Ferry Indrasjarief: Jakmania dan Redam Dendam ke Bobotoh
CNN Indonesia
Rabu, 13 Okt 2021 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Salah satu pendiri Jakmania Ferry Indrasjarief ingin Jakmania meredam dendam ke Bobotoh. (CNN/M Rizki Haerullah)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hubungan Jakmania dan Viking awalnya sangat baik. Viking itu dulunya ada Viking Jabodetabek dan Viking Bandung. Hubungan kami cukup dekat.
Apalagi dulu kami sering membuat merchandise Jakmania di Bandung. Sampai-sampai anggota Jakmania menginap di rumah anak-anak Viking di Bandung dan sering berkumpul di Jakarta.
Waktu Liga Indonesia VI tahun 2000, Viking juga berkoordinasi dengan kami untuk datang ke Lebak Bulus, Jakarta. Kami terima dan sambut mereka dengan baik. Tapi dulu anggota Jakmania itu masih sedikit, sementara fan Persib itu banyak.
Organisasi mereka juga banyak ada Viking, ada Jurig, dan macam-macam. Saking harmonisnya waktu mereka pulang anak-anak Jakmania juga menyanyikan lagu Halo-halo Bandung.
Lalu pada Liga Indonesia VII tahun 2001 giliran kami ingin main ke Bandung. Tapi pas sampai di sana anak Viking yang menjaga kami cuma sedikit. Kemudian tiba-tiba kami mendapat serangan dari suporter Persib yang lain. Mulai dari situlah akhirnya timbul rasa dendam. Kami juga tidak tahu alasan kami diserang di Bandung.
Saya dengar salah satu alasannya karena suporter Persib pernah diserang waktu mereka tandang ke Persija Timur. Mereka tampaknya tidak tahu kalau Persija dan Persija Timur itu berbeda.
Saat kami diserang saya langsung kumpulkan delapan bus Jakmania yang sudah hadir di Bandung dan satu lagi kami tunggu kehadirannya karena masih dalam perjalanan.
Saat itu kami berangkat ke Bandung dengan 10 bus Mayasari Bakti. Namun, yang bisa sampai Bandung hanya sembilan bus. Satu bus lagi mengalami pecah ban.
Ketika itu kami datang ke Bandung dengan total 1.000 anggota lebih Jakmania. Akhirnya kami tidak bisa mendukung Persija dan harus kembali ke Jakarta. Lalu ada beberapa kejadian lagi yang membuat permusuhan Jakmania dan Viking.
Saya juga kurang setuju dengan upaya perdamaian yang hanya dilakukan dalam satu momen khusus, seperti dengan menggelar konferensi pers atau sebagainya yang sifatnya hanya seremonial.
Saya menilai perdamaian ini tidak bisa hanya dilakukan lewat media atau melalui pihak-pihak ketiga yang bisa dipolitisir.
Permusuhan itu butuh waktu untuk bisa menjadi permusuhan seperti sekarang. Apalagi perdamaian, juga butuh waktu. Jadi jangan terlalu didesak untuk damai.
Kita bicara puluhan bahkan ratusan ribu orang yang karakternya berbeda-beda, jadi tidak bisa semudah seperti mengembalikan telapak tangan.
Kampanye perdamaian boleh, tapi tidak boleh dipaksakan. Kalau saya maunya natural saja. Kita terus gencarkan kampanye perdamaian.
Saya sampaikan kepada anak-anak [anggota Jakmania] yang tidak mau damai ya sudah tidak usah dipaksa. Tapi yang mau damai silakan lanjutkan kampanye perdamaian ini. Tapi, jangan saling ganggu dan jangan saling serang satu sama lain. Lama-kelamaan saya yakin kedua suporter ini akan damai.
Saya itu mengibaratkan permusuhan ini seperti koreng. Koreng itu kalau masih basah kan masih sakit terus. Nah kita tunggu koreng itu sampai kering.
Bagaimana koreng dalam permusuhan itu bisa kering? Caranya, kita jangan saling bertemu dulu. Jangan saling menghujat dalam lagu, spanduk, kaos, atau di media sosial sampai rasa benci dan dendam itu hilang. Nah, ketika dendam dan kebencian itu hilang, maka generasi berikutnya tidak akan merasakan permusuhan lagi.
