ANALISIS

Kenapa Indonesia Menderita saat Kekuatan Badminton Dunia Makin Merata?

Putra Permata Tegar Idaman | CNN Indonesia
Senin, 24 Agu 2026 15:10 WIB
Alwi Farhan saat tampil di Kejuaraan Dunia 2026. (Arsip PBSI)
Alwi Farhan merupakan salah satu harapan Indonesia untuk punya pebulutangkis papan atas di jajaran generasi baru.(Arsip PBSI)

Dari daftar juara yang ada, juara dunia 2026 ini semuanya masuk unggulan 10 besar. Tiga di antaranya bahkan merupakan unggulan lima besar. Artinya, nyaris tidak ada kejutan besar di balik Kejuaraan Dunia 2026.

Bila mau mencari kejutan, keberhasilan Prancis memenangkan dua gelar juara dunia lewat Thom Gicquel/Delphine Delrue mungkin masuk kejutan. Namun tidak benar-benar berlabel 'kejutan besar' karen Gicquel/Delrue adalah unggulan kelima sedangkan Lanier adalah unggulan ketujuh.

Bicara perjalanan Indonesia, sejatinya secara keseluruhan hasil Indonesia masih bagus hingga Kejuaraan Dunia memasuki babak perempat final. Ada lima wakil di perempat final yang jadi pertanda langkah bagus Indonesia di turnamen ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun di titik penentuan menuju babak akhir itulah, empat wakil tersingkir. Fajar/Fikri yang jadi andalan, juga pemain-pemain yang diharapkan bisa membuat kejutan seperti Alwi Farhan, Rachel Allessya Rose/Febi Setianingrum, dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari.

Di titik ini, Indonesia gagal mengirim lebih banyak wakil ke zona medali, sekaligus menjaga lebih banyak amunisi untuk meraih medali emas.

Pada Kejuaraan Dunia 2026, tiap negara punya karakter masing-masing. China selalu dengan rombongan pemain andalan. Sehingga bila ada satu wakil yang gugur, wakil yang lain bisa terus maju dan tetap berstatus andalan.

Sedangkan Korea 'hanya' punya tiga wakil namun benar-benar berstatus jempolan. An Se Young, Kim Won Ho/Seo Seung Jae, Baek Ha Na/Lee So Hee bisa maju sampai semifinal. An Se Young dan Baek/Lee melanjutkan ke final dan merebut gelar juara.

Prancis juga menggeliat. Mental kuat yang ditunjukkan oleh Thom Gicquel/Delphine Delrue dan Alex Lanier berhasil mengantar mereka jadi juara dunia.

Badminton - BWF World Championships - Indira Gandhi Indoor Stadium, New Delhi, India - August 23, 2026 France's Alex Lanier in action during his men's final against Japan's Kodai Naraoka REUTERS/Bhawika ChhabraAlex Lanier baru berusia 21 tahun dan jadi simbol generasi baru di tunggal putra yang baru saja sukses merebut gelar juara dunia. (REUTERS/Bhawika Chhabra)

Dari kegagalan Indonesia di Kejuaraan Dunia 2026 ini, satu hal yang harus diingat adalah: Indonesia bukan gagal di pertempuran akhir. Indonesia kalah di 2-3 langkah sebelum juara. Artinya, masih banyak hal yang harus dibenahi setelah ini.

Kekuatan bulu tangkis di dunia boleh saja merata. Namun Indonesia tak boleh larut dan tenggelam dan malah menderita di dalamnya.

Pengurus PBSI saat ini memang datang dengan kondisi Indonesia tengah krisis pemain andalan. Namun 1,5 tahun sudah berlalu dan mereka tidak bisa terus berpegang pada kondisi itu sebagai alasan.

Pemain dan pelatih juga mesti terus meningkatkan daya juang di lapangan. Latihan maksimal dalam keseharian harus bisa benar-benar dituangkan seluruhnya di lapangan. Jangan malah terhalang oleh mental bertanding yang sering goyang dan tak kunjung matang.

Febi Setianingrum/Rachel Allesya Rose lolos ke babak 16 besar Kejuaraan Dunia BWF 2026 usai mengalahkan Isyana Syahira Meida/Rinjani Kwinnara Nastine, Rabu (19/8).Rachel/Febi jadi salah satu pemain yang bisa diharapkan bisa menyeruak ke 10 besar dalam waktu dekat. (Dok. PBSI)

Alwi, Putri KW, Rachel/Febi, Ana/Trias, hingga Amri/Nita harus bisa terus meningkatkan kualitas mereka. Sehingga nantinya mereka bukan hanya diharapkan menghadirkan kejutan melainkan memang sudah jadi pemain andalan.

Yang harus diingat, Olimpiade tinggal dua tahun lagi. Peningkatan kekuatan dan barisan regenerasi yang mumpuni tidak bisa menunggu nanti-nanti.

Karena bila PBSI, pemain, dan pelatih tidak bisa menghadirkan perubahan besar-besaran dalam dua tahun ke depan terkait kualitas pemain dan posisi mereka dalam persaingan memburu gelar juara, kalimat pembuka di atas akan makin akrab di telinga sebagai pondasi alasan yang dikemukakan setelah kegagalan.

"Saat ini, kekuatan bulu tangkis di dunia itu semakin merata."

[Gambas:Video CNN]

(jun)

HALAMAN:
1 2