Porsche Kini Jadi Duri Buat Volkswagen
Porsche yang dulu andalan laba Volkswagen AG telah menjadi masalah terbesar dan mengganjal restrukturisasi yang dijalankan CEO Oliver Blume.
Porsche yang mencatatkan rekor saat melantai di bursa, kurang dari empat tahun lalu, kini tergusur dari China dan babak belur akibat kesalahan transisi ke kendaraan listrik.
Lihat Juga : |
Ribuan pekerja berunjuk rasa menolak pemangkasan di pabrik mobil se-Jerman, Senin (21/9), mencerminkan tekanan lebih luas pada industri otomotif akibat gempuran China dan tarif AS.
Volkswagen AG telah mengeluarkan peringatan laba terbaru pada Jumat (18/9), terkait penghapusan nilai €6 miliar (sekitar Rp122,8 triliun, kurs Rp20.470) atas 75 persen sahamnya di Porsche. Ini diumumkan tak lama usai kesepakatan pemangkasan dalam restrukturisasi terbesar sejarah 89 tahun grup.
Ingo Speich dari Deka, investor top-10 Volkswagen, menyebut writedown itu sinyal negatif, tak lama usai terobosan restrukturisasi.
"Situasinya tetap sangat rapuh, dan visibilitasnya sangat terbatas. Masih harus dilihat apakah langkah restrukturisasi yang diumumkan akan cukup," katanya kepada Reuters, Senin (21/9).
Writedown ini menyusul penurunan nilai Porsche sebesar €2,7 miliar (Rp55,3 triliun) setahun sebelumnya. Analis Jefferies menyebutnya sebagai bukti kurangnya pengawasan Volkswagen.
Laba pudar
Volkswagen AG menyalahkan writedown pada ekspektasi Porsche yang melemah, padahal baru melantai pada 2022 dalam IPO Eropa.
"Masa-masa Porsche jadi andalan laba sudah berakhir," kata analis otomotif Ferdinand Dudenhoeffer.
Margin Porsche yang dulu tebal kini merosot, di bawah rata-rata grup dan bahkan kalah dari Skoda, merek mobil murah Volkswagen.
"Dengan strategi nilai di atas volume, Porsche makin lama makin mengecil. Bahkan jika margin labanya bagus, labanya sendiri akan cukup tipis," kata Dudenhoeffer.
CEO Porsche Michael Leiters bersikukuh pada target margin jangka menengah 10 sampai 15 persen, dalam memo internal yang dilihat Reuters.
"Tidak ada proyeksi baru untuk Porsche, baik untuk tahun bisnis berjalan maupun target jangka menengah kami," katanya menjelang capital markets day Oktober.
Tekanan China dan tarif AS
Porsche sudah menarik diri dari China dan saat ini tertekan tarif di pasar AS. Hal ini membuat volume penjualannya menjadi semakin tidak pasti.
Leiters kini fokus ke model kelas atas demi margin dua digit, namun Porsche tetap butuh penjualan besar demi kas restrukturisasi.
"Tekanannya tidak bisa lebih besar dari saat ini," kata Stefan Bratzel dari lembaga riset otomotif Jerman, CAM.
"Memangkas biaya saja tidak akan membantu Volkswagen keluar dari krisisnya," ujar Bratzel lagi.
Skoda jadi Porsche baru?
Porsche telah berjuang bertahun-tahun, dengan Blume mengawasi penurunannya sebagai kepala merek Porsche hingga akhir 2025, sembari merangkap CEO Volkswagen AG.
Penghapusan nilai €6 miliar membuat goodwill Volkswagen atas Porsche anjlok lebih dari sepertiga, dari €18,8 miliar pada 2022 menjadi €10 miliar, setara Rp384,8 triliun turun jadi Rp204,7 triliun.
"Merek asal Ceko itu efektif menjadi Porsche baru di grup ini," kata analis otomotif independen Matthias Schmidt, merujuk Skoda.
Mercedes-Benz dan BMW memangkas tenaga kerja di Jerman, seiring serikat pekerja menuntut proteksi Brussels dari kendaraan murah China.
Belum jelas apakah ini membantu Blume mencapai target margin operasi 9 persen akhir dekade, jauh dari capaian tahun ini, cuma 1 persen.
Analis Bernstein menilai Porsche malah membantu dorongan Blume memangkas lebih dalam.
"Kalau seseorang berpikiran sinis, penurunan besar-besaran dalam proyeksi laba ini bisa dilihat sebagai hal yang membantu," kata mereka.
(fea)