Arah Angin Berubah, Man City bak 'Badai' Buat Arsenal Goyah
Askar Fatih Robbani | CNN Indonesia
Rabu, 22 Apr 2026 05:48 WIB
Bagikan:
URL berhasil disalin
Penyerang Manchester City Erling Haaland lawan Arsenal. (Action Images via Reuters/Lee Smith)
Jakarta, CNN Indonesia --
Manchester City bak 'badai' yang datang menerjang dalam perburuan mahkota Liga Inggris musim ini. Kemenangan dramatis atas Arsenal 2-1 pada Minggu (19/4) membuat puncak klasemen milik The Gunners mulai bergetar.
Selisih tiga poin di antara keduanya bisa menguap kapan saja. Nyatanya, Man City masih punya satu laga yang belum dimainkan, yakni laga pekan ke-33 yang akan digelar melawan Burnley pada Kamis (23/4) dini hari WIB.
Kondisi itu menempatkan Man City dalam posisi yang sangat menguntungkan. Arsenal telah merampungkan 33 pertandingan dengan koleksi 70 poin di pucuk klasemen, sementara The Citizens baru melewati 32 laga dengan 67 angka di posisi kedua.
Artinya, Man City masih menyisakan enam pertandingan tersisa, satu lebih banyak ketimbang Arsenal yang tinggal mengemas lima laga. Keunggulan jumlah laga itulah yang menjadi senjata tersembunyi pasukan Pep Guardiola.
Laga kontra Burnley pada Kamis dini hari WIB bukan sekadar pertandingan biasa bagi Man City. Bentrokan The Citizens dengan The Clarets adalah momentum penentu. Jika menang dengan skor berapa pun, Man City bakal melengserkan Arsenal dari posisi puncak berkat keunggulan produktivitas gol.
Dengan demikian, kemenangan atas Burnley bukan hanya soal tiga angka. Itu merupakan tiket "gerbang pembuka" yang menegaskan status Manchester Biru siap sedia menjadi kampiun musim ini.
Namun jauh sebelum laga kontra Burnley, Man City sejatinya tak pernah berhenti menggelorakan konsistensi. Kekalahan terakhir The Sky Blues di Liga Inggris bahkan sudah terjadi cukup lama, yakni pada Januari lalu saat ditekuk Manchester United 0-2 dalam Derbi Manchester (17/1).
Sejak kekalahan memalukan dalam Derbi Manchester itu, Man City terus melenggang tanpa cela. Konsistensi itu pun berlanjut hingga pertandingan ke-32 mereka, kala Erling Haaland dkk menundukkan Arsenal di Etihad Stadium.
Di balik konsistensi itu, ada tangan dingin sang arsitek, Pep Guardiola yang memainkan peran signifikan. The Exceptional One, julukan Pep, terus merotasi skuadnya dengan cendekia.
Melimpahnya opsi di lini serang Man City menjadi keunggulan yang sulit ditandingi. Kecepatan dan kelincahan winger Antoine Semenyo serta Jeremy Doku di sisi kanan dan kiri membuat lawan dibuat pusing tujuh keliling. Belum lagi kreativitas Rayan Cherki atau ketajaman Phil Foden yang beroperasi di belakang Erling Haaland.
Posisi Haaland pun diplot Guardiola secara spesifik, yakni berada sangat tinggi untuk terus berduel dengan bek tengah lawan. Meski striker asal Norwegia itu sempat mengalami paceklik gol dalam beberapa laga sebelum akhirnya membobol gawang Arsenal, kehadirannya tetap memberi efek nyata yang membuyarkan konsentrasi barisan pertahanan lawan.
Taktik ini terbukti menguntungkan bagi para gelandang serang City. Dengan Haaland menyita perhatian bek lawan, Cherki atau Foden leluasa beroperasi mengobrak-abrik barisan pertahanan musuh.
Tak hanya soal lini serang, Guardiola juga mengatur peran bek sayap dengan detail. Nico O'Reilly yang mengisi posisi bek sayap kiri, diplot lebih masuk ke tengah sebagai inverted left-back saat City menguasai bola. Peran itu memadatkan lini tengah City dan menyulitkan lawan dalam membangun serangan.
Pembelian Marc Guehi dari Crystal Palace juga semakin memperkuat pondasi pertahanan Manchester Biru. Bek Inggris berusia 25 tahun itu tampil sebagai ball-playing defender andalan, menyokong lini belakang sekaligus memperlancar transisi dari bertahan ke menyerang.
Kecerdikan Guehi dalam membaca ruang juga terbukti efektif di sisi ofensif. Golnya ke gawang Chelsea pada (12/4) lalu jadi bukti nyata dirinya dapat muncul dan mengancam secara tiba-tiba.
Bersambung ke halaman berikut...
Di sisi berlawanan, Arsenal justru sedang mengalami periode yang tidak menguntungkan. Padahal, kemenangan atas Everton pada (15/3) lalu pernah memperlebar jarak The Gunners hingga 10 poin dari kejaran Man City.
Namun euforia itu tak bertahan lama. Alih-alih memperbesar keunggulan menjadi 12 poin kala bersua Bournemouth pada 11 April, Arsenal justru terjerembap dengan kalah 1-2 dari The Cherries.
Hasil buruk itu tak berhenti di sana. Mimpi Arsenal untuk meraup trofi di kompetisi domestik lainnya pun satu per satu sirna. Meriam London terpaksa merelakan gelar Piala FA dan Piala Liga Inggris setelah tersingkir di kedua ajang tersebut.
Kini Arsenal kembali berada di persimpangan jalan yang nasibnya tak menentu. The Gunners terancam gagal merebut trofi Liga Inggris. Dahaga akan trofi tersebut jelas terasa bagi pasukan Mikel Arteta usai 21 tahun lamanya berpuasa.
Ironi pun semakin terasa menyengat ketika nama Man City kembali muncul sebagai momok utama Arsenal dalam perburuan gelar. Dua musim berturut-turut pada 2022/2023 dan 2023/2024, The Gunners harus gigit jari karena gagal melampaui Man City di klasemen akhir.
Musim 2024/2025 pun tak jauh berbeda, meski kali ini bukan Man City yang menghentikan langkah Arsenal. The Gunners kembali finis sebagai runner-up. Kali ini Meriam London berada di bawah Liverpool yang tampil lebih konsisten sepanjang musim.
Tiga musim berturut-turut menjadi tim terbaik kedua menjadi luka yang terus menganga bagi Bukayo Saka dan kolega.
Di sisi lain, Man City kini menikmati posisi yang sangat strategis jelang akhir musim. Dari enam laga tersisa, selain laga kontra Burnley, The Sky Blues masih akan berhadapan dengan Everton, Brentford, Bournemouth, Crystal Palace, dan Aston Villa.
Di atas kertas, Man City jelas diunggulkan dalam lima laga sisa. Berdasarkan catatan pertemuan di putaran pertama, Manchester Biru sudah mengantongi kemenangan atas seluruh lawan tersebut, kecuali Aston Villa yang sempat menjadi sandungan kala City takluk 0-1 pada Oktober 2025.
Atas dasar itu, kepercayaan diri pasukan Guardiola tengah berada di titik tertinggi. Sementara bagi Arsenal, mereka harus berjuang keras mempertahankan posisi yang kini terasa semakin goyah.
Bagi Arsenal, skenario terburuk bisa terjadi jika Man City memenangkan laga melawan Burnley. Dengan keunggulan produktivitas gol, Manchester Biru akan resmi memuncaki klasemen untuk pertama kalinya di musim ini.
Jika konsistensi Man City terus terjaga hingga laga pamungkas, takhta Liga Inggris untuk ke-11 kalinya akan kembali ke pangkuan The Citizens. Sebaliknya, Arsenal harus menambah periode puasa gelar yang semakin panjang.
Manchester City bak 'badai' yang datang menerjang dalam perburuan mahkota Liga Inggris musim ini. Kemenangan dramatis atas Arsenal 2-1 pada Minggu (19/4) membuat puncak klasemen milik The Gunners mulai bergetar.
Selisih tiga poin di antara keduanya bisa menguap kapan saja. Nyatanya, Man City masih punya satu laga yang belum dimainkan, yakni laga pekan ke-33 yang akan digelar melawan Burnley pada Kamis (23/4) dini hari WIB.
Kondisi itu menempatkan Man City dalam posisi yang sangat menguntungkan. Arsenal telah merampungkan 33 pertandingan dengan koleksi 70 poin di pucuk klasemen, sementara The Citizens baru melewati 32 laga dengan 67 angka di posisi kedua.
Artinya, Man City masih menyisakan enam pertandingan tersisa, satu lebih banyak ketimbang Arsenal yang tinggal mengemas lima laga. Keunggulan jumlah laga itulah yang menjadi senjata tersembunyi pasukan Pep Guardiola.
Laga kontra Burnley pada Kamis dini hari WIB bukan sekadar pertandingan biasa bagi Man City. Bentrokan The Citizens dengan The Clarets adalah momentum penentu. Jika menang dengan skor berapa pun, Man City bakal melengserkan Arsenal dari posisi puncak berkat keunggulan produktivitas gol.
Dengan demikian, kemenangan atas Burnley bukan hanya soal tiga angka. Itu merupakan tiket "gerbang pembuka" yang menegaskan status Manchester Biru siap sedia menjadi kampiun musim ini.
Namun jauh sebelum laga kontra Burnley, Man City sejatinya tak pernah berhenti menggelorakan konsistensi. Kekalahan terakhir The Sky Blues di Liga Inggris bahkan sudah terjadi cukup lama, yakni pada Januari lalu saat ditekuk Manchester United 0-2 dalam Derbi Manchester (17/1).
Sejak kekalahan memalukan dalam Derbi Manchester itu, Man City terus melenggang tanpa cela. Konsistensi itu pun berlanjut hingga pertandingan ke-32 mereka, kala Erling Haaland dkk menundukkan Arsenal di Etihad Stadium.
Di balik konsistensi itu, ada tangan dingin sang arsitek, Pep Guardiola yang memainkan peran signifikan. The Exceptional One, julukan Pep, terus merotasi skuadnya dengan cendekia.
Melimpahnya opsi di lini serang Man City menjadi keunggulan yang sulit ditandingi. Kecepatan dan kelincahan winger Antoine Semenyo serta Jeremy Doku di sisi kanan dan kiri membuat lawan dibuat pusing tujuh keliling. Belum lagi kreativitas Rayan Cherki atau ketajaman Phil Foden yang beroperasi di belakang Erling Haaland.
Posisi Haaland pun diplot Guardiola secara spesifik, yakni berada sangat tinggi untuk terus berduel dengan bek tengah lawan. Meski striker asal Norwegia itu sempat mengalami paceklik gol dalam beberapa laga sebelum akhirnya membobol gawang Arsenal, kehadirannya tetap memberi efek nyata yang membuyarkan konsentrasi barisan pertahanan lawan.
Taktik ini terbukti menguntungkan bagi para gelandang serang City. Dengan Haaland menyita perhatian bek lawan, Cherki atau Foden leluasa beroperasi mengobrak-abrik barisan pertahanan musuh.
Tak hanya soal lini serang, Guardiola juga mengatur peran bek sayap dengan detail. Nico O'Reilly yang mengisi posisi bek sayap kiri, diplot lebih masuk ke tengah sebagai inverted left-back saat City menguasai bola. Peran itu memadatkan lini tengah City dan menyulitkan lawan dalam membangun serangan.