Tapi ketika nyanyian kebencian itu dimunculkan lagi dan generasi muda mendengar pasti akan menjadi warisan permusuhan terus menerus.
Padahal dulunya permusuhan ini hanya 1.000 orang yang ribut, kenapa sekarang jadi meluas seperti ini? Saya pikir untuk menghentikan permusuhan ini harus seperti itu. Apalagi orang-orang yang mengawali permusuhan itu kan sekarang sudah pada tua-tua.
Apakah kalian mau mati meninggalkan dendam? Apakah kalian mau mati mewariskan permusuhan? Apakah mau di akhirat kalian ditanya malaikat soal itu? Saat saya bicara seperti itu kepada teman-teman barulah mereka takut dan nurut. Tapi permasalahan itukan sudah mendarah daging, ya caranya pelan-pelan.
Sekarang saya juga punya tanggung jawab upaya ke arah perdamaian karena permusuhan ini kan dimulai dari zaman saya. Tapi semua keputusan ada di Ketua Umum Jakmania sekarang, saya sebagai penasihat saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi yang jelas hubungan pribadi saya dengan beberapa pentolan Viking itu sangat baik. Apalagi Kang Heru Djoko, dia itu orang yang baik sekali. Saya pergi ke Bandung juga aman. Kalau dulu kan enggak aman, karena saya sudah dianggap seperti public enemy.
Tapi sejak saya kampanyekan damai Alhamdulillah hubungan saya dengan Bobotoh bagus. Saya sering silahturahmi ke Kang Yana Umar dan juga ke pentolan Bomber Kang Asep Abdul dan lainnya. Alhamdulillah mereka welcome banget. Itu yang buat saya salut dengan orang-orang Bandung itu.
Karena saya pribadi mungkin bisa menerima mereka di Jakarta, tapi saya tidak tahu bagaimana sikap rekan-rekan saya di Jakmania. Apakah bisa menerima mereka di Jakarta, itu yang belum bisa saya pegang.
Saya dulu itu mendirikan Jakmania bersama rekan-rekan pendiri lainnya itu dari nol. Dulu awalnya kami itu suka nonton Persija di Lebak Bulus. Saya saat itu masih kuliah dan ada beberapa teman juga yang masih sekolah. Dulu harga tiket nonton pertandingan itu Rp10 ribu. Lama-kelamaan berasa juga ini jadi suporter.
Sementara waktu kami dukung Pelita Jaya kami hanya menunjukkan kartu anggota suporter [The Commandos] saja bisa gratis. Terus kami berpikir jangan-jangan kalau kita masukanggota fan klubnya Persija bisa gratis juga.
Terus kami bertanya ke manajer Persija Diza Rasyid Ali dan bertanya ke public relation (PR) Persija namanya Eddy Supadmo. Ternyata, fan Persija saat itu tidak ada. Dulu pernah ada suporter Persija tapi sudah bubar.
Jadi kami disarankan untuk membuat fan klub Persija yang baru. Terus kami datang ke Stadion Menteng [markas Persija]. Awalnya kami bingung karena kami tidak tahu cara membangun organisasi suporter.
Pertemuan pertama dan kedua dengan perwakilan Persija tidak ada hasil. Akhirnya pas pertemuan ketiga, ada rekan saya bernama Heri mengajak Gugun Gondrong [Muhammad Gunawan Hendromartono] supaya dia bisa membantu mencari jalan keluar di pertemuan ketiga.
Kemudian kami bersama Gugun Gondrong bertemu perwakilan Persija di Graha Wisata Kuningan, Jakarta. Di situ langsung mengarah ke penunjukan Ketua Umum Jakmania. Dulu di antara kami belum saling kenal, jadi kami semua sepakat menunjuk Gugun Gondrong yang sudah terkenal untuk jadi Ketua Umum Jakmania.
