Mia Audina: Dongeng Kehebatan Pebulutangkis 14 Tahun
Mia Audina | CNN Indonesia
Rabu, 05 Jan 2022 19:00 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Mia Audina mencatat sejarah luar biasa saat jadi penentu kemenangan Indonesia di Piala Uber 1994. (AFP/TOMMY CHENG)
Jakarta, CNN Indonesia --
Nama saya diumumkan terdaftar di susunan pemain Piala Uber 1994. Tentu tegang sekali, tetapi saya sudah bertekad untuk melakukan yang terbaik.
Indonesia lalu unggul 2-0 atas China di final. Satu kemenangan lagi, Indonesia akan jadi juara dan saya tentu tidak perlu main.
Tetapi ternyata tunggal putri kedua kalah, lalu ganda putri kedua bermain, saya sudah mulai pemanasan. Ternyata skor berubah jadi 2-2 dan bagi saya bebannya berat. Laga yang saya mainkan adalah penentuan.
Saya coba tidak terlalu banyak berpikir macam-macam. Saya hanya fokus dan memikirkan cara main seperti apa yang bakal di tampilkan di lapangan.
Saya belum pernah bertemu Zhang Ning sebelumnya. Saya lihat kami berdua sama-sama tegang. Begitu permainan dimulai, tak semua taktik yang saya siapkan bisa berjalan.
Dengan kondisi itu, fokus saya hanya berusaha sekeras tenaga untuk dapat poin.
Saya menang di set pertama dan terasa ada angin segar untuk saya. Saat itu Istora Senayan sudah penuh sekali, namun fokus saya tidak teralihkan. Fokus saya tetaplah bagaimana cara memenangkan set kedua.
Di set kedua saya memimpin dan mendapat match point pada angka 10-6. Saat itu ada kesempatan besar untuk menang, tetapi gagal saya lakukan.
Saya melompat dan kesal karena malah gagal menyelesaikan pertandingan. Usai kegagalan itu, saya kemudian malah kalah di set kedua.
Dalam momen keunggulan tersebut, saya sama sekali tidak merasa over confident dan menganggap sudah menang. Sampai akhirpun saya masih merasa tegang.
Saya masih merasa lawan memiliki kesempatan. Kalau saya sampai kalah di set kedua, dari sisi psikologis, efeknya akan terkena pada saya.
Kalau atlet set pertama menang lalu set kedua hampir menang dan kemudian kalah, biasanya dari sisi psikologis sang atlet tersebut tidak akan bisa menjalankan set ketiga dengan baik. Yang sering saya dengar seperti itu. Apalagi saya tidak punya pengalaman.
Tetapi saya yakin bahwa di lapangan tidak selalu semua logika bisa keluar. Tidak selalu yang terpikir bisa terjadi. Walaupun down, saya harus bisa bangkit di set ketiga. Semua harus saya kerahkan di lapangan.
Mia Audina menunjukkan bakat besar sejak masih balita. (AFP/TOMMY CHENG)
Saat memulai set ketiga, saya tidak mendengar apa-apa dari penonton. Suara teriakan kencang tidak terdengar oleh saya, begitu juga celetukan-celetukan. Saya coba untuk kembali fokus.
Mau tidak mau dari nol lagi. Saya harus bisa bangkit lagi, coba lupakan set kedua. Jangan dipikirkan kenapa kalah di set kedua. Zhang Ning pasti dalam kondisi lebih percaya diri.
Usaha keras dan maksimal yang saya lakukan membuahkan hasil. Saya memenangi set ketiga. Indonesia juara!
Perasaan saya lega banget. Susah untuk menerangkan detail perasaan satu per satu. Senangnya tidak terbayang. Tegangnya hilang. Menangis dan tertawa bisa bersamaan, jadi itulah yang keluar ekspresinya.
Saya tidak terlalu ingat dengan detail yang terjadi. Tahu-tahu semua tim masuk. Karena sedang gembira, saya tidak terlalu memperhatikan sekitar. Tahu-tahu lapangan sudah full. Saya bahkan tidak tahu raket yang saya pegang ke mana. Lalu saya digendong dan dibawa hingga masuk ke ruangan atlet.
Kemenangan di Piala Uber 1994 itu benar-benar booming. Sebelumnya nama saya memang sudah mulai dikenal seiring perjalanan Indonesia di Piala Uber karena tiap hari disiarkan di televisi dan banyak pemberitaan.
Namun setelah jadi penentu kemenangan, baru benar-benar booming. Saya sempat diragukan. Apa benar 14 tahun?
Lalu banyak yang bertanya ke sekolah. Benar atau tidak, dia anak umur segini. Dari situlah lalu muncul istilah bocah ajaib.