Pembelian Marc Guehi dari Crystal Palace juga semakin memperkuat pondasi pertahanan Manchester Biru. Bek Inggris berusia 25 tahun itu tampil sebagai ball-playing defender andalan, menyokong lini belakang sekaligus memperlancar transisi dari bertahan ke menyerang.
Kecerdikan Guehi dalam membaca ruang juga terbukti efektif di sisi ofensif. Golnya ke gawang Chelsea pada (12/4) lalu jadi bukti nyata dirinya dapat muncul dan mengancam secara tiba-tiba.
Bersambung ke halaman berikut...
Arsenal Oleng, Man City Hanya Butuh Konsisten
Pertandingan Arsenal vs Man City memanas. (Action Images via Reuters/Lee Smith)
Di sisi berlawanan, Arsenal justru sedang mengalami periode yang tidak menguntungkan. Padahal, kemenangan atas Everton pada (15/3) lalu pernah memperlebar jarak The Gunners hingga 10 poin dari kejaran Man City.
Namun euforia itu tak bertahan lama. Alih-alih memperbesar keunggulan menjadi 12 poin kala bersua Bournemouth pada 11 April, Arsenal justru terjerembap dengan kalah 1-2 dari The Cherries.
Hasil buruk itu tak berhenti di sana. Mimpi Arsenal untuk meraup trofi di kompetisi domestik lainnya pun satu per satu sirna. Meriam London terpaksa merelakan gelar Piala FA dan Piala Liga Inggris setelah tersingkir di kedua ajang tersebut.
Kini Arsenal kembali berada di persimpangan jalan yang nasibnya tak menentu. The Gunners terancam gagal merebut trofi Liga Inggris. Dahaga akan trofi tersebut jelas terasa bagi pasukan Mikel Arteta usai 21 tahun lamanya berpuasa.
Ironi pun semakin terasa menyengat ketika nama Man City kembali muncul sebagai momok utama Arsenal dalam perburuan gelar. Dua musim berturut-turut pada 2022/2023 dan 2023/2024, The Gunners harus gigit jari karena gagal melampaui Man City di klasemen akhir.
Musim 2024/2025 pun tak jauh berbeda, meski kali ini bukan Man City yang menghentikan langkah Arsenal. The Gunners kembali finis sebagai runner-up. Kali ini Meriam London berada di bawah Liverpool yang tampil lebih konsisten sepanjang musim.
Tiga musim berturut-turut menjadi tim terbaik kedua menjadi luka yang terus menganga bagi Bukayo Saka dan kolega.
Di sisi lain, Man City kini menikmati posisi yang sangat strategis jelang akhir musim. Dari enam laga tersisa, selain laga kontra Burnley, The Sky Blues masih akan berhadapan dengan Everton, Brentford, Bournemouth, Crystal Palace, dan Aston Villa.
Di atas kertas, Man City jelas diunggulkan dalam lima laga sisa. Berdasarkan catatan pertemuan di putaran pertama, Manchester Biru sudah mengantongi kemenangan atas seluruh lawan tersebut, kecuali Aston Villa yang sempat menjadi sandungan kala City takluk 0-1 pada Oktober 2025.
Atas dasar itu, kepercayaan diri pasukan Guardiola tengah berada di titik tertinggi. Sementara bagi Arsenal, mereka harus berjuang keras mempertahankan posisi yang kini terasa semakin goyah.
Bagi Arsenal, skenario terburuk bisa terjadi jika Man City memenangkan laga melawan Burnley. Dengan keunggulan produktivitas gol, Manchester Biru akan resmi memuncaki klasemen untuk pertama kalinya di musim ini.
Jika konsistensi Man City terus terjaga hingga laga pamungkas, takhta Liga Inggris untuk ke-11 kalinya akan kembali ke pangkuan The Citizens. Sebaliknya, Arsenal harus menambah periode puasa gelar yang semakin panjang.