Atlet anggar muslim di Amerika Ibtihaj Muhammad pernah buat surat untuk Donald Trump. (AFP/FABRICE COFFRINI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Setelah kejadian 9/11 di Amerika Serikat, masyarakat Muslim di Negeri Paman Sam mengalami diskriminasi termasuk atlet beragama Islam.
Menurut data dari News Gallup (2011), Amerika Serikat menjadi negara yang memiliki sentimen terhadap masyarakat Muslim sebesar 52 persen.
Serangan 11 September 2001 di Amerika membuka era baru kejahatan rasial,rasisme, dan xenophobia terhadap umat Islam. Islamophobia muncul dan mempengaruhi sebagian besar warga Amerika Serikat.
Seorang aktivis sekaligus penulis buku dan artikel bernama Robert Spencer meracuni serta menggambarkan agama Islam serta Muslim sebagai sesuatu yang berbahaya bagi Amerika.
Spencer menegaskan meskipun dia kurang memiliki pelatihan akademis tentang Islam, pada dasarnya agama tersebut mengandung kekerasan dan para ekstremis yang melakukan aksi teror hanya mengikuti versi paling otentik, tertulis pada situs web milik David Horowitz yang diluncurkan dua tahun setelah 9/11.
"Muslim terus menjadi sasaran kebencian, penindasan, dan diskriminasi sebagai akibat dari stereotip yang diabadikan oleh Islamofobia dan media pada tahun-tahun setelah serangan 9/11," ujar Hussam Ayloush, Direktur Eksekutif Los Angeles, dari Dewan Hubungan Amerika-Islam, dilansir oleh Al-Jazeera.
Diskriminasi terhadap Muslim di area Amerika merupakan dampak dari 9/11 yang hingga kepemimpinan Donald Trump masih terjadi, walaupun tidak seperti dahulu.
Legenda tinju dunia Muhammad Ali menjadi salah satu tokoh yang gencar membela Islam mulai 1960 hingga pasca 9/11. Ali memperjuangkan bahwa Islam bukan agama teroris.
"Para pemimpin politik kita seharusnya menggunakan posisi mereka untuk membawa pemahaman mengenai agama Islam, dan menjelaskan para pembunuh yang salah arah itu memiliki pandangan yang melenceng mengenai apa Islam sebenarnya," ujar Muhammad Ali, dilansir oleh VOA.
Sebagian besar pertandingan olahraga dibatalkan setelah 9/11 dan menjadi penghentian olahraga level liga utama terpanjang dalam sejarah Amerika.
Para atlet mendedikasikan diri mereka untuk mengunjungi petugas pertolongan pertama, para penyintas 9/11, dan keluarga korban.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Para atlet mendedikasikan diri mereka untuk mengunjungi petugas pertolongan pertama, para penyintas 9/11, dan keluarga korban.
Di 2017, atlet anggar Amerika Serikat, Ibtihaj Muhammad, membuat surat terbuka untuk Presiden Donald Trump agar bisa memberikan perlakuan yang sama kepada atlet muslim dan atlet berhijab dan menghentikan kebijakan atau langkah yang diskriminasi terhadap pemeluk agama Islam di Amerika Serikat.
Pada 2019 terjadi insiden yang melukai komunitas muslim di Amerika Serikat. Itu setelah atlet lari muslim Amerika Serikat Noor Alexandria Abukaram tiba-tiba didiskualifikasi saat dia sudah memenangkan lomba lari di Ohio. Dia didiskualifikasi karena mengenakan hijab.
Seiring berjalannya waktu, liga olahraga mengambil peran mereka sebagai bentuk persatuan dan pemulihan Amerika.
Walaupun maraknya Islamophobia pasca kejadian 9/11, namun kebijakan olahraga di Amerika terhadap atlet muslim tidak seketat Prancis.
Kebebasan pemain untuk menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan agamanya dibuat Amerika lewat peraturan pertandingan. Kini, MLS menjadi salah satu liga yang memberikan jeda buka puasa untuk pemain Muslim.
Maryland, negara bagian di Amerika Serikat juga mengeluarkan Undang-Undang yang melindungi hak-hak atlet perempuan berhijab untuk bertanding atau berolahraga tanpa adanya kekhawatiran.
Rancangan Undang-Undang yang disebut Undang-Undang Pakaian Inklusif membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk melalui perjuangan politik.
Meskipun, menurut data FBI, kejahatan kebencian terhadap Muslim tidak pernah turun kembali ke angka sebelum 2001 setelah meroket pada tahun 2015 dan 2016.
Setelah kejadian 9/11 di Amerika Serikat, masyarakat Muslim di Negeri Paman Sam mengalami diskriminasi termasuk atlet beragama Islam.
Menurut data dari News Gallup (2011), Amerika Serikat menjadi negara yang memiliki sentimen terhadap masyarakat Muslim sebesar 52 persen.
Serangan 11 September 2001 di Amerika membuka era baru kejahatan rasial,rasisme, dan xenophobia terhadap umat Islam. Islamophobia muncul dan mempengaruhi sebagian besar warga Amerika Serikat.
Seorang aktivis sekaligus penulis buku dan artikel bernama Robert Spencer meracuni serta menggambarkan agama Islam serta Muslim sebagai sesuatu yang berbahaya bagi Amerika.
Spencer menegaskan meskipun dia kurang memiliki pelatihan akademis tentang Islam, pada dasarnya agama tersebut mengandung kekerasan dan para ekstremis yang melakukan aksi teror hanya mengikuti versi paling otentik, tertulis pada situs web milik David Horowitz yang diluncurkan dua tahun setelah 9/11.
"Muslim terus menjadi sasaran kebencian, penindasan, dan diskriminasi sebagai akibat dari stereotip yang diabadikan oleh Islamofobia dan media pada tahun-tahun setelah serangan 9/11," ujar Hussam Ayloush, Direktur Eksekutif Los Angeles, dari Dewan Hubungan Amerika-Islam, dilansir oleh Al-Jazeera.
Diskriminasi terhadap Muslim di area Amerika merupakan dampak dari 9/11 yang hingga kepemimpinan Donald Trump masih terjadi, walaupun tidak seperti dahulu.
Legenda tinju dunia Muhammad Ali menjadi salah satu tokoh yang gencar membela Islam mulai 1960 hingga pasca 9/11. Ali memperjuangkan bahwa Islam bukan agama teroris.
"Para pemimpin politik kita seharusnya menggunakan posisi mereka untuk membawa pemahaman mengenai agama Islam, dan menjelaskan para pembunuh yang salah arah itu memiliki pandangan yang melenceng mengenai apa Islam sebenarnya," ujar Muhammad Ali, dilansir oleh VOA.
Sebagian besar pertandingan olahraga dibatalkan setelah 9/11 dan menjadi penghentian olahraga level liga utama terpanjang dalam sejarah Amerika.
Para atlet mendedikasikan diri mereka untuk mengunjungi petugas pertolongan pertama, para penyintas 9/11, dan keluarga korban.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Perjuangan Atlet Muslim Amerika Serikat
Noor Alexandria Abukaram pernah didiskualifikasi usai juara lari pada 2019 karena pakai hijab. (Dok Noor Alexandria Abukaram)
Para atlet mendedikasikan diri mereka untuk mengunjungi petugas pertolongan pertama, para penyintas 9/11, dan keluarga korban.
Di 2017, atlet anggar Amerika Serikat, Ibtihaj Muhammad, membuat surat terbuka untuk Presiden Donald Trump agar bisa memberikan perlakuan yang sama kepada atlet muslim dan atlet berhijab dan menghentikan kebijakan atau langkah yang diskriminasi terhadap pemeluk agama Islam di Amerika Serikat.
Pada 2019 terjadi insiden yang melukai komunitas muslim di Amerika Serikat. Itu setelah atlet lari muslim Amerika Serikat Noor Alexandria Abukaram tiba-tiba didiskualifikasi saat dia sudah memenangkan lomba lari di Ohio. Dia didiskualifikasi karena mengenakan hijab.
Seiring berjalannya waktu, liga olahraga mengambil peran mereka sebagai bentuk persatuan dan pemulihan Amerika.
Walaupun maraknya Islamophobia pasca kejadian 9/11, namun kebijakan olahraga di Amerika terhadap atlet muslim tidak seketat Prancis.
Kebebasan pemain untuk menjalankan ibadah sesuai dengan kepercayaan agamanya dibuat Amerika lewat peraturan pertandingan. Kini, MLS menjadi salah satu liga yang memberikan jeda buka puasa untuk pemain Muslim.
Maryland, negara bagian di Amerika Serikat juga mengeluarkan Undang-Undang yang melindungi hak-hak atlet perempuan berhijab untuk bertanding atau berolahraga tanpa adanya kekhawatiran.
Rancangan Undang-Undang yang disebut Undang-Undang Pakaian Inklusif membutuhkan waktu sekitar dua bulan untuk melalui perjuangan politik.
Meskipun, menurut data FBI, kejahatan kebencian terhadap Muslim tidak pernah turun kembali ke angka sebelum 2001 setelah meroket pada tahun 2015 dan 2016.