Awalnya Gugun kesal dan bilang 'kan saya ke sini diundang kok tiba-tiba disuruh jadi ketua'. Tapi, karena semua yang hadir [sekitar 30 orang] sudah setuju akhirnya Gugun terpilih jadi Ketua Umum Jakmania dan saya ditunjuk oleh Gugun untuk jadi Ketua 1 Jakmania.
Awalnya kami juga belum punya nama suporter. Nama Jakmania itu kami dapat waktu kami sering datang ke Stadion Menteng. Di sana ada sebuah banner berwarna merah-putih yang tulisannya 'Welcome The Jak'. Saya bertanya ke Edhy Supadmo, tulisan itu maksudnya apa? Dia menjawab itu adalah julukan Persija.
Nah tulisan itu menginspirasi kami untuk membuat nama suporter Persija menjadi The Jakmania dengan sedikit mengadopsi nama fan grup band The Beatles yaitu Beatles Mania. Maka pada 19 Desember 1997 kami putuskan nama fan klub Persija adalah The Jakmania.
Sekarang anggota Jakmania sudah 80 ribu lebih yang terdaftar. Bagai saya rasanya sekarang seperti petani yang sedang panen. Dulu kami menanam, sekarang melihat panen kami berhasil. Membangun Jakmania dari kecil itu kuncinya ada di pembentukan Koordinator Wilayah (Korwil).
Ketika Gugun Gondrong mulai tidak aktif, saya meminta anggota Jakmania membentuk Korwil. Jadi Korwil pertama Jakmania yang dibentuk itu adalah Kemayoran, Korwil kedua Kalimalang, dan ketiga Tanah Abang.
Dan kalau bicara kenangan tidak terlupakan selama jadi Jakmania salah satunya adalah waktu away ke Makassar pada 2001. Kami Jakmania naik kapal laut selama dua hari dari Tanjung Priok ke Makassar.
Kami tidur di tenda yang terbuat dari spanduk di lapangan Karebosi. Kami berangkat sekitar 128 orang. Itu berkesan banget buat saya, apalagi ujung-ujungnya Persija juara.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Saya lahir di Bandung, Jawa Barat, 18 Februari 1965. Tapi, saya cuma numpang lahir di Bandung, sebab saya aslinya orang Jakarta.
Saya sempat mengungsi ke Bandung karena waktu 1965 itu Jakarta tidak aman karena isu PKI. Kebetulan di Bandung ada nenek, ibu saya waktu hamil diungsikan ke sana. Pas sudah lahir di Bandung dan kondisi ibukota sudah aman kami pulang lagi ke Jakarta.
Bapak saya itu pilot. Aslinya pilot penumpang, tapi karena saat itu pilot jarang makanya ayah saya diperbantukan untuk membawa pesawat TNI AU pada saat pembebasan Irian Barat.
Bapak saya itu orang Petojo tapi keturunan Belanda. Kakek saya orang Belanda asli. Kalau ibu saya orang Jatinegara dan seorang ibu rumah tangga.
Secara ekonomi alhamdulillah saya ini termasuk keluarga yang berkecukupan. Saya, kakak, dan adik disekolahkan di sekolah swasta dari TK, SD, hingga SMP. Saya TK di Santo Yoseph Jakarta, sedangkan SD dan SMP di Budi Mulya Jakarta.
Saya ini seorang muslim yang dimasukkan ke sekolah swasta Katolik karena saat itu sekolah swasta yang bagus disiplinnya itu cuma sekolah Katolik. Saya akui sekolah di situ kedisiplinannya bagus. Positifnya juga saya terdidik menjadi orang yang tidak membeda-bedakan agama.
Tapi waktu SMA saya sekolah di negeri karena bapak saya bilang kalau di swasta lagi lama-kelamaan saya takut kebiasaan bergaul dengan orang-orang kaya. Maka masuklah saya ke SMA 1 Budi Utomo Jakarta.
Menurut cerita ibu, waktu kecil saya itu orangnya sangat peduli dan pembela keluarga. Dulu kakak saya pernah dihajar sama temannya, saya langsung mendatanginya dan saya hajar balik orang tersebut.
Waktu saya kelas 2 SD, kakak saya kelas 3 SD juga pernah dicekik oleh temannya, saya langsung hajar dan saya gigit kuping temannya itu sampai menangis.
Dari kecil saya juga sudah suka sepak bola, badminton, tapi waktu SMP dan SMA itu saya penggila voli. Lalu sudah kuliah dan kerja saya pernah ikut Kateda (Karate Tenaga Dalam), Merpati Putih, dan terakhir taekwondo.
Saya juga sempat ikut kejuaraan taekwondo di Jakarta dan dapat medali perunggu. Tapi saat kejuaraan itu ternyata saya mengalami pecah pembuluh darah di dekat dada dan akhirnya saya berhenti dari taekwondo.
Tapi pelatih saya bilang kalau kamu sudah cinta taekwondo sewaktu-waktu kamu pasti akan balik lagi. Eh benar! Beberapa tahun kemudian saya tertarik lagi dengan taekwondo. Saya balik ke taekwondo dan sempat jadi pengurus di persatuan taekwondo.
Saya dulu kuliah di Institut Teknologi Indonesia jurusan Mekanisasi Pertanian angkatan 1984 yang kerjanya mengurusi alat-alat pertanian. Setelah lulus saya kerja di sebuah proyek, lalu ditarik oleh PT. Ardes Perdana Konsultan.
Tapi waktu bapak saya meninggal 1988, saya sempat nge-blank. Sempat tidak ada pegangan hidup. Sebab seorang anak kalau sukses pasti tujuannya ingin membahagiakan orangtua. Nah kalau bapak saya sudah meninggal, siapa lagi yang akan saya bahagaikan nantinya. Itu yang buat saya bingung.
Akhirnya pikiran saya mulai terbuka setelah seorang sahabat mengingatkan kalau saya masih punya seorang ibu yang tentunya berharap anaknya lulus sarjana. Kebetulan saat itu ada beberapa tetangga yang menitipkan anaknya untuk les privat. Hasil les itulah yang kemudian saya gunakan untuk menyelesaikan tugas akhir
Soal panggilan 'Bung' itu juga berasal dari keluarga dan sudah tradisi. Nah anak-anak Jakmania Korwil Lebak Bulus awalnya dengar adik kandung saya memanggil saya dengan panggilan Bung Ferry. Mereka pun akhirnya ikut memanggil saya bung dan terus menyebar ke seluruh Jakmania.
Kalau sapaan 'Rambo' itu hanya julukan dari anak-anak Jakmania. Karena saya dulu terkenal galak. Ada yang enggak beres dikit saya hajar. Pokoknya dari awal Jakmania berdiri sampai saya turun jadi ketua tahun 2005 itu saya galak.
Saya juga sering melakukan pemeriksaan minuman keras ke anggota Jakmania saat kami tandang, karena saya sangat melarang anggota saya minum minuman keras.
Awalnya saya tidak masalah mereka minum karena memang minum minuman keras itu biasa di kalangan suporter.
Tapi ada satu titik yang buat saya jengkel yaitu ketika kami tur tandang ke Kediri. Ada anggota Jakmania yang minum minuman keras berlebihan sampai muntah di mana-mana. Dari situlah saya membuat peraturan dan melarang anggota Jakmania minum minuman keras selama masih berada dalam rombongan.
Kemudian sebagai ketua Jakmania saya itu tidak pernah membiarkan anggota saya berhadapan langsung dengan musuh. Jadi kalau terjadi bentrok dengan siapapun saya harus paling depan untuk melindungi anggota.
Ada satu bentrokan yang tidak terlupakan bagi saya yaitu saat keributan Jakmania dengan aparat tahun 2005 mungkin waktu lawan Persipura.
Awalnya anggota kami turun ke lapangan untuk meminta kaos ke pemain Persija. Tapi kok kami diserang aparat. Sementara suporter Persipura tidak dipermasalahkan masuk lapangan. Kami merasa tidak mendapat keadilan dan akhirnya kami bentrok dengan aparat yang akhirnya meluas menjadi ribut juga dengan suporter Persipura.
Tapi yang membuat saya merasa 'terpukul' adalah saat ada korban dari simpatisan Jakmania yang meninggal dunia. Dari situ saya memutuskan tidak mau lagi jadi ketua umum Jakmania.
