"Sampai 2017 itu ada Rp18 triliun ditambah dengan 2018 sebesar Rp2 triliun menjadi Rp20 triliun plus alpha," kata Presiden Direktur TMMIN Warih Andang Tjahjono di Jakarta, kemarin.
Menurut Warih jumlah tersebut hanya digunakan untuk mengembangkan mobil teknologi konvensional Toyota di Indonesia, bukan untuk kendaraan berteknologi tinggi seperti mobil hibrid maupun murni listrik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enggak (pengembangan mobil listrik). Sisa Rp7 triliun untuk pengembangan produk ke depannya," tegas Warih.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warih beralasan, pengembangan mobil ramah lingkungan memerlukan dana investasi cukup besar.
"Kalau hibrid pasti (investasi) lebih besar lagi. Itu power train ganti, alat banyak yang harus ditukar. Ya lebih high teknologi lah," ucap Warih.
Sebagai informasi, Toyota mulai mengembangkan sayap bisnisnya di Indonesia sejak April 1971 melalui Toyota Astra Motor (TAM). Kemudian, pada Juli 2003 Toyota meresmikan divisi perakitannya yaitu TMMIN. (mik)