Jalan Panjang Sambung Generasi dari Polytron Indonesia Open 2026

Muhammad Ikhwanuddin | CNN Indonesia
Selasa, 09 Jun 2026 16:34 WIB
Tunggal putra Kanada, Victor Lai, berhasil meraih gelar juara Indonesia Open 2026 setelah mengalahkan wakil tuan rumah, Jonatan Christie, pada partai final yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/6). Victor tampil dominan dan menang du
Polytron Indonesia Open berlangsung meriah dan jadi magnet penonton. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)

Untuk mewujudkan mimpi, agaknya tak arif menaruh harapan pada satu pasang ganda atau satu sosok tunggal saja. Menyambung titik-titik lewat garis kolaborasi perlu berkelindan agar pucuk dicinta ulam pun tiba dalam membangun badminton Indonesia.

Evaluasi atlet selepas turnamen adalah barang wajib untuk dilakukan. Begitu juga dengan elemen-elemen penyelenggaraann.

Pasalnya, Polytron Indonesia Open 2026 adalah medium tiga sektor bertaut dalam mendukung pembinaan atlet dan tek-tek bengek di baliknya. Federasi mengambil peran sebagai penyelenggara, suporter jadi energi pemutar ekonomi, dan industri sebagai mesin penggerak turnamen agar berjalan sesuai ekspektasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam hal ini, panitia perlu piawai membaca situasi. Langkah pertama sudah nampak ketika pertama kalinya setelah era covid, penonton bisa lenggang kangkung ke selasar Istora untuk bertemu atlet langsung jika beruntung.

Tiket hanya diperlukan jika pengunjung ingin menyaksikan pertandingan di tribune. Itupun dengan harga lebih terjangkau dari biasanya.

Siasat ini dipandang membuat kejuaraan lebih semarak. Salah satu pengunjung asal Tangerang, Fuji Astuti mengamini itu karena sudah langganan 'Ngistora' sejak 2018.

Pengunjung berjalan di depan area perhelatan Polytron Indonesia Open 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu (7/6/2026).Suporter memenuhi Istora GBK selama Polytron Indonesia Open 2026 berlangsung. (CNN Indonesia/ Adi Ibrahim)

"Saya sudah nonton langsung sejak 2018. Selalu hadir sampai sekarang. Menurut saya ini paling ramai karena suasananya lebih meriah," kata Fuji kepada CNNIndonesia.com.

"Meriahnya itu tentu dari pentonton. Teriakannya lebih kencang. Terus di luar Istora juga banyak aktivitas dan bisa ketemu atlet tanpa perlu beli tiket," ia menambahkan.

Daya tarik ekstra juga dirasakan pengunjung lainnya, Eggy (40 tahun). Penggemar Pokemon itu tak ingin membuang kesempatan mengoleksi merchandise serial animasi Jepang kegemarannya.

Pojok Pokemon di Polytron Indonesia Open 2026 menawarkan ragam aktivitas seperti adu ketangkasan bermain bulutangkis dan mewarnai karakter untuk semua kategori usia. Kaum bapak-bapak justru mendominasi antrean permainan.

"Ya, dulu saya nontonnya di TV. Sejak saat itu jadi senang hal-hal berbau Pokemon. Sampai sekarang masih main games dan kumpulkan kartunya. Lumayan dapat gantungan kunci," ucap Eggy.

Testimoni dari Eggy dan Fuji jadi bukti bahwa Polytron Indonesia Open 2026 tak berhenti bicara prestasi atlet di gelanggang. Namun pendukung di tribune hingga pengunjung di selasar-selasar Istora adalah alasan turnamen ini perlu tetap bergelora.

Masih ada turnamen lainnya untuk diperjuangkan. Deretan turnamen BWF berikutnya adalah titian menuju Olimpiade 2028. Dan ini adalah perjalanan panjang dalam menerjang impian.

(ptr) Add as a preferred
source on Google

HALAMAN:
1 2