Hubungan Jakmania dan Viking awalnya sangat baik. Viking itu dulunya ada Viking Jabodetabek dan Viking Bandung. Hubungan kami cukup dekat.
Apalagi dulu kami sering membuat merchandise Jakmania di Bandung. Sampai-sampai anggota Jakmania menginap di rumah anak-anak Viking di Bandung dan sering berkumpul di Jakarta.
Waktu Liga Indonesia VI tahun 2000, Viking juga berkoordinasi dengan kami untuk datang ke Lebak Bulus, Jakarta. Kami terima dan sambut mereka dengan baik. Tapi dulu anggota Jakmania itu masih sedikit, sementara fan Persib itu banyak.
Organisasi mereka juga banyak ada Viking, ada Jurig, dan macam-macam. Saking harmonisnya waktu mereka pulang anak-anak Jakmania juga menyanyikan lagu Halo-halo Bandung.
Lalu pada Liga Indonesia VII tahun 2001 giliran kami ingin main ke Bandung. Tapi pas sampai di sana anak Viking yang menjaga kami cuma sedikit. Kemudian tiba-tiba kami mendapat serangan dari suporter Persib yang lain. Mulai dari situlah akhirnya timbul rasa dendam. Kami juga tidak tahu alasan kami diserang di Bandung.
Saya dengar salah satu alasannya karena suporter Persib pernah diserang waktu mereka tandang ke Persija Timur. Mereka tampaknya tidak tahu kalau Persija dan Persija Timur itu berbeda.
Saat kami diserang saya langsung kumpulkan delapan bus Jakmania yang sudah hadir di Bandung dan satu lagi kami tunggu kehadirannya karena masih dalam perjalanan.
Saat itu kami berangkat ke Bandung dengan 10 bus Mayasari Bakti. Namun, yang bisa sampai Bandung hanya sembilan bus. Satu bus lagi mengalami pecah ban.
Ketika itu kami datang ke Bandung dengan total 1.000 anggota lebih Jakmania. Akhirnya kami tidak bisa mendukung Persija dan harus kembali ke Jakarta. Lalu ada beberapa kejadian lagi yang membuat permusuhan Jakmania dan Viking.
Saya juga kurang setuju dengan upaya perdamaian yang hanya dilakukan dalam satu momen khusus, seperti dengan menggelar konferensi pers atau sebagainya yang sifatnya hanya seremonial.
Saya menilai perdamaian ini tidak bisa hanya dilakukan lewat media atau melalui pihak-pihak ketiga yang bisa dipolitisir.
Permusuhan itu butuh waktu untuk bisa menjadi permusuhan seperti sekarang. Apalagi perdamaian, juga butuh waktu. Jadi jangan terlalu didesak untuk damai.
Kita bicara puluhan bahkan ratusan ribu orang yang karakternya berbeda-beda, jadi tidak bisa semudah seperti mengembalikan telapak tangan.
Kampanye perdamaian boleh, tapi tidak boleh dipaksakan. Kalau saya maunya natural saja. Kita terus gencarkan kampanye perdamaian.
Saya sampaikan kepada anak-anak [anggota Jakmania] yang tidak mau damai ya sudah tidak usah dipaksa. Tapi yang mau damai silakan lanjutkan kampanye perdamaian ini. Tapi, jangan saling ganggu dan jangan saling serang satu sama lain. Lama-kelamaan saya yakin kedua suporter ini akan damai.
Saya itu mengibaratkan permusuhan ini seperti koreng. Koreng itu kalau masih basah kan masih sakit terus. Nah kita tunggu koreng itu sampai kering.
Bagaimana koreng dalam permusuhan itu bisa kering? Caranya, kita jangan saling bertemu dulu. Jangan saling menghujat dalam lagu, spanduk, kaos, atau di media sosial sampai rasa benci dan dendam itu hilang. Nah, ketika dendam dan kebencian itu hilang, maka generasi berikutnya tidak akan merasakan permusuhan lagi.
Tapi ketika nyanyian kebencian itu dimunculkan lagi dan generasi muda mendengar pasti akan menjadi warisan permusuhan terus menerus.
