"Pekerjaan kelas menengah di Amerika Serikat tidak terancam oleh perangkat kecerdasan buatan seperti robot. Itu seperti fiksi ilmiah. Mungkin saja terjadi 100 tahun mendatang, mungkin juga tak akan pernah terjadi," ujar Thiel, mengutip laporan kantor berita CNN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lelaki usia 47 tahun itu menyalahkan globalisasi sebagai hal yang mengancam pekerjaan kelas menengah, bukan kemajuan teknologi. Di dekade terakhir, ada jutaan pekerjaan AS dikirim ke berbagai negara seperti Tiongkok dan India, di mana upah para pekerjanya lebih murah.
Sementara pendiri PayPal yang lain, Elon Musk, mengatakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menciptakan ancaman besar bagi umat manusia. Sedangkan Thiel menganggap AI tak perlu dikhawatirkan sama sekali.
"Menurut saya, itu (AI) akan terus berkembang lebih jauh di masa depan," ujar Thiel berpendapat.
Selain Musk, pendiri Microsoft Bill Gates turut menyatakan kekhawatirannya terhadap AI. Menurutnya, kecerdasan buatan harus dikelola dengan baik agar hal yang tak diinginkan manusia tidak terjadi. (Baca: Fokus-Ancaman Kecerdasan Buatan)
Bahkan fisikawan ternama, Stephen Hawking mengaku takut atas konsekuensi sebuah penciptaan yang bisa menandingi atau melampaui manusia. "Ia akan lepas landas dengan sendirinya, dan melakukan desain ulang pada titik yang semakin meningkat," katanya pada Desember 2014.
(tyo/tyo)