Umar Syarief meraih 12 medali emas SEA Games dari cabang olahraga karate semasa aktif. (AFP/MIKE CLARKE)
Jakarta, CNN Indonesia --
Saya berasal dari keluarga tentara. Masa kecil saya dihabiskan di Bhumi Marinir, Karang Pilang, Surabaya, tempat ayah saya bertugas.
Sejak masih kanak-kanak pula saya sudah dimasukkan ayah ke karate. Ayah ingin saya belajar bela diri. Ini berbeda dengan kakak perempuan saya, Azizah, yang menekuni olahraga voli.
Kakak saya bahkan berstatus atlet nasional. Dia juga berhasil mempersembahkan medali perak di SEA Games 1997 saat Indonesia menjadi tuan rumah.
Semasa kanak-kanak bisa dibilang saya agak bandel. Mungkin kenakalan saya itu yang kemudian jadi pertimbangkan ayah untuk mengarahkan saya menekuni seni bela diri karate.
Saat berlatih karate saya sering dipertemukan dengan karateka yang lain. Bahkan pernah ada yang saya pukulin sampai muntah-muntah. Herannya pelatih saya malah tertawa waktu itu.
Di luar kegiatan karate, saya seringkali berantem dengan orang lain. Sering berantem dan saya juga punya geng sendiri juga. Namanya anak sekolah zaman itu. Ha..ha..ha..
Saking bandelnya saya juga punya nama panggilan tersendiri yang melekat sampai sekarang. Saya punya nama panggilan Fadli di lingkungan rumah saya, bukan Umar Syarief.
Umar Syarief berasal dari keluarga tentara dan besar di Surabaya. (Arsip Pribadi) Umar Syarief
Nama itu yang kasih Umi saya. Dulu itu ada pemeran di film namanya dokter Fadli. Orangnya nakal. Akhirnya jadilah saya dipanggil Fadli dan bukan Umar.
Karena kenakalan itu banyak masalah yang saya timbulkan. Pernah juga berantem dengan orang di jalanan. Tetapi saya beruntung karena mengenal karate.
Kenakalan saya bisa tersalurkan dan saya bersyukur karena akhirnya bisa menjadi seorang atlet nasional. Andai dulu tidak begitu, saya tidak tahu mau jadi apa.
Seni bela diri karate menjadi pintu saya membela Indonesia di ajang internasional. Saya kali pertama masuk timnas Karate saat 19 tahun atau 20 tahun setelah tampil di PON 1996, dan di tahun yang sama saya langsung ikut Kejuaraan Dunia di Afrika Selatan.
Ada perasaan takut waktu itu karena baru kali pertama tampil. Apalagi lawannya berpostur besar dan lincah. Saya sampai bolak-balik ke kamar mandi sebelum bertarung. Benar-benar gugup. Hasilnya saya tidak bisa berbuat banyak.
Saya belajar banyak dari kekalahan di kejuaraan besar pertama itu. Meski hasilnya mengecewakan, saya tetap punya mimpi besar membuktikan bahwa karateka Indonesia suatu saat bisa mengalahkan negara-negara Timur Tengah menjadi jawara Asia.
Pada 1997 saya untuk kali pertama bertanding di SEA Games yang berlangsung di Jakarta. Saya yang masih karateka junior, alhamdulillah dapat dua emas dari nomor perorangan 84 kilogram dan beregu.
Dua tahun berselang, di SEA Games 1999, saya harus puas dengan medali perak di perorangan tetapi di beregu bisa dapat emas. Kekalahan di final perorangan itu menyakitkan karena saya sempat unggul 4-1 atas wakil Malaysia, namun kemudian kalah 5-6.
Meski gagal dapat emas jalan saya sebagai karateka nasional bisa dibilang lumayan mulus. Langsung mengukir prestasi dan juga mulai diperhitungkan karateka dari negara lain. Bukan hanya Asia Tenggara, tetapi juga Asia.
Namun jalan hidup tak selamanya mulus dan saya sadar akan hal itu. Ujian untuk saya menjadi karateka yang diperhitungkan datang di SEA Games 2001.
Diproyeksikan untuk medali emas nyatanya saya hanya bisa meraih perunggu di nomor perorangan. Kegagalan itu membuat saya dimaki-maki oleh ketua umum PB FORKI masa itu.
Ketua umum PB FORKI tidak melihat pertarungan saya karena datang belakangan. Tetapi beliau dapat informasi bahwa saya disebut enggak punya mental, meskipun saya sebenarnya tahu ada pengurus yang sengaja ingin menjatuhkan saya.
Umar Syarief berhasil merebut satu medali perunggu dan satu medali perak di ajang Asian Games. (AFP/MIKE CLARKE)
Saya dimarahi oleh ketua umum. Saya dibilang pecundang, bukan patriot, dan lain-lain. Saya tidak marah. Justru makian itu memotivasi saya, membulatkan tekad saya membuktikan anggapan itu salah.
Tahun 2002 menjadi kesempatan saya untuk membuktikan hal itu di Indonesia Open. Saya juga termotivasi ucapan pelatih saya. Dia bilang: "Mar, kamu tunjukkan ke mereka kalau orang Indonesia bisa juara Asia, bukan hanya orang Timur Tengah saja."
Saya tunjukkan di sana. Saya mengalahkan karateka dari Arab Saudi yang tingginya hampir dua meter. Saya menang telak 11-3 di final. Meski jadi juara, saya tidak berangkat ke Asian Games 2002 karena dikatakan kalau kelas berat karate itu penguasaanya ya orang Arab.
Saya tidak patah arang. Saya buktikan lagi dengan meraih medali emas SEA Games 2003 dan menjadi juara Asia tahun 2004. Saya buktikan bisa menjadi juara Asia tahun 2004 di Taiwan. Saya bungkam semua keraguan dengan prestasi yang saya raih.
Keberhasilan menjadi juara Asia membuka pintu buat saya tampil di World Games 2005 di Duisburg, Jerman. Ajang ini mempertandingkan seluruh atlet dari cabang olahraga yang tidak masuk Olimpiade. Masing-masing juara per zona ambil bagian di sana dan saya menjadi wakil Asia.
Setelah itu saya ambil bagian di ajang Master Cup juga di Jerman dan menjadi juara. Sepulangnya ke Indonesia, sebelum SEA Games ada pertandingan simulasi. Saya bertanding melawan karateka Malaysia.
Saya tetap bermain agresif. Karena mungkin ototnya lelah, di sana mulai sedikit cedera. Begitu diperiksa oleh dokter diketahui meniskus saya sobek dan otot ligamen lutut saya putus satu. Peristiwa itu terjadi sekitar dua bulan jelang SEA Games 2005 di Filipina.
Itu jadi salah satu momen terberat lainnya. Ketika itu para pelatih goyah, mengarah ke menyerah, karena saya cedera. Mereka angkat tangan karena SEA Games sudah begitu dekat.
Tetapi saya tidak menyerah. Tekad saya begitu besar untuk bisa bermain di SEA Games. Akhirnya saya putuskan ke rumah sakit, tidak ada pelatih yang mengantar. Saya katakan juga ke pihak rumah sakit untuk operasi pakai biaya sendiri, supaya bisa cepat dilakukan tindakan.
Kalau tidak begitu prosesnya akan lama karena awalnya saat datang ke rumah sakit saya diminta surat pengantar dari KONI karena berstatus atlet nasional.
Menunggu surat dulu kan butuh waktu lagi dan tidak langsung dioperasi. Maka itu saya putuskan keluar uang dari kantong pribadi.
Selesai operasi saya fokus ke recovery hingga akhirnya berangkat ke SEA Games Filipina dengan kaki yang belum sembuh. Di setiap pertandingan lutut kanan itu pasti saya balut. Benar-benar seperti robot, tidak bisa bergerak leluasa seperti biasanya.
Saya juga melawan rasa sakit. Selalu pakai obat nyeri. Sehabis pertandingan bagian lutut pasti saya kompres dan juga minum obat nyeri. Mental saya benar-benar diuji.
Namun buat saya itu tidak masalah, yang penting bisa senyaman mungkin berdiri dan masih bisa bergerak. Saya beruntung dengan kondisi yang terbatas itu bisa mempersembahkan tiga emas untuk Indonesia; beregu, kelas bebas, dan kelas 84kg.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
SEA Games 2005 selesai dengan tiga emas yang saya raih. Prestasi itu membuat saya ditargetkan bisa menyumbangkan medali emas di Asian Games 2006 di Doha.
Dalam masa persiapan itu saya cedera. Cedera total. Dari hanya satu otot ligamen yang putus, kali ini dua otot ligamen putus. Meniskus juga sobek.
Saya stres berat dikasih tahu seperti itu. Ditambah lagi vonis dari dokter tidak boleh bertanding. Rasanya gelap waktu itu.
Saya disuruh istirahat 12 bulan padahal sisa waktu yang ada untuk Asian Games Doha hanya lima bulan. Sadar diri dengan kondisi yang ada. Saya sampai serahkan uang saku dan uang akomodasi di sana. Saya serahkan semuanya kepada manajer.
Beruntung dalam saat sulit sekalipun ada yang masih begitu peduli pada saya. Waktu itu ada pelatih karate Jerman, tempat kami menggelar pemusatan latihan, yang memberikan semangat.
Pelatih itu rupanya memperhatikan saya karena terus terlihat murung. Dia kemudian bertanya "Umar, kamu mau bertanding?". Saya jawab, "Pasti saya mau main apapun risikonya."
Mendengar jawaban saya, dia bilang tidak bisa karena otot kamu tidak siap. Tetapi dia katakan selanjutnya, "Kamu bisa main tetapi hanya mengandalkan pengalaman saja."
Ucapan pelatih Jerman itu yang membangkitkan semangat saya. Saya berkomitmen apapun yang terjadi harus tetap bertanding di Asian Games.
Umar Syarief bertarung hanya dengan 'satu kaki' saat merebut medali perunggu Asian Games 2006). (AFP/MIKE CLARKE)
Pada akhirnya saya berangkat ke Asian Games dengan hanya satu kaki yang bisa bermain. Sejujurnya saya tidak terlalu peduli. Saya siap dengan risiko apapun demi Indonesia.
Setiap kali bertanding lutut kanan itu saya balut, ditambah lagi pelindung kaki dobel. Saya jatuh bangun di sana dan lolos sampai ke semifinal. Di babak itu saya kalah dari karateka Kuwait, juara Asia dan dia juga yang akhirnya jadi juara Asian Games 2006.
Di perebutan tempat ketiga saya bertemu karateka Korea Selatan. Pada momen itu saya sudah tidak ingat lagi akan cedera saya. Dalam pikiran hanya bagaimana saya bisa merebut medali. Saya ingin mengibarkan bendera merah putih.
Saat pertarungan berlangsung yang heran kaki kanan saya bisa melakukan tendangan, benar-benar spontan. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu, mungkin adrenalin juga. Mungkin juga dibantu sama yang di Atas (Allah SWT). Saya tidak habis pikir.
Dalam perebutan medali perunggu itu saya jatuh bangun tetapi tidak ada kata menyerah. Saya bisa menang 5-3 atas karateka Korsel. Saya bisa meraih medali perunggu dengan 'satu kaki'.
Seusai Asian Games 2006 saya putuskan operasi karena dua otot ligamen kaki kanan saya putus. Saya melakukan operasi di Swiss oleh dokter spesialis ortopedi. Saya disuruh istirahat 12 bulan.
Delapan bulan pascaoperasi saya sudah enggak betah. Mulai bertanding lagi karena proses pemulihannya berjalan cepat. Saya ikut kejuaraan di Swiss dan Austria, dengan salah satunya menjadi juara.
Tahun 2008 saya turun di PON Kalimantan Timur. Tiga emas berhasil saya raih di sana. Setelah itu saya lanjut main di ajang Master Cup pada tahun yang sama.
Saya mewakili Asia di sana dan berhasil meraih medali emas. Turnamen ini mempertemukan para juara dari benua yang berbeda.
Habis itu ikut series WKF Golden League dan meraih medali perunggu. Saat tampil di SEA Games 2009 juga emas bisa saya persembahkan untuk Indonesia.
Setahun berselang saya merebut medali perak di Asian Games 2010 juga dalam kondisi pascaoperasi otot ligamen lutut kiri putus.
Di SEA Games 2011 yang berlangsung di Indonesia saya meraih dua medali emas dan di SEA Games terakhir saya tahun 2013, medali emas kembali bisa saya persembahkan buat Indonesia. Total 12 medali emas SEA Games saya raih bersama Indonesia.
Saya juga delapan kali operasi kaki, untuk negara, untuk Merah Putih. Kaki saya dari tidak cacat, jadi cacat untuk Merah Putih. Sekarang saya jalan enggak bisa ditekuk.
Kalau diibaratkan sudah seperti robot. Tidak bisa ditekuk karena sudah tulang ketemu tulang, meniskusnya lututnya.
Harapan saya ke depan semoga pemerintah yang sekarang memperhatikan mantan atlet zaman saya maupun sebelumnya. Jangan sampai hanya memperhatikan atlet yang saat ini aktif kemudian yang lama dilupakan.
Kami semua ini kan sama-sama pejuang, sama-sama patriot. Perjuangannya juga sama kan, demi mengibarkan merah putih. Jadi jangan ada istilah atlet yang sebelumnya ya bagian Menpora sebelumnya, begitu juga yang sekarang.
Saya berasal dari keluarga tentara. Masa kecil saya dihabiskan di Bhumi Marinir, Karang Pilang, Surabaya, tempat ayah saya bertugas.
Sejak masih kanak-kanak pula saya sudah dimasukkan ayah ke karate. Ayah ingin saya belajar bela diri. Ini berbeda dengan kakak perempuan saya, Azizah, yang menekuni olahraga voli.
Kakak saya bahkan berstatus atlet nasional. Dia juga berhasil mempersembahkan medali perak di SEA Games 1997 saat Indonesia menjadi tuan rumah.
Semasa kanak-kanak bisa dibilang saya agak bandel. Mungkin kenakalan saya itu yang kemudian jadi pertimbangkan ayah untuk mengarahkan saya menekuni seni bela diri karate.
Saat berlatih karate saya sering dipertemukan dengan karateka yang lain. Bahkan pernah ada yang saya pukulin sampai muntah-muntah. Herannya pelatih saya malah tertawa waktu itu.
Di luar kegiatan karate, saya seringkali berantem dengan orang lain. Sering berantem dan saya juga punya geng sendiri juga. Namanya anak sekolah zaman itu. Ha..ha..ha..
Saking bandelnya saya juga punya nama panggilan tersendiri yang melekat sampai sekarang. Saya punya nama panggilan Fadli di lingkungan rumah saya, bukan Umar Syarief.
Umar Syarief berasal dari keluarga tentara dan besar di Surabaya. (Arsip Pribadi) Umar Syarief
Nama itu yang kasih Umi saya. Dulu itu ada pemeran di film namanya dokter Fadli. Orangnya nakal. Akhirnya jadilah saya dipanggil Fadli dan bukan Umar.
Karena kenakalan itu banyak masalah yang saya timbulkan. Pernah juga berantem dengan orang di jalanan. Tetapi saya beruntung karena mengenal karate.
