ANALISIS

Kenapa Indonesia Menderita saat Kekuatan Badminton Dunia Makin Merata?

Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Senin, 24 Agu 2026 15:10 WIB
Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri saat tampil di Kejuaraan Dunia 2026. (Arsip PBSI)
Fajar/Fikri jadi salah satu dari sedikit pemain Indonesia yang ada di papan atas ranking dunia. Ketika Fajar/Fikri kalah, otomatis peluang Indonesia memiliki juara dunia makin mengecil (Arsip PBSI)
Jakarta, CNN Indonesia --

"Saat ini, kekuatan bulu tangkis di dunia itu semakin merata. Tidak seperti dulu. Lawan-lawan yang sebelumnya tidak diperhitungkan, kini sudah bisa juara."

Itulah kalimat yang sering terdengar mulai akhir 2000-an, dekade 2010-an, hingga saat ini ketika era 2020-an sudah tujuh tahun berjalan.

Dari segi kondisi nyata, memang benar adanya. Jepang mulai kembali berjaya, India juga kembali punya pemain elite level dunia. Hingga munculnya pemain-pemain sensasional dari negara yang bukan kekuatan utama bulu tangkis seperti Carolina Marin dari Spanyol hingga Tai Tzu Ying dari Taiwan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun kenapa dalam kondisi ketika kekuatan bulu tangkis makin merata, justru Indonesia yang sering menderita?

Sebagai contoh, saat kekuatan bulu tangkis dinilai banyak orang makin merata, China seolah tidak pernah merasakan dampak negatifnya.

China tetap punya juara demi juara dari waktu ke waktu yang berjalan. China tidak pernah hampa gelar di Kejuaraan Dunia dan Olimpiade.

Seperti contohnya di Kejuaraan Dunia 2026. China sempat dalam kondisi genting ketika Feng Yanzhe/Huang Dongping dan Liu Shengshu/Tan Ning kalah di dua nomor awal. Namun akhirnya tren juara dunia itu tetap berlanjut karena Liang Weikeng/Wang Chang menyelamatkan wajah China.

Sementara Indonesia, sering kali menderita dengan berbagai cerita kegagalan di dalamnya. Ketika kalimat 'persaingan kini makin merata' lalu muncul sebagai salah satu alasan yang dianggap terasa nyata.

Yang terkini, Indonesia kembali melanjutkan puasa gelar di Kejuaraan Dunia. Sejak Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan menjadi juara dunia 2019, Indonesia belum punya juara dunia lagi hingga saat ini.

Durasi tersebut adalah rentang terlama Indonesia tak punya juara dunia setelah era puasa 10 tahun ketika Icuk Sugiarto juara dunia 1983 dan Indonesia baru punya juara dunia lagi lewat Joko Suprianto, Susy Susanti, dan Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky di 1993.

Badminton - BWF World Championships - Indira Gandhi Indoor Stadium, New Delhi, India - August 19, 2026 Indonesia's Jonatan Christie in action during his round of 32 match against Singapore's Jia Heng Teh REUTERS/Bhawika ChhabraJonatan Christie jadi salah satu harapan Indonesia memutus puasa gelar di Kejuaraan Dunia namun tersingkir cepat di New Delhi. (REUTERS/Bhawika Chhabra)

Saat itu, ada empat edisi Kejuaraan Dunia ketika Indonesia tidak mampu meraih gelar. Namun saat itu, format yang digunakan adalah format dua tahun sekali.

Saat ini, Kejuaraan Dunia berlangsung tiap tahun kecuali tahun Olimpiade. Dengan demikian, sudah lima edisi Kejuaraan Dunia ketika Indonesia tak memenangkan gelar. Mengesampingkan edisi 2021 ketika Pelatnas PBSI tidak mengirim pemain, artinya sudah empat Kejuaraan Dunia, tidak ada juara dari Indonesia yaitu pada 2022, 2023, 2025, dan 2026.

Dan yang lebih miris, kegagalan Indonesia adalah tipe kegagalan yang memang terjadi bukan karena kalah di pertempuran fase akhir seperti semifinal dan final. Kegagalan Indonesia adalah kegagalan ketika tak punya banyak pasukan dan andalan yang bisa diharapkan untuk memenangkan kejuaraan.

Sebelum Kejuaraan Dunia dimulai, Indonesia hanya punya dua pemain yang masuk unggulan papan atas alias empat besar yaitu Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Jonatan Christie. Di bawah itu ada Putri Kusuma Wardani dan Sabar Karyaman/M. Reza Pahlevi yang masuk unggulan 10 besar.

Ganda campuran Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah meraih medali perunggu Kejuaraan Dunia BWF 2026 usai kalah dari wakil China pada babak semifinal, di India, Sabtu (22/8).Amri/Nita mampu membuat kejutan dengan menembus babak semifinal Kejuaraan Dunia 2026. (Dok. PBSI)

Karena itu, ketika satu per satu unggulan tumbang, otomatis peluang meraih gelar juara makin melayang dan asa Indonesia merebut gelar juara dunia hanya bisa digantungkan pada label kejutan.

Nyatanya, kejutan lewat Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah hanya bertahan sampai semifinal. Indonesia tanpa wakil di babak final yang otomatis kegagalan punya juara dunia sudah diketahui sebelum laga final digelar.

Baca lanjutan berita ini di halaman berikut >>>

Mendorong Kejutan Jadi Andalan BACA HALAMAN BERIKUTNYA

HALAMAN:
1 2