Piala Dunia dan Isu Pencemaran Lingkungan yang Tak Kunjung Usai

CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 18:40 WIB
Jun 2, 2026; Newark, New Jersey, USA; The Brazil men's national team arrives for the 2026 FIFA World Cup at Newark Liberty International Airport. Mandatory Credit: Caean Couto-Imagn Images
Skuad mewah timnas Brasil tiba di Amerika Serikat. (MAGN IMAGES via Reuters Connect/Caean Couto)

Citra greenwashing FIFA semakin kuat dengan langkah kontroversial pada 2024: menandatangani kemitraan empat tahun dengan Aramco. Perusahaan energi milik negara Arab Saudi itu dikenal sebagai emitor gas rumah kaca korporasi terbesar di dunia, bertanggung jawab lebih dari 4 persen dari seluruh emisi sejak 1965.

Lantas, lebih dari 100 pesepakbola profesional turut menandatangani surat yang mengecam kemitraan itu. Mereka menyebut dampak lingkungan dari kemitraan tersebut sebagai masalah serius yang tidak bisa diabaikan.

Di luar isu emisi, ancaman cuaca ekstrem juga menghantui Piala Dunia 2026. Badan Cuaca Nasional AS memperingatkan bahwa seluruh wilayah di negara itu akan mengalami suhu yang melampaui rata-rata historis selama dua bulan turnamen berlangsung.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebanyak 26 pertandingan Piala Dunia 2026 akan digelar saat suhu berada di atau melampaui 26 derajat Celsius WBGT (wet bulb globe temperature). Ambang batas itu merupakan titik di mana FIFPro, serikat pemain global, menyatakan jeda pendinginan menjadi keharusan.

Sebuah studi akademis bahkan menyimpulkan hasil yang lebih mengkhawatirkan. Sebanyak 14 dari 16 kota tuan rumah berpotensi mengalami rata-rata WBGT yang melampaui 28 derajat Celsius pada Juni dan Juli.

FIFPro berpandangan bahwa suhu WBGT 28 derajat Celsius sudah layak menjadi alasan penghentian sementara pertandingan.

FIFA memang mengambil sejumlah langkah untuk meredam panas. Banyak pertandingan di kota-kota panas dijadwalkan pada malam hari, dan setiap babak akan disisipkan 'jeda hidrasi' selama tiga menit.

Tiga kota yang paling terpapar panas berbahaya yakni Houston, Dallas, dan Atlanta, memang memiliki stadion ber-AC. Namun energi yang dibutuhkan untuk mendinginkan stadion-stadion itu justru menambah beban emisi karbon yang sudah menggunung.

Lebih dari satu dekade setelah FIFA lantang berbicara tentang sepak bola hijau, Piala Dunia 2026 hadir sebagai bukti nyata bahwa janji-janji lingkungan itu belum pernah dipegang teguh.

(afr/afr/jun) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2