Kenakalan saya bisa tersalurkan dan saya bersyukur karena akhirnya bisa menjadi seorang atlet nasional. Andai dulu tidak begitu, saya tidak tahu mau jadi apa.
Seni bela diri karate menjadi pintu saya membela Indonesia di ajang internasional. Saya kali pertama masuk timnas Karate saat 19 tahun atau 20 tahun setelah tampil di PON 1996, dan di tahun yang sama saya langsung ikut Kejuaraan Dunia di Afrika Selatan.
Ada perasaan takut waktu itu karena baru kali pertama tampil. Apalagi lawannya berpostur besar dan lincah. Saya sampai bolak-balik ke kamar mandi sebelum bertarung. Benar-benar gugup. Hasilnya saya tidak bisa berbuat banyak.
Saya belajar banyak dari kekalahan di kejuaraan besar pertama itu. Meski hasilnya mengecewakan, saya tetap punya mimpi besar membuktikan bahwa karateka Indonesia suatu saat bisa mengalahkan negara-negara Timur Tengah menjadi jawara Asia.
Pada 1997 saya untuk kali pertama bertanding di SEA Games yang berlangsung di Jakarta. Saya yang masih karateka junior, alhamdulillah dapat dua emas dari nomor perorangan 84 kilogram dan beregu.
Dua tahun berselang, di SEA Games 1999, saya harus puas dengan medali perak di perorangan tetapi di beregu bisa dapat emas. Kekalahan di final perorangan itu menyakitkan karena saya sempat unggul 4-1 atas wakil Malaysia, namun kemudian kalah 5-6.
Meski gagal dapat emas jalan saya sebagai karateka nasional bisa dibilang lumayan mulus. Langsung mengukir prestasi dan juga mulai diperhitungkan karateka dari negara lain. Bukan hanya Asia Tenggara, tetapi juga Asia.
Namun jalan hidup tak selamanya mulus dan saya sadar akan hal itu. Ujian untuk saya menjadi karateka yang diperhitungkan datang di SEA Games 2001.
Diproyeksikan untuk medali emas nyatanya saya hanya bisa meraih perunggu di nomor perorangan. Kegagalan itu membuat saya dimaki-maki oleh ketua umum PB FORKI masa itu.
Ketua umum PB FORKI tidak melihat pertarungan saya karena datang belakangan. Tetapi beliau dapat informasi bahwa saya disebut enggak punya mental, meskipun saya sebenarnya tahu ada pengurus yang sengaja ingin menjatuhkan saya.
Umar Syarief berhasil merebut satu medali perunggu dan satu medali perak di ajang Asian Games. (AFP/MIKE CLARKE)
Saya dimarahi oleh ketua umum. Saya dibilang pecundang, bukan patriot, dan lain-lain. Saya tidak marah. Justru makian itu memotivasi saya, membulatkan tekad saya membuktikan anggapan itu salah.
Tahun 2002 menjadi kesempatan saya untuk membuktikan hal itu di Indonesia Open. Saya juga termotivasi ucapan pelatih saya. Dia bilang: "Mar, kamu tunjukkan ke mereka kalau orang Indonesia bisa juara Asia, bukan hanya orang Timur Tengah saja."
Saya tunjukkan di sana. Saya mengalahkan karateka dari Arab Saudi yang tingginya hampir dua meter. Saya menang telak 11-3 di final. Meski jadi juara, saya tidak berangkat ke Asian Games 2002 karena dikatakan kalau kelas berat karate itu penguasaanya ya orang Arab.
Saya tidak patah arang. Saya buktikan lagi dengan meraih medali emas SEA Games 2003 dan menjadi juara Asia tahun 2004. Saya buktikan bisa menjadi juara Asia tahun 2004 di Taiwan. Saya bungkam semua keraguan dengan prestasi yang saya raih.
Keberhasilan menjadi juara Asia membuka pintu buat saya tampil di World Games 2005 di Duisburg, Jerman. Ajang ini mempertandingkan seluruh atlet dari cabang olahraga yang tidak masuk Olimpiade. Masing-masing juara per zona ambil bagian di sana dan saya menjadi wakil Asia.
