Apple akan memanen kawasan tersebut agar menjadi penopang kestabilan perekonomian jangka panjang. Sedangkan Conservation Fund bertugas mengatur dua sistem lahan itu, mengingat luasnya area yang mencapai 2,5 kali lipat dari kota Manhattan di New York.
Walau masih belum jelas berapa banyak kertas yang akan diproduksi dari hutan tersebut untuk kemasan produk, Lisa Jackson selaku wakil pimpinan divisi inisiasi lingkungan di Apple mengatakan, perusahaannya berharap hutan tersebut dapat memberikan 100 persen serat non-daur ulang yang akan digunakan pada kemasan produk Apple.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diketahui, perusahaan menjual ratusan juta unit iPhone, iPad, hingga Mac di mana tiap produknya dikemas dengan sepertiga serat yang tak bisa didaur ulang.
Februari lalu, sang CEO, Tim Cook menyatakan bahwa perusahaan menginvestasikan US$ 850 juta atau sekitar Rp 10,7 triliun untuk membangun lahan pertanian guna menampung tenaga matahari seluas 1.300 hektar di Monterey, California.
Energi yang diproduksi di sana akan digunakan sebagian untuk markas baru Apple dan diharapkan bisa menambah daya solar baru sebesar 130 megawatt di California agar cukup menghantarkan energi untuk 50 ribu rumah di sana.
Selain itu, Apple juga akan mendirikan dua pusat data baru di Eropa seharga 1,7 miliar euro atau setara Rp 24 triliun.
Tiap fasilitas akan menggunakan energi terbarukan sebanyak 100 persen ini akan menyediakan layanan online seperti iTunes, iMessage, dan Siri dari pelanggan Apple di Eropa. (adt)