Bila ditanya rahasianya, karena saya itu sosok yang tak gampang menyerah meski ada banyak faktor lainya. Bila saya dibilang tampil percaya diri, sebenarnya itu hanya terlihat dari luarnya.
Saya saja sampai pegang shuttlecock gemetaran dan bahkan sampai jatuh. Saya berusaha untuk tidak gampang menyerah. Fokus untuk menang, bukan fokus untuk terkenal. Intinya fokus terhadap tujuan, soal terkenal itu efek belakangan.
Soal kematangan di usia 14 tahun, rasanya memang saya jatuhnya jadi lebih dewasa dibandingkan orang lain yang seumuran. Saya memang merasa lebih gampang bergaul dengan yang lebih tua dari saya.
Menengok ke belakang, saya mulai bermain badminton karena diajak keluarga. Papa saya suka badminton, begitu juga keluarga saya.
Waktu umur tiga tahun, saya disuruh pegang raket lalu dikasih shuttlecock. "Ayo coba pukul", kata keluarga saya. Ternyata kena. Pertama kali coba, langsung kena. Dari situ banyak yang berpikir bahwa saya punya talenta.
Sebagai perbandingan di kemampuan lain, di usia empat tahun saya sudah bisa membaca. Jadi sebelum masuk TK sudah bisa membaca. Mungkin memang saya termasuk anak yang bisa cepat untuk itu.
Mulai belajar umur tiga tahun, saat usia lima tahun saya sudah ikut pertandingan pertama. Terus di usia tujuh tahun saya sudah juara di level nasional untuk kategori usia di bawah 10 tahun.
Mulai dari situ, saya sudah berpikir untuk serius di badminton dan ingin jadi juara dunia. Pertama kali saya diminta PBSI untuk masuk pelatnas di usia 11 tahun. Saat itu saya sudah bisa jadi juara nasional untuk kategori usia di bawah 18 tahun. Di setiap pertandingan saya sudah sering juara.
Permintaan PBSI itu tidak dipenuhi oleh orang tua saya. Mereka bilang saya masih belum lulus SD. Saya harus lulus SD dulu baru boleh masuk pelatnas.
Akhirnya saya masuk pelatnas di usia 13 tahun pada 1993 setelah saya lulus SD. Sudah tidak ada lagi penolakan dari orang tua karena sudah lulus SD. Bagi mereka, ini juga saat yang tepat untuk saya mengalihkan fokus untuk go international. Semakin muda, tentu bakal punya peluang untuk semakin berprestasi dan bakal semakin bagus.
Sejak masuk pelatnas, saya langsung berpikir untuk bisa langsung masuk ke persaingan internasional. Saya bertekad untuk mencoba memberikan kemampuan maksimal. Harus bisa berprestasi saat dikirim ke pertandingan manapun.
Saat persiapan Piala Uber, saya terpilih untuk ikut seleksi. Setelah melewati sejumlah pertandingan, saya akhirnya terpilih masuk skuad Piala Uber.
Saya baru dipasang saat melawan Denmark. Saya selalu bertekad bila sudah dipasang harus menang. Saat melawan Denmark saya bisa menang. Ketika melawan Korea Selatan di semifinal, saya juga bisa menang.
Walaupun Indonesia sudah pasti menang lawan Korea Selatan, saya tetap tidak mau kalah dan merasa santai. Pikiran saya, bila saya kalah, saya tidak akan dipasang di babak final. Itulah yang akhirnya membuat saya bisa menang dan terpilih kembali dalam susunan pemain di babak final.
Mia Audina mengukir banyak prestasi baik sebagai wakil Indonesia maupun Belanda. (AFP/ADEK BERRY)
Cedera Parah dan Perak Olimpiade 1996
Selepas Piala Uber 1994, karier saya makin meningkat. Kalau tidak salah di akhir 1994 atau awal 1995 saya sudah sempat naik ke peringkat lima dunia.
Saat persiapan lancar tersebut, tiba-tiba saya mengalami cedera di Badminton Grand Prix Finals di akhir 1995. Saya salah posisi saat bermain dan mengalami cedera di lutut kanan, tepatnya di meniscus.
Karena cedera itu bahkan saya sempat divonis tidak akan bisa main badminton lagi. Saya divonis seperti itu, tetapi Tuhan berkehendak lain.
Meski saya bisa sembuh, namun bisa tampil di Olimpiade tetap merupakan sebuah kejutan.
Saya baru bisa kembali bermain pada bulan Maret 1996 tetapi itu juga kalah. Barulah pada Piala Uber 1996 di bulan Mei, saya mulai bisa mencatat hasil positif.
Saya bisa kembali menang dan membawa Indonesia juara. Dari situ kepercayaan diri saya untuk menghadapi Olimpiade mulai bangkit.
Soal cedera, kondisi saya belum pulih total saat Olimpiade tiba. Memang cedera sudah sembuh tetapi masih ada perasaan trauma. Sangat sulit.
