Manchester United akan dipimpin oleh Ralf Rangnick hingga akhir musim ini. (REUTERS/PHIL NOBLE)
Jakarta, CNN Indonesia --
Manchester Unitedakan menjalani sisa musim ini dengan nakhoda baru. Pelatih asal Jerman, Ralf Rangnicktelah ditunjuk sebagai pelatih interim.
Man Utd memakai pendekatan yang agak kurang lazim untuk Rangnick. Sederet kegagalan bersama pelatih yang jadi suksesor Sir Alex Ferguson membuat pihak klub hanya enam bulan mengontrak Rangnick.
Rangnick juga hanya berstatus pelatih interim. Begitu masa jabatannya selesai, pria berusia 63 itu akan bertugas sebagai konsultan tim selama dua musim.
Enam bulan tentu bukan waktu yang panjang. Dengan waktu sesingkat itu maka target jangka pendek sepertinya akan jadi fokus utama Rangnick.
Mendatangkan pemain baru tentu lazim jadi opsi pelatih yang baru datang ke sebuah tim. Kesempatan untuk merekrut pemain baru juga terbuka buat Rangnick karena bursa transfer paruh musim akan dibuka pada Januari 2022.
Ralf Rangnick punya waktu 6 bulan membuat Manchester United bergairah. (AFP/ODD ANDERSEN)
Namun di samping itu yang krusial adalah bagaimana Rangnick mengelola pemain ada yang sudah ada dalam tim. Menjadikan Cristiano Ronaldo dkk bermain sebagai sebuah tim sesuai pola main yang ia inginkan.
Rangnick memang tidak punya rekam jejak mentereng, apalagi jika bicara soal gelar. Prestasi Rangnick jelas kalah jauh dibandingkan dengan eks pelatih Manchester United, Jose Mourinho yang dipecat pada 18 Desember 2018.
Namun, fakta itu tidak lantas membuat Rangnick layak dicap sosok yang terlalu kecil untuk tim dengan sejarah besar seperti The Red Devils. Meski terakhir kali juara Liga Inggris tahun 2013 lalu, Man Utd masih jadi tim tersukses di Negeri Ratu Elizabeth dengan 20 kali mengangkat trofi kasta tertinggi di Inggris tersebut.
Profil Rangnick menjadi menarik karena julukan The Professor yang melekat pada dirinya. Pria yang menghabiskan sebagian besar karier pelatih di Jerman itu disebut-sebut sebagai guru sejumlah pelatih top seperti Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, dan Julian Nagelsmann.
Klopp, Tuchel, dan Nagelsmann bisa dikatakan sebagai pelatih elite asal Jerman. Karier bagus yang dijalani ketiganya dikatakan terdapat 'pengaruh' dari Rangnick.
Rangnick pun selalu punya ciri di setiap tim yang ia latih. Salah satu yang paling mencolok adalah gaya bermain gegenpressing yang mempesona pencinta sepak bola saat Klopp menampilkannya bersama Liverpool.
Gaya bermain ini tergolong agresif. Seluruh pemain dituntut untuk banyak berlari, memastikan pemain-pemain lawan tidak leluasa dan tidak lama-lama bisa menguasai bola.
Gaya bermain yang agresif, efektif, dan spartan sepanjang 90 menit paling dinanti seiring kedatangan Rangnick. Man Utd bisa menjelma menjadi tim yang dominan di setiap pertandingan, sesuai dengan label mereka sebagai tim besar.
Identitas semacam itu sudah lama hilang dari Man Utd. Tim manapun belakangan tak lagi memiliki rasa takut melawan tim yang bermarkas di Old Trafford itu.
Satu aspek lain yang juga diharapkan adalah konsistensi Man Utd meraih hasil positif. Di Liga Inggris musim ini, The Red Devils sudah menelan 5 kekalahan, 3 imbang, dan baru enam kali menang.
Man Utd sudah mencetak 24 gol tetapi juga sudah kebobolan 24 gol. Catatan jumlah kebobolan ini jadi yang terburuk di antara tim penghuni 10 besar Liga Inggris.
Masalah paling krusial adalah membuat lini tengah dan pertahanan Man Utd bisa tampil solid. Kelemahan itu jelas terlihat saat Man Utd menang 3-2 atas Arsenal di Old Trafford, Jumat (3/12) dini hari WIB.
Fred masih tidak konsisten tampil bagus di lini tengah Manchester United. (REUTERS/PHIL NOBLE)
Koordinasi di pertahanan yang diisi Diogo Dalot, Victor Lindelof, Harry Maguire, dan Alex Telles tidak berjalan baik. Begitu pula dengan sektor lini tengah yang diisi Fred dan Scott McTominay kesulitan bertarung dengan para pemain gelandang Arsenal.
Permainan Man Utd baru membaik di babak kedua yang ikut membantu mereka bisa memenangi laga melawan Arsenal. Kesenjangan penampilan ini yang patut dibenahi oleh Rangnick apabila Man Utd punya nafsu memburu tiket empat besar dan melangkah jauh di Liga Champions.
Bersaing dengan Chelsea, Manchester City, dan Liverpool jelas tak masuk hitungan Man Utd. Rangnick dan Man Utd mesti sadar diri ketiga tim itu berada di level yang berbeda musim ini.
Fokus Rangnick dalam waktu 6 bulan adalah bagaimana memberikan identitas dalam permainan tim, konsisten meraih hasil positif, dan memastikan Man Utd finis di zona empat besar pada akhir musim ini.
Plus satu hal lain yang krusial adalah membuat Ronaldo jadi mesin gol andalan dalam sistem yang ia inginkan. Meski sudah berusia 36 tahun, Ronaldo terbukti masih salah satu mesin gol ulung yang terbaik di dunia.
