WAWANCARA EKSKLUSIF

Greysia Polii: Saya 90 Persen Ingin Pensiun di 2012

ptr, CNN Indonesia | Minggu, 15/08/2021 11:00 WIB
Greysia Polii bersama Apriyani Rahayu berhasil meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Greysia Polii. Greysia Polii bersama Apriyani Rahayu sukses memenangkan medali emas Olimpiade Tokyo 2020. (REUTERS/LEONHARD FOEGER)
Jakarta, CNN Indonesia --

Greysia Polii bersama Apriyani Rahayu berhasil meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Greysia Polii.

Greysia adalah salah satu sosok pebulutangkis veteran Indonesia yang punya jalan karier panjang. Sudah dikenal sejak usia muda, Greysia selalu jadi tumpuan nomor ganda putri Indonesia dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Perjalanan karier Greysia pun terbilang berliku dan penuh tantangan sebelum akhirnya ia bersama Apriyani bisa meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Bagaimana cerita Greysia soal perjalanan kariernya?


Berikut wawancara eksklusif CNNIndonesia.com dengan Greysia Polii:

1. Meski berusaha bermain lepas, ketegangan dan beban sebagai satu-satunya wakil di final badminton Olimpiade Tokyo tetap mengiringi. Bagaimana perasaan anda jelang final?

Beban itu pasti akan ada, jadi memang saya dan Apri tidak terlalu memikirkan ke situ. Kami punya rasa tegang juga, punya rasa nervous. Tapi itu bagus buat kami supaya adrenalin itu tetap terjaga bertanding di partai final. Justru itu menguntungkan kami supaya kami tetap fokus sampai akhir.

Tokyo 2020 Olympics - Badminton - Women's Doubles - Medal Ceremony - MFS - Musashino Forest Sport Plaza, Tokyo, Japan – August 2, 2021.  Gold medallist Greysia Polii of Indonesia places the medal on teammate Apriyani Rahayu of Indonesia. REUTERS/Hamad I MohammedGreysia/Apriyani berhasil berdiri di podium tertinggi nomor ganda putri Olimpiade. (REUTERS/HAMAD I MOHAMMED)

2. Setelah juara Olimpiade, apa yang pertama terlintas di pikiran?

Kalau saya, mungkin lebih berpikir bahwa setiap bertanding ganda putri kan capek banget. Kami selalu mengeluarkan tenaga yang luar biasa, banyak banget tenaga yang kami habiskan.

Nah itu tuh tidak ada kepikiran menang juara Olimpiade, tetapi bersyukur pertandingan sudah kelar dan kami menang. Kami ada di posisi menang dan itu saja sih yang sebenarnya saya pikirkan pas posisi shuttlecock keluar. Ahirnya kelar juga ya, tidak perlu main terlalu lama. Kelar gitu tugasnya dan kami di posisi menang.

Itu yang membuat saya dan Apri bisa heboh, ketawa-ketawa. Tetapi lima menit kemudian kami sadar bahwa ini Olimpiade. Jadi Koh Didi [Eng Hian] datang. Jadi kayak mixed feeling, bisa menangis, tertawa lagi, haru luar biasa.

3. Selama ini ganda putri selalu dianggap kalah bersaing dibanding nomor lain yang lebih diunggulkan. Bagaimana kamu melihat hal itu?

Mungkin kalau saya bisa bercerita tentang pengalaman, sudah biasa bahwa ganda putri itu selalu dinomorduakan selalu targetnya, tapi memang normal karena memang kami belum ada prestasi yang membanggakan sekali.

Dari 2012 sampai 2014 kami bisa mencetak prestasi, ada breakthrough [emas Asian Games dan perunggu Kejuaraan Dunia 2015], tetapi memang belum bisa dikatakan ganda putri sebagai sebuah sektor yang bisa diandalkan sekali.

Tetapi yang namanya sudah terbiasa kita di nomor duakan, saya sih tidak kepikiran kami dinomorduakan. Saya dan pelatih dan Titun [Nitya Krishinda Maheswari], dan teman-teman [ganda putri], Apri juga, kami cuma berpikir bagaimana mencapai prestasi yang setinggi mungkin, semaksimal mungkin. Tentang yang dinomorduakan malah mencambuk kami untuk lebih berprestasi lagi.



4. Kapan pertama kali tahu ada sosok pebulutangkis bernama Apriyani Rahayu?

Kalau saya lihat Apri pertama kali di Kejurnas 2016, saat itu kami main di Solo. Saya main di Kejurnas bersama Jaya Raya. Sebelum main, kan biasanya kami menonton junior dulu.

Saya lihat Apri dan Jauza [Fadhila Sugiarto] bertanding melawan tim Djarum, kalau tak salah Ribka/Ana atau siapa gitu.

Dari situ saya mulai tahu Apri, bahwa ada pebulutangkis yang bernama Apriyani Rahayu. Eh, gak tahunya 2017 dia masuk pelatnas. Jadi sebulan setelah Kejurnas, dia masuk pelatnas.

Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>

Ajaran Cium Tangan dari Jaya Raya

BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK