NSA Tanggapi Isu Penyadapan Hard Disk Komputer

Aditya Panji, CNN Indonesia | Selasa, 24/02/2015 11:19 WIB
Kepala badan intelejen Amerika Serikat menanggapi soal tudingan pedapatan hard disk yang dilakukan oleh lembaganya. (Thinsktock/Hlib Shabashnyi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kepala badan intelijen Amerika Serikat, National Security Agency (NSA), Michael Rogers, secara tersirat menolak berkomentar soal laporan aksi pemerintah Amerika Serikat yang menyusupi program jahat pada hard disk merek ternama untuk kegiatan mata-mata.

Perusahaan keamanan siber Kaspersky Lab asal Rusia, pekan lalu merilis laporan bahwa telah menemukan program jahat penyadap di hard disk merek Western Digital, Seagate, Toshiba, dan beberapa produsen top lain.

Dalam sebuah forum keamanan digital di Washington, Amerika Serikat, Senin (23/2), Rogers berkata tidak akan menanggapi setiap tuduhan di luar sana.


"Jelas saya tidak akan masuk secara spesifik atas tuduhan itu. Tapi poin yang saya tekankan adalah, kami sepenuhnya mematuhi hukum," ujar Rogers seperti dikutip dari Reuters.

Menurutnya, bahwa intelijen negara dan lembaga penegak hukum, perlu sarana hukum untuk memecahkan enkripsi yang dibuat semakin kuat oleh penyedia sistem operasi seperti Apple, Google, dan Microsoft. Ia menegaskan perlu Amerika Serikat perlu kerangka hukum jika ada aktivitas kejahatan yang dilakukan lewat perangkat telekomunikasi.

Penyadapan yang dilakukan Amerika Serikat itu diduga dilakukan bersama badan intelijen Inggris, Government Communications Headquarters (GCHQ). Aksi main belakang tersebut diduga dapat menguping aktivitas komputer di seluruh dunia.


Penyadapan kartu SIM

Selain menyadap hard disk komputer, NSA dan GCHQ juga dituding menyadap kartu SIM ponsel yang dibuat oleh perusahaan Gemalto. Aksi ini mengundang banyak protes dari operator telekomunikasi besar dunia beserta para pelanggannya karena khawatir aktivitas telepon, pesan teks, dan email mereka disadap.

Operator telekomunikasi besar dari Indonesia, termasuk Telkomsel dan Indosat, mengaku memakai kartu SIM yang dibuat oleh Gemalto.

"Kendati kita menggunakan Gemalto untuk membuat kartu SIM tersebut. Kita sangat yakin, bahwa pada dasarnya perusahaan tersebut menjaga segala bentuk kerahasiannya dengan benar," kata Adrian Prasanto, Division Head Public Relations Indosat, saat dihubungi CNN Indonesia.

Gemalto sejauh ini masih melakukan investigasi atas tudingan itu dan berjanji bakal mengungkap hasil investigasi tersebut pada Rabu, 25 Februari 2015, melalui jumpa pers di Paris, Perancis.

Laporan aksi penyadapan oleh Amerika Serikat dan Inggris ini terungkap dari dokumen terbaru yang dibocorkan mantan karyawan NSA, Edward Snowden. Ia juga menyebutkan bahwa, setidaknya ada 450 operator yang sukses disadap dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan operator besar di AS seperti AT&T, T-Mobile, Verizon dan Sprint menjadi korbannya.

Dari penelusuran di situs web resmi Gemalto, perusahaan juga pernah menjalin kemitraan dengan PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) untuk mengelola sistem internet banking pada pertengahan 2014 lalu.


(adt/eno)