Dari segi permainan, bila saya sedang berada pada posisi mengambil shuttlecock seperti saat mengalami cedera, hal itu susah bagi saya. Saya harus mengatasi perasaan seperti itu. Saya terus menekankan pada diri saya bahwa hal ini bukanlah masalah.
Rasanya saat itu Kak Susy Susanti yang lebih diharapkan untuk meraih medali emas Olimpiade. Tetapi saya adalah tipe orang yang perfeksionis. Tujuan saya selalu jadi yang terbaik.
Saya mau emas Olimpiade walaupun logikanya tidak masuk karena saya baru sembuh cedera. Tetapi itu tetap tujuan saya.
Kami berdua masuk semifinal namun kemudian saya menang lalu Kak Susy kalah. Meski Olimpiade bukan turnamen beregu, kalau Kak Susy menang, Indonesia sudah pasti emas. Setelah itu tentu tinggal saya dan Kak Susy bertanding menentukan juaranya.
Saat Kak Susy kalah, berarti otomatis Indonesia belum pasti emas. Otomatis pasti berat dan tegang bagi saya apalagi Olimpiade hanya empat tahun sekali.
Di final akhirnya saya kalah dari Bang Soo Hyun. Ada dua sisi saya merespons kekalahan tersebut. Satu, adalah hal yang membanggakan saya bisa bangkit dari cedera. Ada rasa bangga juga pasti bisa meraih perak Olimpiade di usia 16 tahun.
Namun saya tak memungkiri bahwa bagi saya yang perfeksionis, kekalahan di Olimpiade ini membuat sedih. Karena itu saya terus menangis.
Padahal seharusnya saya bisa gembira tidak usah menangis karena meraih medali perak setelah melalui masa sulit.
Bagi saya, tetap ada rasa disayangkan kenapa dapat perak. Mungkin karena saya orangnya tidak gampang puas.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Dari sebelum Olimpiade 1996 hingga 1999, mami saya sakit keras. Selama itu sama sekali tidak ada pikiran untuk pindah dari Indonesia.
Dari dulu fokus saya main untuk mami, membanggakan mami, dan juga membiayai mami.
Setelah mami meninggal di 1999, karena apapun yang saya lakukan selama ini untuk mami, begitu mami tidak ada rasanya jadi hampa.
Saya sangat kehilangan, begitu kehilangan, karena saya dan mami dekat sekali. Saya masih 19 tahun. Saya tahu karier saya masih panjang tetapi saya tahu bahwa saya butuh sesuatu yang baru untuk berprestasi.
Karena mami saya meninggal dan butuh motivasi baru untuk berprestasi, itulah alasan saya pindah ke Belanda. Saya pindah bukan karena mengikuti suami.
Waktu saya bicarakan keputusan saya dengan PBSI, mereka menyayangkan tetapi mereka menghargai pilihan saya. Mereka menghargai apa yang saya pilih karena memang tidak gampang keadaannya.
Mia Audina sudah jadi warga negara Belanda sejak tahun 2000. ( AFP/MARTIN HAYHOW)
Di Belanda, perjuangan tidak gampang karena Belanda bukan negara yang akrab dengan badminton. Di Belanda tidak ada pelatnas tempat atlet berkumpul secara bersama-sama dan tinggal di sana.
Di Jakarta, lingkungan pelatnas mendukung. Untuk latihan, tiap atlet hanya tinggal menyeberang ke lapangan. Sedangkan di Belanda, kami harus bolak-balik naik mobil. Tempat latihan ada di dekat perbatasan Jerman, sekitar 220 km.
Semuanya berbeda di Belanda. Tentu berat karena harus adaptasi latihan, bahasa, dan kehidupan. Tetapi saya adalah orang yang bila sudah memilih sebuah hal, saya akan konsekuen terhadap hal tersebut.
April 2000, saya sudah resmi jadi warga negara Belanda. Saya mendapatkan prioritas karena mungkin punya prestasi bagus. Saya juga bisa adaptasi lumayan cepat. Dengan menjadi warga negara Belanda, saya bisa membela Belanda di Olimpiade.
Saat sudah membela Belanda dan bertemu pemain-pemain Indonesia, tidak ada rasa canggung dan kami tetap ngobrol bila bertemu. Teman tetap teman dan mereka menghargai pilihan saya.
Saya merasa efek kehadiran saya besar di Belanda seiring dengan prestasi internasional yang saya raih. Kalau prestasi di sebuah cabang olahraga bagus, tentu bakal disorot, entah oleh NOC setempat ataupun dari media.
Berbicara Olimpiade bersama Belanda, saya merasa posisi saya sangat bagus jelang Olimpiade 2004 di Athena. Peluang meraih emas di Athena menurut saya juga lebih besar dibandingkan saat di Atlanta. Saat Olimpiade 1996, bisa dibilang saya masih underdog dibandingkan pemain senior seperti Bang Soo Hyun.
