Peristiwa tak terduga, bahkan berpotensi membahayakan nyawa, bisa saja terjadi dalam setiap aksi penyampaian pendapat. Seperti pada unjuk rasa Kamis (28/8), seorang pengemudi ojek online atau ojol tewas akibat dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob saat sedang membubarkan massa.
Bagi Anda, terutama pengguna kendaraan ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan untuk mencegah kejadian seperti itu terulang. Berikut uraiannya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Setiap pengendara harus bisa mengantisipasi dengan mengikuti berita terkini untuk menentukan apakah perjalanan harus dilanjutkan atau tidak. Jika perlu melanjutkan perjalanan, pengendara harus memilih jalan 'melingkar' yang lebih aman meski lebih jauh.
2. Pengendara tidak disarankan menggunakan atribut mencolok, seperti wanita pakai perhiasan emas karena menarik perhatian banyak orang dan berpotensi dimanfaatkan oknum dalam situasi itu.
3. Bila pengendara terjebak dalam aksi demo, pastikan tidak panik. Segera mundur bergerak ke belakang dan hati-hati. Bila tidak bisa mundur, jika ada kesempatan segera masuk ke area parkir ke gedung atau rumah warga.
Segera arahkan mobil ke area tersebut meski ada pencegahan atau larangan masuk dari petugas keamanan.
4. Jika situasi demo sudah memanas dan tidak bisa diprediksi, segera tinggalkan kendaraan dan lokasi.
Jusri Pulubuhu, praktisi keselamatan berkendara dari Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) menyampaikan sudah seharusnya masyarakat yang tidak terkait aksi unjuk rasa menjauh dari tempat kejadian perkara.
Hal ini guna meminimalisir kejadian tak diinginkan, seperti halnya kasus kematian pengendara ojol Affan Kurniawan.
"Segera menjauh. Karena setiap musibah tidak ada yang tau. Makanya kayak kondisi sekarang, itu banyak korporasi besar meliburkan pegawainya untuk mencegah hal tak diinginkan," kata Jusri saat dihubungi, Jumat (29/8).
"Dan buat aparat, saya minta untuk selalu mengedepankan tindakan humanis," ucapnya lagi.
(ryh/fea)