Setelah itu saya ambil bagian di ajang Master Cup juga di Jerman dan menjadi juara. Sepulangnya ke Indonesia, sebelum SEA Games ada pertandingan simulasi. Saya bertanding melawan karateka Malaysia.
Saya tetap bermain agresif. Karena mungkin ototnya lelah, di sana mulai sedikit cedera. Begitu diperiksa oleh dokter diketahui meniskus saya sobek dan otot ligamen lutut saya putus satu. Peristiwa itu terjadi sekitar dua bulan jelang SEA Games 2005 di Filipina.
Itu jadi salah satu momen terberat lainnya. Ketika itu para pelatih goyah, mengarah ke menyerah, karena saya cedera. Mereka angkat tangan karena SEA Games sudah begitu dekat.
Tetapi saya tidak menyerah. Tekad saya begitu besar untuk bisa bermain di SEA Games. Akhirnya saya putuskan ke rumah sakit, tidak ada pelatih yang mengantar. Saya katakan juga ke pihak rumah sakit untuk operasi pakai biaya sendiri, supaya bisa cepat dilakukan tindakan.
Kalau tidak begitu prosesnya akan lama karena awalnya saat datang ke rumah sakit saya diminta surat pengantar dari KONI karena berstatus atlet nasional.
Menunggu surat dulu kan butuh waktu lagi dan tidak langsung dioperasi. Maka itu saya putuskan keluar uang dari kantong pribadi.
Selesai operasi saya fokus ke recovery hingga akhirnya berangkat ke SEA Games Filipina dengan kaki yang belum sembuh. Di setiap pertandingan lutut kanan itu pasti saya balut. Benar-benar seperti robot, tidak bisa bergerak leluasa seperti biasanya.
Saya juga melawan rasa sakit. Selalu pakai obat nyeri. Sehabis pertandingan bagian lutut pasti saya kompres dan juga minum obat nyeri. Mental saya benar-benar diuji.
Namun buat saya itu tidak masalah, yang penting bisa senyaman mungkin berdiri dan masih bisa bergerak. Saya beruntung dengan kondisi yang terbatas itu bisa mempersembahkan tiga emas untuk Indonesia; beregu, kelas bebas, dan kelas 84kg.
Baca lanjutan artikel ini di halaman selanjutnya>>>
8 Kali Operasi untuk Indonesia
Umar Syarief delapan kali operasi sepanjang karier sebagai karateka. (Arsip Pribadi)
SEA Games 2005 selesai dengan tiga emas yang saya raih. Prestasi itu membuat saya ditargetkan bisa menyumbangkan medali emas di Asian Games 2006 di Doha.
Dalam masa persiapan itu saya cedera. Cedera total. Dari hanya satu otot ligamen yang putus, kali ini dua otot ligamen putus. Meniskus juga sobek.
Saya stres berat dikasih tahu seperti itu. Ditambah lagi vonis dari dokter tidak boleh bertanding. Rasanya gelap waktu itu.
Saya disuruh istirahat 12 bulan padahal sisa waktu yang ada untuk Asian Games Doha hanya lima bulan. Sadar diri dengan kondisi yang ada. Saya sampai serahkan uang saku dan uang akomodasi di sana. Saya serahkan semuanya kepada manajer.
Beruntung dalam saat sulit sekalipun ada yang masih begitu peduli pada saya. Waktu itu ada pelatih karate Jerman, tempat kami menggelar pemusatan latihan, yang memberikan semangat.
Pelatih itu rupanya memperhatikan saya karena terus terlihat murung. Dia kemudian bertanya "Umar, kamu mau bertanding?". Saya jawab, "Pasti saya mau main apapun risikonya."
Mendengar jawaban saya, dia bilang tidak bisa karena otot kamu tidak siap. Tetapi dia katakan selanjutnya, "Kamu bisa main tetapi hanya mengandalkan pengalaman saja."