Di Olimpiade 2004, saya bisa mengalahkan semua lawan sebelum Olimpiade berlangsung. Gong Ruina yang selama ini sulit dikalahkan, bisa saya taklukkan di bulan April 2004.
Kemenangan atas Gong Ruina di Jepang itu yang membuat kepercayaan diri saya meningkat dan dia menurun. Saya akhirnya bisa mengalahkan Gong Ruina di semifinal Olimpiade dan melaju ke final.
Selama saya berkarier, penampila melawan Gong Ruina di semifinal Olimpiade itu menurut saya merupakan penampian terbaik. Semua strategi saya berjalan baik. Kemenangan yang saya dapat begitu telak dan begitu mengejutkan.
Di blok semifinal lain, Zhou Mi juga sempat saya kalahkan di semifinal Jepang terbuka. Karena itu kemudian saat itu sempat ramai kabar Zhou Mi disuruh melepas dan tidak bermain ketika melawan Zhang Ning. Zhang Ning yang akhirnya ke final dan jadi lawan saya.
Dalam persiapan melawan Zhang Ning, sebenarnya setelah kemenangan saya di Piala Uber 1994, Zhang ning ngedrop banget. Setelah kalah di laga itu, Zhang ning ngedrop selama bertahun-tahun. Saya malah bisa dibilang paling gampang menang bila bertemu Zhang Ning dibanding saat menghadapi pemain China lainnya.
Namun setahun sebelum Olimpiade, tepatnya di Kejuaraan Dunia 2003, di situlah pertama kalinya Zhang Ning menang lawan saya setelah bertahun-tahun.
Saya tidak sedang mencari alasan, tetapi sebelum Kejuaraan Dunia itu digelar, tiba-tiba ada SARS dan dibatalkan semua jadwal yang sudah disusun. Sebenarnya saat itu saya sudah persiapan dengan baik dan sangat siap tempur di Kejuaraan Dunia.
Karena belum jelas soal penundaan Kejuaraan Dunia, akhirnya saya liburan dan tidak latihan. Saya datang ke Indonesia untuk berjumpa keluarga. Saya makan segala macam makanan yang saya kangenin.
Kemudian tiba-tiba datang pengumuman Kejuaraan Dunia jadi berlangsung di Agustus. Persiapan saya kurang. Di situlah pertaa kali Zhang Ning mengalahkan saya ketika kami berjumpa di semifinal. Zhang Ning lalu akhirnya bisa jadi juara dunia.
Smenjak itu dia jadi lebih berani. Percaya dirinya naik setelah biasanya tertekan. Bila tidak begitu, tak mungkin Zhang Ning dipasang, bisa jadi jatuhnya ke Zhou Mi.
Saya kalah di final Olimpiade Athena 2004. Saya lebih sedih bila dibandingkan Atlanta 1996. Di atas kertas, saya punya kesempatan menang lebih baik tetapi saya sadar bahwa sebagai pemian, saya tidak bisa memberi lebih dari yang terbaik yang telah ditunjukkan di lapangan.
Mia Audina puas dengan keberhasilannya melakukan beberapa kali comeback di dunia badminton setelah sempat diragukan. (AFP/TORU YAMANAKA)
Kekalahan di Athena tentu disayangkan karena saya maunya emas. Tetapi selama saya sudah melakukan yang terbaik, tidak ada penyesalan.
Setelah mendapat perak Olimpiade, saya sangat disambut ketika pulang ke Belanda. Mereka begitu menghargai. Dari kacamata orang lain, mereka memberi penghargaan. Mereka begitu senang. Namun dari diri saya sendiri, sebagai sosok yang perfeksionis, ada rasa sedih terkait hasil tersebut.
Saya memutuskan pensiun dari badminton pada 2006. Bila menilik perjalanan karier saya, tidak ada hal yang disesali. Namun apakah ada yang disayangkan? Ya, seperti di Athena dan Atlanta.
Kalau yang disesali tidak ada, karena saya sudah melakukan yang terbaik. Penyesalan tidak ada.
Soal kebanggaan terbesar, saya tidak akan sebut tentang prestasi yang diraih. Kebanggaan terbesar saya itu adalah karena saya bisa comeback beberapa kali.
Comeback itu sulit. Itu yang membanggakan bagi saya, bisa comeback walaupun situasi begitu berat.
Kalau mencoba comeback, berarti harus dari nol lagi. Misal sebelumnya ranking 1 dunia, berarti harus dari kualifikasi lagi.
Saya beberapa kali berhasil comeback, mulai dari saat cedera, mulai dari saat mami saya meninggal, hingga waktu pindah ke Belanda. Semua berat sekali.
Karena itulah, keberhasilan melakukan comeback adalah hal yang paling membanggakan bagi saya.
Nama saya diumumkan terdaftar di susunan pemain Piala Uber 1994. Tentu tegang sekali, tetapi saya sudah bertekad untuk melakukan yang terbaik.
Indonesia lalu unggul 2-0 atas China di final. Satu kemenangan lagi, Indonesia akan jadi juara dan saya tentu tidak perlu main.
Tetapi ternyata tunggal putri kedua kalah, lalu ganda putri kedua bermain, saya sudah mulai pemanasan. Ternyata skor berubah jadi 2-2 dan bagi saya bebannya berat. Laga yang saya mainkan adalah penentuan.
Saya coba tidak terlalu banyak berpikir macam-macam. Saya hanya fokus dan memikirkan cara main seperti apa yang bakal di tampilkan di lapangan.
Saya belum pernah bertemu Zhang Ning sebelumnya. Saya lihat kami berdua sama-sama tegang. Begitu permainan dimulai, tak semua taktik yang saya siapkan bisa berjalan.
Dengan kondisi itu, fokus saya hanya berusaha sekeras tenaga untuk dapat poin.
Saya menang di set pertama dan terasa ada angin segar untuk saya. Saat itu Istora Senayan sudah penuh sekali, namun fokus saya tidak teralihkan. Fokus saya tetaplah bagaimana cara memenangkan set kedua.
Di set kedua saya memimpin dan mendapat match point pada angka 10-6. Saat itu ada kesempatan besar untuk menang, tetapi gagal saya lakukan.
Saya melompat dan kesal karena malah gagal menyelesaikan pertandingan. Usai kegagalan itu, saya kemudian malah kalah di set kedua.
Dalam momen keunggulan tersebut, saya sama sekali tidak merasa over confident dan menganggap sudah menang. Sampai akhirpun saya masih merasa tegang.
Saya masih merasa lawan memiliki kesempatan. Kalau saya sampai kalah di set kedua, dari sisi psikologis, efeknya akan terkena pada saya.
Kalau atlet set pertama menang lalu set kedua hampir menang dan kemudian kalah, biasanya dari sisi psikologis sang atlet tersebut tidak akan bisa menjalankan set ketiga dengan baik. Yang sering saya dengar seperti itu. Apalagi saya tidak punya pengalaman.
Tetapi saya yakin bahwa di lapangan tidak selalu semua logika bisa keluar. Tidak selalu yang terpikir bisa terjadi. Walaupun down, saya harus bisa bangkit di set ketiga. Semua harus saya kerahkan di lapangan.
Mia Audina menunjukkan bakat besar sejak masih balita. (AFP/TOMMY CHENG)
Saat memulai set ketiga, saya tidak mendengar apa-apa dari penonton. Suara teriakan kencang tidak terdengar oleh saya, begitu juga celetukan-celetukan. Saya coba untuk kembali fokus.
Mau tidak mau dari nol lagi. Saya harus bisa bangkit lagi, coba lupakan set kedua. Jangan dipikirkan kenapa kalah di set kedua. Zhang Ning pasti dalam kondisi lebih percaya diri.
Usaha keras dan maksimal yang saya lakukan membuahkan hasil. Saya memenangi set ketiga. Indonesia juara!
Perasaan saya lega banget. Susah untuk menerangkan detail perasaan satu per satu. Senangnya tidak terbayang. Tegangnya hilang. Menangis dan tertawa bisa bersamaan, jadi itulah yang keluar ekspresinya.
Saya tidak terlalu ingat dengan detail yang terjadi. Tahu-tahu semua tim masuk. Karena sedang gembira, saya tidak terlalu memperhatikan sekitar. Tahu-tahu lapangan sudah full. Saya bahkan tidak tahu raket yang saya pegang ke mana. Lalu saya digendong dan dibawa hingga masuk ke ruangan atlet.
Kemenangan di Piala Uber 1994 itu benar-benar booming. Sebelumnya nama saya memang sudah mulai dikenal seiring perjalanan Indonesia di Piala Uber karena tiap hari disiarkan di televisi dan banyak pemberitaan.
Namun setelah jadi penentu kemenangan, baru benar-benar booming. Saya sempat diragukan. Apa benar 14 tahun?
Lalu banyak yang bertanya ke sekolah. Benar atau tidak, dia anak umur segini. Dari situlah lalu muncul istilah bocah ajaib.
Bila ditanya rahasianya, karena saya itu sosok yang tak gampang menyerah meski ada banyak faktor lainya. Bila saya dibilang tampil percaya diri, sebenarnya itu hanya terlihat dari luarnya.
Saya saja sampai pegang shuttlecock gemetaran dan bahkan sampai jatuh. Saya berusaha untuk tidak gampang menyerah. Fokus untuk menang, bukan fokus untuk terkenal. Intinya fokus terhadap tujuan, soal terkenal itu efek belakangan.
Soal kematangan di usia 14 tahun, rasanya memang saya jatuhnya jadi lebih dewasa dibandingkan orang lain yang seumuran. Saya memang merasa lebih gampang bergaul dengan yang lebih tua dari saya.
Menengok ke belakang, saya mulai bermain badminton karena diajak keluarga. Papa saya suka badminton, begitu juga keluarga saya.
Waktu umur tiga tahun, saya disuruh pegang raket lalu dikasih shuttlecock. "Ayo coba pukul", kata keluarga saya. Ternyata kena. Pertama kali coba, langsung kena. Dari situ banyak yang berpikir bahwa saya punya talenta.
Sebagai perbandingan di kemampuan lain, di usia empat tahun saya sudah bisa membaca. Jadi sebelum masuk TK sudah bisa membaca. Mungkin memang saya termasuk anak yang bisa cepat untuk itu.
Mulai belajar umur tiga tahun, saat usia lima tahun saya sudah ikut pertandingan pertama. Terus di usia tujuh tahun saya sudah juara di level nasional untuk kategori usia di bawah 10 tahun.
Mulai dari situ, saya sudah berpikir untuk serius di badminton dan ingin jadi juara dunia. Pertama kali saya diminta PBSI untuk masuk pelatnas di usia 11 tahun. Saat itu saya sudah bisa jadi juara nasional untuk kategori usia di bawah 18 tahun. Di setiap pertandingan saya sudah sering juara.
Permintaan PBSI itu tidak dipenuhi oleh orang tua saya. Mereka bilang saya masih belum lulus SD. Saya harus lulus SD dulu baru boleh masuk pelatnas.
Akhirnya saya masuk pelatnas di usia 13 tahun pada 1993 setelah saya lulus SD. Sudah tidak ada lagi penolakan dari orang tua karena sudah lulus SD. Bagi mereka, ini juga saat yang tepat untuk saya mengalihkan fokus untuk go international. Semakin muda, tentu bakal punya peluang untuk semakin berprestasi dan bakal semakin bagus.
Sejak masuk pelatnas, saya langsung berpikir untuk bisa langsung masuk ke persaingan internasional. Saya bertekad untuk mencoba memberikan kemampuan maksimal. Harus bisa berprestasi saat dikirim ke pertandingan manapun.
Saat persiapan Piala Uber, saya terpilih untuk ikut seleksi. Setelah melewati sejumlah pertandingan, saya akhirnya terpilih masuk skuad Piala Uber.
Saya baru dipasang saat melawan Denmark. Saya selalu bertekad bila sudah dipasang harus menang. Saat melawan Denmark saya bisa menang. Ketika melawan Korea Selatan di semifinal, saya juga bisa menang.
Walaupun Indonesia sudah pasti menang lawan Korea Selatan, saya tetap tidak mau kalah dan merasa santai. Pikiran saya, bila saya kalah, saya tidak akan dipasang di babak final. Itulah yang akhirnya membuat saya bisa menang dan terpilih kembali dalam susunan pemain di babak final.
Mia Audina mengukir banyak prestasi baik sebagai wakil Indonesia maupun Belanda. (AFP/ADEK BERRY)
Cedera Parah dan Perak Olimpiade 1996
Selepas Piala Uber 1994, karier saya makin meningkat. Kalau tidak salah di akhir 1994 atau awal 1995 saya sudah sempat naik ke peringkat lima dunia.
Saat persiapan lancar tersebut, tiba-tiba saya mengalami cedera di Badminton Grand Prix Finals di akhir 1995. Saya salah posisi saat bermain dan mengalami cedera di lutut kanan, tepatnya di meniscus.
Karena cedera itu bahkan saya sempat divonis tidak akan bisa main badminton lagi. Saya divonis seperti itu, tetapi Tuhan berkehendak lain.
Meski saya bisa sembuh, namun bisa tampil di Olimpiade tetap merupakan sebuah kejutan.
Saya baru bisa kembali bermain pada bulan Maret 1996 tetapi itu juga kalah. Barulah pada Piala Uber 1996 di bulan Mei, saya mulai bisa mencatat hasil positif.
Saya bisa kembali menang dan membawa Indonesia juara. Dari situ kepercayaan diri saya untuk menghadapi Olimpiade mulai bangkit.
Soal cedera, kondisi saya belum pulih total saat Olimpiade tiba. Memang cedera sudah sembuh tetapi masih ada perasaan trauma. Sangat sulit.
Dari segi permainan, bila saya sedang berada pada posisi mengambil shuttlecock seperti saat mengalami cedera, hal itu susah bagi saya. Saya harus mengatasi perasaan seperti itu. Saya terus menekankan pada diri saya bahwa hal ini bukanlah masalah.