Padahal dulunya permusuhan ini hanya 1.000 orang yang ribut, kenapa sekarang jadi meluas seperti ini? Saya pikir untuk menghentikan permusuhan ini harus seperti itu. Apalagi orang-orang yang mengawali permusuhan itu kan sekarang sudah pada tua-tua.
Apakah kalian mau mati meninggalkan dendam? Apakah kalian mau mati mewariskan permusuhan? Apakah mau di akhirat kalian ditanya malaikat soal itu? Saat saya bicara seperti itu kepada teman-teman barulah mereka takut dan nurut. Tapi permasalahan itukan sudah mendarah daging, ya caranya pelan-pelan.
Sekarang saya juga punya tanggung jawab upaya ke arah perdamaian karena permusuhan ini kan dimulai dari zaman saya. Tapi semua keputusan ada di Ketua Umum Jakmania sekarang, saya sebagai penasihat saja.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tapi yang jelas hubungan pribadi saya dengan beberapa pentolan Viking itu sangat baik. Apalagi Kang Heru Djoko, dia itu orang yang baik sekali. Saya pergi ke Bandung juga aman. Kalau dulu kan enggak aman, karena saya sudah dianggap seperti public enemy.
Tapi sejak saya kampanyekan damai Alhamdulillah hubungan saya dengan Bobotoh bagus. Saya sering silahturahmi ke Kang Yana Umar dan juga ke pentolan Bomber Kang Asep Abdul dan lainnya. Alhamdulillah mereka welcome banget. Itu yang buat saya salut dengan orang-orang Bandung itu.
Karena saya pribadi mungkin bisa menerima mereka di Jakarta, tapi saya tidak tahu bagaimana sikap rekan-rekan saya di Jakmania. Apakah bisa menerima mereka di Jakarta, itu yang belum bisa saya pegang.
Saya dulu itu mendirikan Jakmania bersama rekan-rekan pendiri lainnya itu dari nol. Dulu awalnya kami itu suka nonton Persija di Lebak Bulus. Saya saat itu masih kuliah dan ada beberapa teman juga yang masih sekolah. Dulu harga tiket nonton pertandingan itu Rp10 ribu. Lama-kelamaan berasa juga ini jadi suporter.
Sementara waktu kami dukung Pelita Jaya kami hanya menunjukkan kartu anggota suporter [The Commandos] saja bisa gratis. Terus kami berpikir jangan-jangan kalau kita masukanggota fan klubnya Persija bisa gratis juga.
Terus kami bertanya ke manajer Persija Diza Rasyid Ali dan bertanya ke public relation (PR) Persija namanya Eddy Supadmo. Ternyata, fan Persija saat itu tidak ada. Dulu pernah ada suporter Persija tapi sudah bubar.
Jadi kami disarankan untuk membuat fan klub Persija yang baru. Terus kami datang ke Stadion Menteng [markas Persija]. Awalnya kami bingung karena kami tidak tahu cara membangun organisasi suporter.
Pertemuan pertama dan kedua dengan perwakilan Persija tidak ada hasil. Akhirnya pas pertemuan ketiga, ada rekan saya bernama Heri mengajak Gugun Gondrong [Muhammad Gunawan Hendromartono] supaya dia bisa membantu mencari jalan keluar di pertemuan ketiga.
Kemudian kami bersama Gugun Gondrong bertemu perwakilan Persija di Graha Wisata Kuningan, Jakarta. Di situ langsung mengarah ke penunjukan Ketua Umum Jakmania. Dulu di antara kami belum saling kenal, jadi kami semua sepakat menunjuk Gugun Gondrong yang sudah terkenal untuk jadi Ketua Umum Jakmania.
Awalnya Gugun kesal dan bilang 'kan saya ke sini diundang kok tiba-tiba disuruh jadi ketua'. Tapi, karena semua yang hadir [sekitar 30 orang] sudah setuju akhirnya Gugun terpilih jadi Ketua Umum Jakmania dan saya ditunjuk oleh Gugun untuk jadi Ketua 1 Jakmania.
