sejak usia muda, Greysia selalu jadi tumpuan nomor ganda putri Indonesia dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Perjalanan karier Greysia pun terbilang berliku dan penuh tantangan sebelum akhirnya ia bersama Apriyani bisa meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Bagaimana cerita Greysia soal perjalanan kariernya?
Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Greysia Polii:
1. Meski berusaha bermain lepas, ketegangan dan beban sebagai satu-satunya wakil di final badminton Olimpiade Tokyo tetap mengiringi. Bagaimana perasaan anda jelang final?
Beban itu pasti akan ada, jadi memang saya dan Apri tidak terlalu memikirkan ke situ. Kami punya rasa tegang juga, punya rasa nervous. Tapi itu bagus buat kami supaya adrenalin itu tetap terjaga bertanding di partai final. Justru itu menguntungkan kami supaya kami tetap fokus sampai akhir.
Greysia/Apriyani berhasil berdiri di podium tertinggi nomor ganda putri Olimpiade. (REUTERS/HAMAD I MOHAMMED)
2. Setelah juara Olimpiade, apa yang pertama terlintas di pikiran?
Kalau saya, mungkin lebih berpikir bahwa setiap bertanding ganda putri kan capek banget. Kami selalu mengeluarkan tenaga yang luar biasa, banyak banget tenaga yang kami habiskan.
Nah itu tuh tidak ada kepikiran menang juara Olimpiade, tetapi bersyukur pertandingan sudah kelar dan kami menang. Kami ada di posisi menang dan itu saja sih yang sebenarnya saya pikirkan pas posisi shuttlecock keluar. Ahirnya kelar juga ya, tidak perlu main terlalu lama. Kelar gitu tugasnya dan kami di posisi menang.
Itu yang membuat saya dan Apri bisa heboh, ketawa-ketawa. Tetapi lima menit kemudian kami sadar bahwa ini Olimpiade. Jadi Koh Didi [Eng Hian] datang. Jadi kayak mixed feeling, bisa menangis, tertawa lagi, haru luar biasa.
3. Selama ini ganda putri selalu dianggap kalah bersaing dibanding nomor lain yang lebih diunggulkan. Bagaimana kamu melihat hal itu?
Mungkin kalau saya bisa bercerita tentang pengalaman, sudah biasa bahwa ganda putri itu selalu dinomorduakan selalu targetnya, tapi memang normal karena memang kami belum ada prestasi yang membanggakan sekali.
Dari 2012 sampai 2014 kami bisa mencetak prestasi, ada breakthrough [emas Asian Games dan perunggu Kejuaraan Dunia 2015], tetapi memang belum bisa dikatakan ganda putri sebagai sebuah sektor yang bisa diandalkan sekali.
Tetapi yang namanya sudah terbiasa kita di nomor duakan, saya sih tidak kepikiran kami dinomorduakan. Saya dan pelatih dan Titun [Nitya Krishinda Maheswari], dan teman-teman [ganda putri], Apri juga, kami cuma berpikir bagaimana mencapai prestasi yang setinggi mungkin, semaksimal mungkin. Tentang yang dinomorduakan malah mencambuk kami untuk lebih berprestasi lagi.
4. Kapan pertama kali tahu ada sosok pebulutangkis bernama Apriyani Rahayu?
Kalau saya lihat Apri pertama kali di Kejurnas 2016, saat itu kami main di Solo. Saya main di Kejurnas bersama Jaya Raya. Sebelum main, kan biasanya kami menonton junior dulu.
Saya lihat Apri dan Jauza [Fadhila Sugiarto] bertanding melawan tim Djarum, kalau tak salah Ribka/Ana atau siapa gitu.
Dari situ saya mulai tahu Apri, bahwa ada pebulutangkis yang bernama Apriyani Rahayu. Eh, gak tahunya 2017 dia masuk pelatnas. Jadi sebulan setelah Kejurnas, dia masuk pelatnas.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Ajaran Cium Tangan dari Jaya Raya
Greysia Polii pertama kali mengenal Apriyani Rahayu di Kejurnas 2016. (ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRA)
5. Ingatkah kapan pertama kali Apriyani cium tangan?
Dari...tidak tahu sih. Dari awal Apri memang, kalau misalnya pas lagi main atau kelar main, dia suka cium tangan begitu. Mungkin saya berpikir karena kami dari Jaya Raya, kami sudah dibiasakan.
Saya juga kalau bertemu yang lebih tua dari saya, saya pasti akan cium tangan. Kami di Jaya Raya dibiasakan untuk sungkem. Kalau ketemu yang lebih tua, pasti kami akan cium tangan.
Saya rasa karena Apri juga dari Jaya Raya, pasti saya rasa hal seperti itu sudah turun-temurun begitu. Saya rasa karena ini memang tradisi yang baik sekali yang Jaya Raya ajarkan pada kami.
Yang bisa saya tangkap adalah, ini salah satu tanda kami yang lebih senior atau kakak dihargai dan yang lebih junior hormat ke kakaknya. Ada kesinambungan perasaan batin antara kami berdua.
6. Berapa persen kamu yakin pensiun setelah insiden diskualifikasi di Olimpiade London 2012?
90 persen. Waktu 2012 itu keinginan saya mau berhenti dari bulutangkis itu 90 persen. Karena saat itu sudah tidak punya keinginan lagi, gairah untuk melanjutkan bulutangkis sebagai karier saya.
Saat itu saya punya waktu karena saya kena hukuman. Jadi di saat itu, saya coba untuk mengembalikan semuanya ke jalan yang benar. Motivasi dikembalikan lagi, traumanya dihilangkan.
Greysia/Apriyani bisa jadi juara Olimpiade setelah empat tahun berpasangan. (REUTERS/HAMAD I MOHAMMED)
Dari saat itu saya berpikiran, pada akhirnya saya tidak mau terlalu ambil pusing dengan pencapaian. Jadi saya cuma ingin menjalani, tetapi bukan berarti tidak berniat mendapat prestasi yang maksimal.
Selama Tuhan masih kasih kesempatan dan banyak orang yang dukung dan saya juga memilih untuk mau, saya yakin prestasi yang tertinggi itu akan datang. Tetapi saya tidak tahu apa dan kapan.
Saya cuma menjalani saja. Segala pencapaian itu saya serahkan semua kepada Tuhan yang bisa kontrol. Saya tidak bisa kontrol.
Itu mengubah pikiran saya pada saat itu. Saya pada akhirnya berjalan dengan kekuatan iman dan keyakinan dalam hati untuk menjalani karier.
7. Kamu genap berusia 34 tahun pada 11 Agustus. Bagaimana perbedaan ulang tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya?
Perbedaannya dikarantina. Ulang tahun sendiri nih hahaha..
Ya, bersyukur sekali. Saya selalu mempunyai pemikiran bahwa ketika saya masih dikasih hidup dan umur panjang, berarti selalu ada kesempatan saya masih bisa menjadi pribadi yang lebih baik dan berguna bagi orang lain dan berguna untuk orang banyak.
Saya tidak memikirkan pencapaian apa yang telah saya raih, saya betul-betul tidak memikirkan pencapaian, tentang 'Saya sudah jadi apa ya, sudah jadi ini ya'. Betul-betul enggak saya pikirkan.
Selama saya masih dikasih kesempatan untuk umur panjang, saya bisa menjadi diri saya yang lebih baik dan berguna untuk orang banyak.