Ucapan pelatih Jerman itu yang membangkitkan semangat saya. Saya berkomitmen apapun yang terjadi harus tetap bertanding di Asian Games.
Umar Syarief bertarung hanya dengan 'satu kaki' saat merebut medali perunggu Asian Games 2006). (AFP/MIKE CLARKE)
Pada akhirnya saya berangkat ke Asian Games dengan hanya satu kaki yang bisa bermain. Sejujurnya saya tidak terlalu peduli. Saya siap dengan risiko apapun demi Indonesia.
Setiap kali bertanding lutut kanan itu saya balut, ditambah lagi pelindung kaki dobel. Saya jatuh bangun di sana dan lolos sampai ke semifinal. Di babak itu saya kalah dari karateka Kuwait, juara Asia dan dia juga yang akhirnya jadi juara Asian Games 2006.
Di perebutan tempat ketiga saya bertemu karateka Korea Selatan. Pada momen itu saya sudah tidak ingat lagi akan cedera saya. Dalam pikiran hanya bagaimana saya bisa merebut medali. Saya ingin mengibarkan bendera merah putih.
Saat pertarungan berlangsung yang heran kaki kanan saya bisa melakukan tendangan, benar-benar spontan. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu, mungkin adrenalin juga. Mungkin juga dibantu sama yang di Atas (Allah SWT). Saya tidak habis pikir.
Dalam perebutan medali perunggu itu saya jatuh bangun tetapi tidak ada kata menyerah. Saya bisa menang 5-3 atas karateka Korsel. Saya bisa meraih medali perunggu dengan 'satu kaki'.
Seusai Asian Games 2006 saya putuskan operasi karena dua otot ligamen kaki kanan saya putus. Saya melakukan operasi di Swiss oleh dokter spesialis ortopedi. Saya disuruh istirahat 12 bulan.
Delapan bulan pascaoperasi saya sudah enggak betah. Mulai bertanding lagi karena proses pemulihannya berjalan cepat. Saya ikut kejuaraan di Swiss dan Austria, dengan salah satunya menjadi juara.
Tahun 2008 saya turun di PON Kalimantan Timur. Tiga emas berhasil saya raih di sana. Setelah itu saya lanjut main di ajang Master Cup pada tahun yang sama.
Saya mewakili Asia di sana dan berhasil meraih medali emas. Turnamen ini mempertemukan para juara dari benua yang berbeda.
Habis itu ikut series WKF Golden League dan meraih medali perunggu. Saat tampil di SEA Games 2009 juga emas bisa saya persembahkan untuk Indonesia.
Setahun berselang saya merebut medali perak di Asian Games 2010 juga dalam kondisi pascaoperasi otot ligamen lutut kiri putus.
Di SEA Games 2011 yang berlangsung di Indonesia saya meraih dua medali emas dan di SEA Games terakhir saya tahun 2013, medali emas kembali bisa saya persembahkan buat Indonesia. Total 12 medali emas SEA Games saya raih bersama Indonesia.
Saya juga delapan kali operasi kaki, untuk negara, untuk Merah Putih. Kaki saya dari tidak cacat, jadi cacat untuk Merah Putih. Sekarang saya jalan enggak bisa ditekuk.
Kalau diibaratkan sudah seperti robot. Tidak bisa ditekuk karena sudah tulang ketemu tulang, meniskusnya lututnya.
Harapan saya ke depan semoga pemerintah yang sekarang memperhatikan mantan atlet zaman saya maupun sebelumnya. Jangan sampai hanya memperhatikan atlet yang saat ini aktif kemudian yang lama dilupakan.
Kami semua ini kan sama-sama pejuang, sama-sama patriot. Perjuangannya juga sama kan, demi mengibarkan merah putih. Jadi jangan ada istilah atlet yang sebelumnya ya bagian Menpora sebelumnya, begitu juga yang sekarang.