Prestasi Timnas Indonesia, Jurang Pemisah STY dan Exco PSSI

CNN Indonesia
Senin, 17 Jan 2022 07:56 WIB
Cara pandang mengenai fokus prestasi menjadi perbedaan di antara Shin Tae Yong dengan salah satu anggota komite eksekutif (exco) PSSI, Haruna Soemitro. Shin Tae Yong pernah menjelaskan tidak akan menitikberatkan fokus pada prestasi Timnas Indonesia. (AP/Suhaimi Abdullah)
Jakarta, CNN Indonesia --

Cara pandang mengenai fokus prestasi menjadi perbedaan di antara pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae Yong, dengan salah satu anggota komite eksekutif (exco) PSSI, Haruna Soemitro.

Haruna menyatakan Shin tersinggung dalam rapat evaluasi membahas Timnas Indonesia di Piala AFF 2020. Menurut Haruna, Shin tidak senang dengan respons komite eksekutif PSSI yang menyamakannya dengan pelatih-pelatih lain yang gagal membawa skuad Garuda tampil sebagai juara Piala AFF.

"Tersinggungnya itu bisa dibilang begini, Indonesia itu kalau hanya runner-up sudah biasa. 'Sebelum Anda itu [Indonesia] sudah lima kali jadi runner-up'. Ya ada atau tidak adanya Shin Tae Yong itu prestasi tertinggi kita itu runner-up," ucap Haruna.


"Kalau prestasinya hanya runner-up ya apa bedanya dengan yang kemarin [pelatih sebelumnya]," sambungnya kepada CNNIndonesia.com.

Capaian prestasi menjadi titik tolak Haruna dalam mengevaluasi Shin. Hal tersebut berbeda dengan pandangan mantan pelatih Korea Selatan itu.

Shin pernah menyatakan keinginan mengubah sistem sepak bola Indonesia agar tidak fokus pada prestasi semata. Dalam wawancara dengan salah satu media Korea tahun lalu, Shin menjelaskan lebih mengedepankan program untuk pemain muda.

"Sebenarnya saya ke Indonesia untuk mengubah sistem sepak bolanya. Daripada terlalu menitikberatkan pada prestasi. Saya berpikir akarnya harus kuat, agar ke atasnya juga kuat," ujar Shin Tae Yong dalam wawancara yang diunggah di kanal YouTube Masters

"Tidak bisa hanya membebankan prestasi di kancah senior kepada pelatih. Sebelum saya masuk, Indonesia adalah tim dengan rata-rata pemain tertua di Asia Tenggara. Tapi sekarang di tangan saya rata-ratanya 21,5 tahun. Tim seniornya rata-rata berumur 21,5 tahun. Saya benar-benar merekrut pemain-pemain muda," lanjutnya.

Menyadari tidak akan berada di Indonesia selamanya, Shin memilih mengembangkan pemain muda guna kelanjutan regenerasi tim.

"Karena saya bukanlah orang yang akan terus berada di sana. Bagaimanapun saya harus menempa pemain muda dan mengubah sistemnya. Saya berusaha membuat tim dengan pemikiran seperti itu," kata Shin.

(nva/nva)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER