Jakarta, CNN Indonesia -- Bagi saya event seperti SEA Games, di mana kita bisa meraih emas, itu jadi masa-masa yang paling berkesan, karena hal tersebut adalah merupakan kehormatan dan harga diri Republik Indonesia.
Saya masuk Timnas Voli Indonesia sejak 1985 untuk area senior, tapi di junior sejak 1982. Sampai dengan SEA Games 2001 di Malaysia, total saya meraih lima medali emas: SEA Games 1987 di Jakarta, 1989 di Malaysia, 1991 di Manila-Filipina, 1993 di Singapura, dan 1997 di Jakarta.
Bahwa pada saat itu, masuk ke dalam Tim Nasional senior harus mempunyai prestasi terbaik di level Timnas junior, seperti juara di junior ASEAN, di pelajar ASEAN, dan di junior Asia tahun 1982 sampai 1985.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan prestasi di level international di tingkat junior, maka dapat masuk dalam level Timnas senior mulai tahun 1985.
Lalu yang paling berkesan yang mana? Yang paling berkesan itu saat dapat penghargaan pemain terbaik, karena tidak setiap SEA Games ada pembagian di area terbaik.
Di SEA Games 1991 Manila, selain di final lawan Thailand menang 3-2 dengan waktu yang sangat lama, sekitar 3 atau 4 jam, juga waktu itu saya mendapat penghargaan sebagai best server dan MPV (most valuable player). Saya juga kaget waktu itu.
Nah saya tidak bisa membayangkan, selain mengharumkan nama bangsa ternyata saya ini pemain terbaik Asia Tenggara. Itu merupakan suatu prestasi tertinggi bagi saya.
Yang jelas hitung-hitungan statistik untuk server terbaik itu sama saja seperti sekarang, memberikan banyak poin atau ace.
 Iman Agus Faizal mengatakan perjuangan jadi atlet nasional pada zamannya cukup berat. (Arsip Istimewa) |
Saya waktu itu juga bisa jump serve. Mungkin bisa dibilang jump server pertama di Asia Tenggara atau SEA Games. Sepanjang karier saya di timnas sejak 1985 sampai 1991, munculnya jump serve di Asia Tenggara itu saat SEA Games 1991.
Waktu zamannya saya itu belajar untuk bisa bermain bola voli yang baik tidak seperti sekarang. Kalau sekarang di media sosial atau di televisi, banyak caranya.
Zamannya saya, belajar main voli itu adalah saat kami itu bertanding ke luar negeri dan melihat tim Jepang, tim China, tim Korea Selatan.
Di situlah kami menonton pertandingan, di situlah kami belajar. Salah satunya saat itu adalah saya mengagumi pemain Jepang Yuichi Nakagaichi.
Saat Asian Championship 1991 (Kejuaraan Asia 1991) di Perth, Australia, dia menerapkan jump serve dan smes (setinggi) tiga meter. Saya belajar saat melihat dia tampil di Kejuaraan Asia 1991.
Jadi waktu jelang SEA Games 1991 itu Timnas Indonesia banyak melakukan try out. Try out pertama ke Fukuoka, Jepang, try out kedua ke Sheffield, Inggris ke Universiade, try out ketiga ke Kejuaraan Asia di Perth. Lalu ke SEA Games.
Dan saya langsung mempraktekkan jump serve tersebut dalam latihan. Kalau bicara jump serve sebenarnya mulai berlaku di tahun 1990, tapi kan tidak seperti sekarang, TV sudah bisa memperkenalkan ini itu segala macam.
Kalau saya kan mesti menunggu ke luar negeri, kebetulan ke luar negerinya tahun 1991. Dan saya melatih jump serve itu di klub, di JVC.
Lalu kenapa saya bisa menjadi pemain terbaik?
Ini mungkin hitungannya best scorer. Kalau berapa poin yang saya cetak, saya tidak tahu. Kalau tidak salah bukan hanya saya, Loudry Maspaitella juga dapat tosser terbaik. Saya best server, Loudry best tosser, yang lainnya dibagi-bagi, ada yang dari Thailand dan negara lain.
Jadi waktu tahun 1987 juga ada pemain terbaik, kebetulan saya dapat receiver terbaik sama satu penghargaan lain.
Melawan Thailand itu salah satu pertandingan yang berat. Kalau dulu kan tidak seperti sekarang, dulu masih ada pindah bola. Jadi pemain-pemain Thailand ini merujuk dari tim junior, sama kaya Indonesia.
Pada saat tahun 1985 (SEA Games) karena mereka tuan rumah, kami kalah, hanya mendapatkan perak. Begitu 1991 bertemu lagi, Thailand sudah mulai meningkat.
Mereka ulet, seperti saat sekarang. Bertanding melawan Thailand itu memang adu otak, bukan adu otot. Memang sama-sama kuat, sampai-sampai hingga 3 atau 4 jam. Pertandingan dimulai dari jam 4 sore sampai dengan malam.
 Iman Agus Faizal (ketiga kanan) belajar bola voli yang baik hanya saat ke luar negeri. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko) |
Intinya siapa yang kuat mental dia yang menang. Pindah bola, pindah bola, pindah bola terus. Seperti itu. Akhirnya yang kuat mental dialah yang menang.
Saat selesai selebrasinya sih yang normal saja, namanya senang ya senang. Tapi yang jelas pada saat itu faktor keletihannya sudah sangat tinggi, dua-duanya. Baik Indonesia baik Thailand.
Jadi selebrasinya hanya selebrasi normal saja. Itu GOR tribune-nya penuh sampai ke bawah. Sampai saya juga heran, saya seperti di Istora. Tapi penonton menikmati permainan yang diterapkan Indonesia dengan Thailand.