Manchester Unitedakan menjalani sisa musim ini dengan nakhoda baru. Pelatih asal Jerman, Ralf Rangnicktelah ditunjuk sebagai pelatih interim.
Man Utd memakai pendekatan yang agak kurang lazim untuk Rangnick. Sederet kegagalan bersama pelatih yang jadi suksesor Sir Alex Ferguson membuat pihak klub hanya enam bulan mengontrak Rangnick.
Rangnick juga hanya berstatus pelatih interim. Begitu masa jabatannya selesai, pria berusia 63 itu akan bertugas sebagai konsultan tim selama dua musim.
Enam bulan tentu bukan waktu yang panjang. Dengan waktu sesingkat itu maka target jangka pendek sepertinya akan jadi fokus utama Rangnick.
Mendatangkan pemain baru tentu lazim jadi opsi pelatih yang baru datang ke sebuah tim. Kesempatan untuk merekrut pemain baru juga terbuka buat Rangnick karena bursa transfer paruh musim akan dibuka pada Januari 2022.
Ralf Rangnick punya waktu 6 bulan membuat Manchester United bergairah. (AFP/ODD ANDERSEN)
Namun di samping itu yang krusial adalah bagaimana Rangnick mengelola pemain ada yang sudah ada dalam tim. Menjadikan Cristiano Ronaldo dkk bermain sebagai sebuah tim sesuai pola main yang ia inginkan.
Rangnick memang tidak punya rekam jejak mentereng, apalagi jika bicara soal gelar. Prestasi Rangnick jelas kalah jauh dibandingkan dengan eks pelatih Manchester United, Jose Mourinho yang dipecat pada 18 Desember 2018.
Namun, fakta itu tidak lantas membuat Rangnick layak dicap sosok yang terlalu kecil untuk tim dengan sejarah besar seperti The Red Devils. Meski terakhir kali juara Liga Inggris tahun 2013 lalu, Man Utd masih jadi tim tersukses di Negeri Ratu Elizabeth dengan 20 kali mengangkat trofi kasta tertinggi di Inggris tersebut.
Profil Rangnick menjadi menarik karena julukan The Professor yang melekat pada dirinya. Pria yang menghabiskan sebagian besar karier pelatih di Jerman itu disebut-sebut sebagai guru sejumlah pelatih top seperti Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, dan Julian Nagelsmann.
Klopp, Tuchel, dan Nagelsmann bisa dikatakan sebagai pelatih elite asal Jerman. Karier bagus yang dijalani ketiganya dikatakan terdapat 'pengaruh' dari Rangnick.
Rangnick pun selalu punya ciri di setiap tim yang ia latih. Salah satu yang paling mencolok adalah gaya bermain gegenpressing yang mempesona pencinta sepak bola saat Klopp menampilkannya bersama Liverpool.
Gaya bermain ini tergolong agresif. Seluruh pemain dituntut untuk banyak berlari, memastikan pemain-pemain lawan tidak leluasa dan tidak lama-lama bisa menguasai bola.
Tugas Berat Menanti Rangnick
Lini belakang Manchester United keropos di musim ini. (AP/Frank Augstein)
Gaya bermain yang agresif, efektif, dan spartan sepanjang 90 menit paling dinanti seiring kedatangan Rangnick. Man Utd bisa menjelma menjadi tim yang dominan di setiap pertandingan, sesuai dengan label mereka sebagai tim besar.
Identitas semacam itu sudah lama hilang dari Man Utd. Tim manapun belakangan tak lagi memiliki rasa takut melawan tim yang bermarkas di Old Trafford itu.
Satu aspek lain yang juga diharapkan adalah konsistensi Man Utd meraih hasil positif. Di Liga Inggris musim ini, The Red Devils sudah menelan 5 kekalahan, 3 imbang, dan baru enam kali menang.
Man Utd sudah mencetak 24 gol tetapi juga sudah kebobolan 24 gol. Catatan jumlah kebobolan ini jadi yang terburuk di antara tim penghuni 10 besar Liga Inggris.
Masalah paling krusial adalah membuat lini tengah dan pertahanan Man Utd bisa tampil solid. Kelemahan itu jelas terlihat saat Man Utd menang 3-2 atas Arsenal di Old Trafford, Jumat (3/12) dini hari WIB.
Fred masih tidak konsisten tampil bagus di lini tengah Manchester United. (REUTERS/PHIL NOBLE)
Koordinasi di pertahanan yang diisi Diogo Dalot, Victor Lindelof, Harry Maguire, dan Alex Telles tidak berjalan baik. Begitu pula dengan sektor lini tengah yang diisi Fred dan Scott McTominay kesulitan bertarung dengan para pemain gelandang Arsenal.
Permainan Man Utd baru membaik di babak kedua yang ikut membantu mereka bisa memenangi laga melawan Arsenal. Kesenjangan penampilan ini yang patut dibenahi oleh Rangnick apabila Man Utd punya nafsu memburu tiket empat besar dan melangkah jauh di Liga Champions.
Bersaing dengan Chelsea, Manchester City, dan Liverpool jelas tak masuk hitungan Man Utd. Rangnick dan Man Utd mesti sadar diri ketiga tim itu berada di level yang berbeda musim ini.
Fokus Rangnick dalam waktu 6 bulan adalah bagaimana memberikan identitas dalam permainan tim, konsisten meraih hasil positif, dan memastikan Man Utd finis di zona empat besar pada akhir musim ini.
Plus satu hal lain yang krusial adalah membuat Ronaldo jadi mesin gol andalan dalam sistem yang ia inginkan. Meski sudah berusia 36 tahun, Ronaldo terbukti masih salah satu mesin gol ulung yang terbaik di dunia.