Rasanya saat itu Kak Susy Susanti yang lebih diharapkan untuk meraih medali emas Olimpiade. Tetapi saya adalah tipe orang yang perfeksionis. Tujuan saya selalu jadi yang terbaik.
Saya mau emas Olimpiade walaupun logikanya tidak masuk karena saya baru sembuh cedera. Tetapi itu tetap tujuan saya.
Kami berdua masuk semifinal namun kemudian saya menang lalu Kak Susy kalah. Meski Olimpiade bukan turnamen beregu, kalau Kak Susy menang, Indonesia sudah pasti emas. Setelah itu tentu tinggal saya dan Kak Susy bertanding menentukan juaranya.
Saat Kak Susy kalah, berarti otomatis Indonesia belum pasti emas. Otomatis pasti berat dan tegang bagi saya apalagi Olimpiade hanya empat tahun sekali.
Di final akhirnya saya kalah dari Bang Soo Hyun. Ada dua sisi saya merespons kekalahan tersebut. Satu, adalah hal yang membanggakan saya bisa bangkit dari cedera. Ada rasa bangga juga pasti bisa meraih perak Olimpiade di usia 16 tahun.
Namun saya tak memungkiri bahwa bagi saya yang perfeksionis, kekalahan di Olimpiade ini membuat sedih. Karena itu saya terus menangis.
Padahal seharusnya saya bisa gembira tidak usah menangis karena meraih medali perak setelah melalui masa sulit.
Bagi saya, tetap ada rasa disayangkan kenapa dapat perak. Mungkin karena saya orangnya tidak gampang puas.
Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>
Memutuskan Pindah ke Belanda
Mia Audina berhasil mempersembahkan medali perak Olimpiade untuk Belanda. (AFP PHOTO/GOH CHAI HIN)
Dari sebelum Olimpiade 1996 hingga 1999, mami saya sakit keras. Selama itu sama sekali tidak ada pikiran untuk pindah dari Indonesia.
Dari dulu fokus saya main untuk mami, membanggakan mami, dan juga membiayai mami.
Setelah mami meninggal di 1999, karena apapun yang saya lakukan selama ini untuk mami, begitu mami tidak ada rasanya jadi hampa.
Saya sangat kehilangan, begitu kehilangan, karena saya dan mami dekat sekali. Saya masih 19 tahun. Saya tahu karier saya masih panjang tetapi saya tahu bahwa saya butuh sesuatu yang baru untuk berprestasi.
Karena mami saya meninggal dan butuh motivasi baru untuk berprestasi, itulah alasan saya pindah ke Belanda. Saya pindah bukan karena mengikuti suami.
Waktu saya bicarakan keputusan saya dengan PBSI, mereka menyayangkan tetapi mereka menghargai pilihan saya. Mereka menghargai apa yang saya pilih karena memang tidak gampang keadaannya.
Mia Audina sudah jadi warga negara Belanda sejak tahun 2000. ( AFP/MARTIN HAYHOW)
Di Belanda, perjuangan tidak gampang karena Belanda bukan negara yang akrab dengan badminton. Di Belanda tidak ada pelatnas tempat atlet berkumpul secara bersama-sama dan tinggal di sana.
Di Jakarta, lingkungan pelatnas mendukung. Untuk latihan, tiap atlet hanya tinggal menyeberang ke lapangan. Sedangkan di Belanda, kami harus bolak-balik naik mobil. Tempat latihan ada di dekat perbatasan Jerman, sekitar 220 km.
Semuanya berbeda di Belanda. Tentu berat karena harus adaptasi latihan, bahasa, dan kehidupan. Tetapi saya adalah orang yang bila sudah memilih sebuah hal, saya akan konsekuen terhadap hal tersebut.
April 2000, saya sudah resmi jadi warga negara Belanda. Saya mendapatkan prioritas karena mungkin punya prestasi bagus. Saya juga bisa adaptasi lumayan cepat. Dengan menjadi warga negara Belanda, saya bisa membela Belanda di Olimpiade.
Saat sudah membela Belanda dan bertemu pemain-pemain Indonesia, tidak ada rasa canggung dan kami tetap ngobrol bila bertemu. Teman tetap teman dan mereka menghargai pilihan saya.
Saya merasa efek kehadiran saya besar di Belanda seiring dengan prestasi internasional yang saya raih. Kalau prestasi di sebuah cabang olahraga bagus, tentu bakal disorot, entah oleh NOC setempat ataupun dari media.
Berbicara Olimpiade bersama Belanda, saya merasa posisi saya sangat bagus jelang Olimpiade 2004 di Athena. Peluang meraih emas di Athena menurut saya juga lebih besar dibandingkan saat di Atlanta. Saat Olimpiade 1996, bisa dibilang saya masih underdog dibandingkan pemain senior seperti Bang Soo Hyun.
Di Olimpiade 2004, saya bisa mengalahkan semua lawan sebelum Olimpiade berlangsung. Gong Ruina yang selama ini sulit dikalahkan, bisa saya taklukkan di bulan April 2004.
Kemenangan atas Gong Ruina di Jepang itu yang membuat kepercayaan diri saya meningkat dan dia menurun. Saya akhirnya bisa mengalahkan Gong Ruina di semifinal Olimpiade dan melaju ke final.
Selama saya berkarier, penampila melawan Gong Ruina di semifinal Olimpiade itu menurut saya merupakan penampian terbaik. Semua strategi saya berjalan baik. Kemenangan yang saya dapat begitu telak dan begitu mengejutkan.
Di blok semifinal lain, Zhou Mi juga sempat saya kalahkan di semifinal Jepang terbuka. Karena itu kemudian saat itu sempat ramai kabar Zhou Mi disuruh melepas dan tidak bermain ketika melawan Zhang Ning. Zhang Ning yang akhirnya ke final dan jadi lawan saya.
Dalam persiapan melawan Zhang Ning, sebenarnya setelah kemenangan saya di Piala Uber 1994, Zhang ning ngedrop banget. Setelah kalah di laga itu, Zhang ning ngedrop selama bertahun-tahun. Saya malah bisa dibilang paling gampang menang bila bertemu Zhang Ning dibanding saat menghadapi pemain China lainnya.
Namun setahun sebelum Olimpiade, tepatnya di Kejuaraan Dunia 2003, di situlah pertama kalinya Zhang Ning menang lawan saya setelah bertahun-tahun.
Saya tidak sedang mencari alasan, tetapi sebelum Kejuaraan Dunia itu digelar, tiba-tiba ada SARS dan dibatalkan semua jadwal yang sudah disusun. Sebenarnya saat itu saya sudah persiapan dengan baik dan sangat siap tempur di Kejuaraan Dunia.
Karena belum jelas soal penundaan Kejuaraan Dunia, akhirnya saya liburan dan tidak latihan. Saya datang ke Indonesia untuk berjumpa keluarga. Saya makan segala macam makanan yang saya kangenin.
Kemudian tiba-tiba datang pengumuman Kejuaraan Dunia jadi berlangsung di Agustus. Persiapan saya kurang. Di situlah pertaa kali Zhang Ning mengalahkan saya ketika kami berjumpa di semifinal. Zhang Ning lalu akhirnya bisa jadi juara dunia.
Smenjak itu dia jadi lebih berani. Percaya dirinya naik setelah biasanya tertekan. Bila tidak begitu, tak mungkin Zhang Ning dipasang, bisa jadi jatuhnya ke Zhou Mi.
Saya kalah di final Olimpiade Athena 2004. Saya lebih sedih bila dibandingkan Atlanta 1996. Di atas kertas, saya punya kesempatan menang lebih baik tetapi saya sadar bahwa sebagai pemian, saya tidak bisa memberi lebih dari yang terbaik yang telah ditunjukkan di lapangan.
Mia Audina puas dengan keberhasilannya melakukan beberapa kali comeback di dunia badminton setelah sempat diragukan. (AFP/TORU YAMANAKA)
Kekalahan di Athena tentu disayangkan karena saya maunya emas. Tetapi selama saya sudah melakukan yang terbaik, tidak ada penyesalan.
Setelah mendapat perak Olimpiade, saya sangat disambut ketika pulang ke Belanda. Mereka begitu menghargai. Dari kacamata orang lain, mereka memberi penghargaan. Mereka begitu senang. Namun dari diri saya sendiri, sebagai sosok yang perfeksionis, ada rasa sedih terkait hasil tersebut.
Saya memutuskan pensiun dari badminton pada 2006. Bila menilik perjalanan karier saya, tidak ada hal yang disesali. Namun apakah ada yang disayangkan? Ya, seperti di Athena dan Atlanta.
Kalau yang disesali tidak ada, karena saya sudah melakukan yang terbaik. Penyesalan tidak ada.
Soal kebanggaan terbesar, saya tidak akan sebut tentang prestasi yang diraih. Kebanggaan terbesar saya itu adalah karena saya bisa comeback beberapa kali.
Comeback itu sulit. Itu yang membanggakan bagi saya, bisa comeback walaupun situasi begitu berat.
Kalau mencoba comeback, berarti harus dari nol lagi. Misal sebelumnya ranking 1 dunia, berarti harus dari kualifikasi lagi.
Saya beberapa kali berhasil comeback, mulai dari saat cedera, mulai dari saat mami saya meninggal, hingga waktu pindah ke Belanda. Semua berat sekali.
Karena itulah, keberhasilan melakukan comeback adalah hal yang paling membanggakan bagi saya.