Sebenarnya kalau bicara mengenai prestasi, mana yang terbaik, mana yang berkesan, jadi seharusnya tidak ada satu atau dua yang berkesan. Prestasi yang berkesan itu adalah, bagaimana prestasi ini bisa membawa nama harum bangsa. Nah itu dia.
Jadi kalau bicara membawa nama harum bangsa, dan itu membuat prestasi, tentunya bila kita mendapatkan medali ataupun mendapatkan ranking yang terbaik.
Tidak mudah mengharumkan nama bangsa itu. Kenapa tidak mudah? Kalau kita bicara SEA Games, tidak usahlah kita bicara SEA Games, kalau kita bicara event internasional itu tidak asal tanding saja. Di mana di situ faktor mental itu sudah 99 persen.
Tetapi yang namanya berkesan saat itu tidak hanya di area SEA Games saja. Kami juga ikut di Kejuaraan Asia tahun 1991 di Perth, di mana kami bisa ranking lima, kami di bawah Jepang, China, Korea, Taiwan, baru Indonesia. Nah seperti itu.
Itu merupakan suatu kebanggaan, kebanggaan tersendiri. Di Asia ternyata kami bisa masuk di situ.
Baca kelanjutan berita ini di halaman berikutnya>>>
Petuah Ayah dan Larangan Jadi Pemain Bola
Iman Agus Faizal (tengah) saat menerima penghargaan MVP di SEA Games 1991. (Arsip Istimewa)
Jujur saja, zamannya saya itu menjadi pemain nasional adalah untuk bisa mendapatkan kehormatan di universitas. Karena waktu zamannya saya baik di Livo Karya atau di Tim Nasional uangnya dipergunakan untuk kuliah. Jujur, saya tidak pernah tarkam.
Di universitas itu saya dapat beasiswa. Jadi beasiswa itu ada di beberapa universitas, misalnya: Universitas Kristen Indonesia, terus ada Perbanas, terus ada Asmi. Karena saya di SMA psikotes harus masuk teknik sipil, otomatis ya saya di UKI.
Jadi saya mendapatkan beasiswa di situ. Jadi saya ingat kata-kata ayah saya: "Jika kamu jadi pemain nomor satu Indonesia di bola voli, itu bagus, tapi saya tidak bangga. Tapi saya akan bangga kalau kamu bisa menyelesaikan sekolah. Karena Indonesia itu belum bisa menerima seperti jaminan untuk masa depan".
Jadi bagi saya intinya, jadi pemain nasional itu untuk masuk kuliah. Saya tahun 1982 sudah masuk timnas junior, usia 15 tahun. Saya kuliah tahun 1985.
Saat saya masuk UKI itu ada PON dan SEA Games. Jadi begitu saya masuk di UKI, surat dispensasi dari KONI itu adalah segalanya. Tapi konsekuensinya harus bisa mengambil dobel SKS.
Ya saya bilang 'gak papa'. Begitu selesai SEA Games kita bereskan kuliah, tidurlah di kampus dari siang sampai malam, sampai segala macam. Itu sangat berat untuk mensejajarkan antara kuliah dan bola voli.
Yang jelas waktu junior itu, tim-tim junior nasional disatukan di perusahaan asuransi Timur Jauh. Tim asuransi Timur Jauh ini juara nasional Livo Karya 1985, 1986, 1987. Setelah itu tahun 1989 saya ke BCA, dari BCA setahun saya pindah ke Bimantara. Sampai tahun 1995.
Tahun 1995 saya keluar dari Bimantara karena sudah bekerja di BNI, lantaran sudah lulus kuliah S1 tahun 1993.
Di BNI saya harus memilih, karena tahun 1998 saya masih masuk tim nasional, tetapi saya harus memilih, antara karier di pekerjaan atau bola voli. Ya saya pilih karier lah.
Nah pada 1998 dengan kejadian seperti itu saya harus melihat karier di BNI, saya bukan pegawai dasar, saya bukan asisten, jadi apakah mau mengamankan meja atau ke tim nasional? Yakin saya, kalau saya ke nasional terus, meja saya diambil orang. Di situlah saya harus memilih.
Apa gunanya sarjana saya? Saya capek-capek jadi S1 masa main voli terus. Karena dulu tujuannya saya untuk sekolah. Saya ikut latihan voli juga untuk sekolah.
 Iman Agus Faizal (tengah) sejauh ini kerap terlibat di klub voli Jakarta BNI 46. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko) |
Karena mengikuti saran ayah itu juga akhirnya saya memilih bola voli, bukan sepak bola. Ayah saya adalah Paidjo Bustam, dia kiper Timnas Indonesia era 1950-an bersama Maulwi Saelan dan Ramang.
Jadi itu ceritanya saya waktu SD pemain sepak bola. Tapi saat saya sudah masuk SMP kelas 1, bapak saya mengatakan "Zal, kamu janganlah jadi pemain bola, soalnya nanti sekolahnya berantakan."
Terus saya diajak ikut SEA Games 1979 di Jakarta. Di situ saya lihat pak Gugi Gustaman, Eddy Wintoko, almarhum Liem Siauw Bok segala macam. Pas sudah begitu saya melihat bola voli, saya bilang ini mah olahraga mudah tidak seperti sepak bola.
Bapak saya tanya "Kamu mau ke olahraga ini?". Saya bilang "Mau". Ya sudah saya ikuti perintah dari almarhum Papa saya untuk berkecimpung masuk olahraga bola voli.
[Gambas:Video CNN]