Mimpi Mobil Terbang Volkswagen di China Kandas Setelah 5 Tahun

CNN Indonesia
Senin, 03 Agu 2026 04:32 WIB
Foto: Volkswagen China
Jakarta, CNN Indonesia --

Volkswagen (VW) yang merintis proyek mobil terbang bertenaga baterai di China sejak 2019 akhirnya menyerah menghadapi laju pesaing lokal yang bergerak lebih cepat. Hal ini terungkap dalam hasil investigasi Reuters yang dipublikasikan Kamis (30/7).

Lewat tim startup internal di Beijing, VW membidik drone mewah futuristik untuk mengangkut empat penumpang kaya antara kota seperti Beijing dan Tianjin, dengan tingkat kebisingan setengah dari helikopter.

"Ke depan, kami melihat ini punya potensi kuat menjadi segmen pasar utama bagi Volkswagen Group," kata pemimpin proyek, Zhou Jin, dalam video promosi 2022 yang diunggah di situs perusahaan.

Belakangan pada 2010-an, sejumlah produsen mobil global ramai-ramai masuk sektor eVTOL atau mobil terbang. Porsche Consulting, unit konsultasi VW, memperkirakan industri ini bisa bernilai US$32 miliar, atau setara Rp576,93 triliun (kurs Rp18.029), pada 2035.

Toyota berinvestasi di startup taksi udara Joby Aviation asal AS, sementara Porsche menggandeng Boeing dan Audi bermitra dengan Airbus. Keduanya gagal menghasilkan produk komersial, membuat VW mengalihkan fokus ke pasar yang saat itu masih dikuasainya: China.

Namun China keburu menjadikan "ekonomi ketinggian rendah" sektor yang mencakup drone, taksi udara, dan jasa penerbangan di bawah 1.000 meter sebagai prioritas strategi nasional hingga mendatangkan gelombang pesaing lokal.

Ganti-ganti mitra

VW sempat menjajaki EHang, startup eVTOL pertama China yang melantai di bursa, tapi menilai ada kesenjangan dari standar rekayasa VW. Produsen drone Sichuan Tengden juga mundur karena keterbatasan kapasitas.

Pada 2021, VW memilih startup Shanghai, Pantuo Aviation, untuk mengembangkan purwarupa "Pantala" berdesain empat sayap berputar yang disebut lebih mirip pesawat Star Wars ketimbang pesawat konvensional.

Evaluasi VW dan mitra konsultannya kemudian menyimpulkan desain Pantuo membawa "risiko tak terkendali", performa aerodinamika buruk dan jangkauan jauh di bawah target. Kerja sama itu disebut sebagai "kesalahan" dalam dokumen internal VW.

Proyek dengan Pantuo berakhir dengan sengketa hukum ihwal dugaan pencurian rahasia dagang yang hingga kini belum tuntas. VW menyatakan tidak berkomentar publik soal kasus itu, tapi menegaskan "yakin klaim yang diajukan terhadap kami sama sekali tidak berdasar."

VW lalu beralih ke Hunan Sunward Technology pada 2022, menghasilkan purwarupa "Flying Tiger" dan "Sky Garden", yang terakhir sempat didatangi Perdana Menteri China Li Qiang yang duduk di dalam mock-up-nya pada Maret 2023. Purwarupa lain diuji di lokasi terpencil Mongolia Dalam.

Oktober 2023, VW menggandeng Wanfeng Auto Holding Group untuk persiapan peluncuran ke pasar.

Proyek dihentikan 2024

Pada Maret 2024, komite manajemen puncak VW membahas rencana membawa mobil terbang ke pasar. Tim legal, kepatuhan, dan strategi mengangkat kekhawatiran soal panjangnya jalan menuju profitabilitas serta ketatnya persaingan dengan pemain lokal seperti Xpeng dan Geely.

Komite tetap memberi lampu hijau, tapi keputusan akhir diserahkan ke kepala VW China, Ralf Brandstaetter. Ia justru menyimpulkan VW perlu fokus ke bisnis inti di tengah penjualan mobil penumpang yang melorot, lalu membubarkan tim pada Juni 2024 dan mengabarkannya ke mitra Wanfeng lewat pesan WeChat.

Bisnis VW makin tergerus

Kegagalan proyek mobil terbang ini terjadi di tengah pelemahan bisnis VW secara keseluruhan di China. Pengiriman VW di negara itu memuncak 4,2 juta unit pada 2019, lalu turun ke 2,7 juta unit pada 2025, menurunkan posisinya ke peringkat tiga di belakang BYD dan Geely.

Penurunan ini menekan laba VW, diperparah biaya tarif Amerika Serikat dan tekanan pada jaringan manufaktur di Jerman. Beberapa pekan terakhir, VW mengumumkan rencana memangkas sejumlah model kendaraan dan hingga 100 ribu pekerjaan.

Emerson Xu, CEO konsultan NexAvian sekaligus mantan kepala China di produsen taksi udara Volocopter, menyebut pengalaman VW menunjukkan betapa selektifnya industri mobilitas China saat ini.

"Kalau Anda tidak cukup lokal, tidak lebih cepat atau setidaknya secepat orang China, Anda tidak punya peluang," kata Xu.

(fea)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK