Canggihnya fungsi dari perangkat pintar hasil pengembangan tim Google X tersebut, yakni dapat merekam video, membuat NATO dan MPAA cemas akan adanya pembajakan melalui Google Glass.
Keputusan NATO dan MPAA berawal dari kasus seorang pengunjung pada bulan Januari 2014. Ia memakai Google Glass sepanjang film ‘Jack Ryan: Shadow Recruit’ berlangsung, lalu ia dicurigai telah merekam film tersebut dengan Google Glass oleh Department of Homeland Security.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Larangan tersebut lebih kepada anjuran untuk mematikan perangkat wearable pintar agar dimatikan selama film berlangsung, sama seperti aturan pada ponsel pintar.
MPAA mewakili industri perfilman Hollywood dan NATO mewakili para pemilik studio bioskop di AS, keduanya menjadikan aturan ini bersifat 'menyeluruh' karena sangat sulit menemukan bioskop yang film-filmnya tidak didistribusikan oleh MPAA, serta tidak berada dibawah naungan NATO.
NATO menaungi 32 ribu studio bioskop, sementara MPAA mewakili enam rumah produksi besar di Hollywood seperti Disney, Warner Brothers, 20th Century Fox, Paramount, Sony, dan Universal.
Selain larangan penggunaan Google Glass oleh NATO dan MPAA, aturan serupa juga diberlakukan di Inggris oleh asosiasi bioskop Cinema Exhibitor's Association.
Tak hanya industri perfilman, ternyata penggunaan perangkat pintar juga tidak diterima oleh sejumlah bisnis lain, seperti restoran, kafe, hingga pusat kebugaran.