Dalam sambutannya, Hirai mengatakan para karyawan dan mantan karyawan Sony Pictures merupakan korban dari aksi peretasan ini. Menurutnya, hal ini adalah salah satu serangan siber paling berbahaya sepanjang sejarah.
"Saya begitu bangga dengan para karyawan dan mitra yang telah berusaha keras dalam melawan aksi kriminal ini hingga pada akhirnya dapat membawa The Interview kepada publik," kata Hirai dalam presentasi di pameran Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas, AS, Selasa (6/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam serangan yang dilakukan pada 24 November 2014, Sony Pictures mengalami kerugian besar. Tercatat, sebanyak lima film Sony yang belum rilis telah dicuri dan disebarkan di internet.
Daftar gaji 6.000 karyawan dan para petinggi Sony pun turut beredar. Data pribadi dari aktor dan praktisi film yang pernah bekerjasama dengan Sony juga ikut tersebar secara luas di dunia maya.
Pelaku peretasan ini beroperasi dengan nama Guardians of Peace atau GOP. Sejumlah dugaan muncul bahwa aksi ini dilakukan oleh Korea Utara setelah negara tersebut mengecam film komedi ini.
Sony pada mulanya membatalkan perilisan film ini setelah peretas melontarkan ancaman serius. Pembatalan ini menuai kritik dari selebritas Hollywood, bahkan Presiden AS Barack Obama.
Akhirnya, Sony memberanikan diri merilis The Interview di bioskop dan di saluran online walau hasil penjualan tiket dan pembelian konten belum menutup biaya produksi dan pemasaran The Interview yang menghabiskan dana US$ 88 juta.
(adt/adt)