Awalnya kami juga belum punya nama suporter. Nama Jakmania itu kami dapat waktu kami sering datang ke Stadion Menteng. Di sana ada sebuah banner berwarna merah-putih yang tulisannya 'Welcome The Jak'. Saya bertanya ke Edhy Supadmo, tulisan itu maksudnya apa? Dia menjawab itu adalah julukan Persija.
Nah tulisan itu menginspirasi kami untuk membuat nama suporter Persija menjadi The Jakmania dengan sedikit mengadopsi nama fan grup band The Beatles yaitu Beatles Mania. Maka pada 19 Desember 1997 kami putuskan nama fan klub Persija adalah The Jakmania.
Sekarang anggota Jakmania sudah 80 ribu lebih yang terdaftar. Bagai saya rasanya sekarang seperti petani yang sedang panen. Dulu kami menanam, sekarang melihat panen kami berhasil. Membangun Jakmania dari kecil itu kuncinya ada di pembentukan Koordinator Wilayah (Korwil).
Ketika Gugun Gondrong mulai tidak aktif, saya meminta anggota Jakmania membentuk Korwil. Jadi Korwil pertama Jakmania yang dibentuk itu adalah Kemayoran, Korwil kedua Kalimalang, dan ketiga Tanah Abang.
Dan kalau bicara kenangan tidak terlupakan selama jadi Jakmania salah satunya adalah waktu away ke Makassar pada 2001. Kami Jakmania naik kapal laut selama dua hari dari Tanjung Priok ke Makassar.
Kami tidur di tenda yang terbuat dari spanduk di lapangan Karebosi. Kami berangkat sekitar 128 orang. Itu berkesan banget buat saya, apalagi ujung-ujungnya Persija juara.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Panggilan Bung Ferry dan Ogah Jadi Ketua Jakmania
Ferry Indrasjarief mengaku ogah jadi Ketum Jakmania lagi. (CNN/M Rizki Haerullah)
Saya lahir di Bandung, Jawa Barat, 18 Februari 1965. Tapi, saya cuma numpang lahir di Bandung, sebab saya aslinya orang Jakarta.
Saya sempat mengungsi ke Bandung karena waktu 1965 itu Jakarta tidak aman karena isu PKI. Kebetulan di Bandung ada nenek, ibu saya waktu hamil diungsikan ke sana. Pas sudah lahir di Bandung dan kondisi ibukota sudah aman kami pulang lagi ke Jakarta.
Bapak saya itu pilot. Aslinya pilot penumpang, tapi karena saat itu pilot jarang makanya ayah saya diperbantukan untuk membawa pesawat TNI AU pada saat pembebasan Irian Barat.
Bapak saya itu orang Petojo tapi keturunan Belanda. Kakek saya orang Belanda asli. Kalau ibu saya orang Jatinegara dan seorang ibu rumah tangga.
Secara ekonomi alhamdulillah saya ini termasuk keluarga yang berkecukupan. Saya, kakak, dan adik disekolahkan di sekolah swasta dari TK, SD, hingga SMP. Saya TK di Santo Yoseph Jakarta, sedangkan SD dan SMP di Budi Mulya Jakarta.
Saya ini seorang muslim yang dimasukkan ke sekolah swasta Katolik karena saat itu sekolah swasta yang bagus disiplinnya itu cuma sekolah Katolik. Saya akui sekolah di situ kedisiplinannya bagus. Positifnya juga saya terdidik menjadi orang yang tidak membeda-bedakan agama.
Tapi waktu SMA saya sekolah di negeri karena bapak saya bilang kalau di swasta lagi lama-kelamaan saya takut kebiasaan bergaul dengan orang-orang kaya. Maka masuklah saya ke SMA 1 Budi Utomo Jakarta.
Menurut cerita ibu, waktu kecil saya itu orangnya sangat peduli dan pembela keluarga. Dulu kakak saya pernah dihajar sama temannya, saya langsung mendatanginya dan saya hajar balik orang tersebut.
Waktu saya kelas 2 SD, kakak saya kelas 3 SD juga pernah dicekik oleh temannya, saya langsung hajar dan saya gigit kuping temannya itu sampai menangis.
Dari kecil saya juga sudah suka sepak bola, badminton, tapi waktu SMP dan SMA itu saya penggila voli. Lalu sudah kuliah dan kerja saya pernah ikut Kateda (Karate Tenaga Dalam), Merpati Putih, dan terakhir taekwondo.
Saya juga sempat ikut kejuaraan taekwondo di Jakarta dan dapat medali perunggu. Tapi saat kejuaraan itu ternyata saya mengalami pecah pembuluh darah di dekat dada dan akhirnya saya berhenti dari taekwondo.
Tapi pelatih saya bilang kalau kamu sudah cinta taekwondo sewaktu-waktu kamu pasti akan balik lagi. Eh benar! Beberapa tahun kemudian saya tertarik lagi dengan taekwondo. Saya balik ke taekwondo dan sempat jadi pengurus di persatuan taekwondo.
Saya dulu kuliah di Institut Teknologi Indonesia jurusan Mekanisasi Pertanian angkatan 1984 yang kerjanya mengurusi alat-alat pertanian. Setelah lulus saya kerja di sebuah proyek, lalu ditarik oleh PT. Ardes Perdana Konsultan.
Tapi waktu bapak saya meninggal 1988, saya sempat nge-blank. Sempat tidak ada pegangan hidup. Sebab seorang anak kalau sukses pasti tujuannya ingin membahagiakan orangtua. Nah kalau bapak saya sudah meninggal, siapa lagi yang akan saya bahagaikan nantinya. Itu yang buat saya bingung.
Akhirnya pikiran saya mulai terbuka setelah seorang sahabat mengingatkan kalau saya masih punya seorang ibu yang tentunya berharap anaknya lulus sarjana. Kebetulan saat itu ada beberapa tetangga yang menitipkan anaknya untuk les privat. Hasil les itulah yang kemudian saya gunakan untuk menyelesaikan tugas akhir
Soal panggilan 'Bung' itu juga berasal dari keluarga dan sudah tradisi. Nah anak-anak Jakmania Korwil Lebak Bulus awalnya dengar adik kandung saya memanggil saya dengan panggilan Bung Ferry. Mereka pun akhirnya ikut memanggil saya bung dan terus menyebar ke seluruh Jakmania.
Kalau sapaan 'Rambo' itu hanya julukan dari anak-anak Jakmania. Karena saya dulu terkenal galak. Ada yang enggak beres dikit saya hajar. Pokoknya dari awal Jakmania berdiri sampai saya turun jadi ketua tahun 2005 itu saya galak.
Saya juga sering melakukan pemeriksaan minuman keras ke anggota Jakmania saat kami tandang, karena saya sangat melarang anggota saya minum minuman keras.
Awalnya saya tidak masalah mereka minum karena memang minum minuman keras itu biasa di kalangan suporter.
Tapi ada satu titik yang buat saya jengkel yaitu ketika kami tur tandang ke Kediri. Ada anggota Jakmania yang minum minuman keras berlebihan sampai muntah di mana-mana. Dari situlah saya membuat peraturan dan melarang anggota Jakmania minum minuman keras selama masih berada dalam rombongan.
Kemudian sebagai ketua Jakmania saya itu tidak pernah membiarkan anggota saya berhadapan langsung dengan musuh. Jadi kalau terjadi bentrok dengan siapapun saya harus paling depan untuk melindungi anggota.
Ada satu bentrokan yang tidak terlupakan bagi saya yaitu saat keributan Jakmania dengan aparat tahun 2005 mungkin waktu lawan Persipura.
Awalnya anggota kami turun ke lapangan untuk meminta kaos ke pemain Persija. Tapi kok kami diserang aparat. Sementara suporter Persipura tidak dipermasalahkan masuk lapangan. Kami merasa tidak mendapat keadilan dan akhirnya kami bentrok dengan aparat yang akhirnya meluas menjadi ribut juga dengan suporter Persipura.
Tapi yang membuat saya merasa 'terpukul' adalah saat ada korban dari simpatisan Jakmania yang meninggal dunia. Dari situ saya memutuskan tidak mau lagi jadi ketua umum Jakmania.