Ketujuh kodok itu termasuk spesies baru karena belum pernah ditemukan sebelumnya. Ketujuhnya termasuk ke dalam genus Brachycephalus.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tingginya penebangan liar di hutan itu dikhawatirkan mengancam populasi kodok-kodok mini itu.
“Meskipun untuk terjun ke lapangan sangat menyulitkan, tapi selalu ada perasaan dan keingintahuan tentang seperti apa wujud spesies baru itu,” kata Marcio Pie, peneliti dari Universitas Federal do Parana, yang memimpin proyek tersebut.
Kebanyakan kodok dari spesies baru itu memiliki warna-warna yang terang, yang awalnya dikhawatirkan bahwa kulit mereka mengandung racun yang disebut tetrodotoxin.
Genus Brachycephalus sendiri pertama kali ditemukan pada 1842. Sudah lebih dari setengah spesies dari genus itu yang ditemukan selama 15 tahun terakhir. Ini menimbulkan asumsi di antara para ahli bahwa sebetulnya masih banyak spesies baru dari genus itu di alam liar. (ded/ded)