PENELITIAN HEWAN
Ilmuwan Teliti Gaya Terbang Angsa yang Mirip Roller Coaster
CNN Indonesia
Selasa, 20 Jan 2015 09:05 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- Setiap tahun kawanan angsa Anser indicus terbang ratusan kilometer bermigrasi dari Mongolia ke wilayah Himalaya, tepatnya bagian tenggara Tibet. Tim peneliti di Inggris menunjukan hasil studinya bahwa angsa tersebut menerapkan metode roller coaster saat terbang untuk menghemat energi.
"Secara asumsi logika, para angsa akan menggunakan banyak waktunya untuk terbang sangat tinggi," ujar salah satu penulis penelitian dari Universitas Bangor, Inggris, Charles Bishop. "Tapi ketika kami mengukurnya, ternyata mereka jarang terbang tinggi-tinggi."
Para ilmuwn meneliti angsa dengan memasukan perangkat sensor pelacak detak jantung di dalam perutnya. Sensor itu akan mengukur ketinggian angsa terbang dan parameter lainnya. Perangkat itu tidak membahayakan angsa, malah kini sudah dikeluarkan kembali.
Mereka menemukan bahwa angsa-angsa tersebut tidak berada di ketinggian yang tetap selama terbang, melainkan terapkan manuver naik dan turun. Strategi yang mereka lakukan kemudian dianggap sebagai metode roller coaster karena dinilai bisa menghemat energi.
Awalnya, manuver naik dan turun yang dilakukan oleh para angsa itu akan membakar lebih banyak energi ketimbang terbang pada ketinggian yang konstan. Nyatanya, massa udara yang rendah pada ketinggian yang jauh lebih tinggi di atas Himalaya cukup membuat energi terkuras untuk hasilkan daya angkat.
Metode roller coaster memberikan keuntungan yakni lebih banyak oksigen tersedia pada ketinggian yang lebih rendah, sehingga bisa meringankan beban tubuh angsa saat terbang.
Data yang dihasilkan dari perangkat sensor pelacak turut menunjukan bahwa mereka mengepakkan sayap lebih sering di ketinggian yang lebih tinggi, di mana udara sifatnya kurang padat.
Bishop menerangkan, seiring para angsa menambah ketinggian mereka, maka kepakkan sayap semakin sering untuk menciptakan daya angkat sehingga energi yang dikeluarkan juga semakin banyak.
Para peneliti itu sudah sedari lama berspekulasi bagaimana angsa Anser indicus melakukan perjalanan di ketinggian enam ribu meter namun belum pernah ada yang betul-betul mengukur fisiologi angsa saat terbang.
Add
as a preferred
source on Google
"Secara asumsi logika, para angsa akan menggunakan banyak waktunya untuk terbang sangat tinggi," ujar salah satu penulis penelitian dari Universitas Bangor, Inggris, Charles Bishop. "Tapi ketika kami mengukurnya, ternyata mereka jarang terbang tinggi-tinggi."
Para ilmuwn meneliti angsa dengan memasukan perangkat sensor pelacak detak jantung di dalam perutnya. Sensor itu akan mengukur ketinggian angsa terbang dan parameter lainnya. Perangkat itu tidak membahayakan angsa, malah kini sudah dikeluarkan kembali.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Awalnya, manuver naik dan turun yang dilakukan oleh para angsa itu akan membakar lebih banyak energi ketimbang terbang pada ketinggian yang konstan. Nyatanya, massa udara yang rendah pada ketinggian yang jauh lebih tinggi di atas Himalaya cukup membuat energi terkuras untuk hasilkan daya angkat.
Data yang dihasilkan dari perangkat sensor pelacak turut menunjukan bahwa mereka mengepakkan sayap lebih sering di ketinggian yang lebih tinggi, di mana udara sifatnya kurang padat.
Bishop menerangkan, seiring para angsa menambah ketinggian mereka, maka kepakkan sayap semakin sering untuk menciptakan daya angkat sehingga energi yang dikeluarkan juga semakin banyak.
Para peneliti itu sudah sedari lama berspekulasi bagaimana angsa Anser indicus melakukan perjalanan di ketinggian enam ribu meter namun belum pernah ada yang betul-betul mengukur fisiologi angsa saat terbang.
Add
as a preferred source on Google