Bulan memang memiliki banyak kandungan air. Satu masalah yang pasti adalah keberadaan air tersebut masih sulit terlacak, karena bisa saja tertimbun di bawah permukaannya atau di dalam kawah gelap yang super dingin.
Nyatanya, terungkap air yang menguap karena sinar Matahari itu kemudian menjadi dingin dan mengembun menjadi embun beku. Hal inilah yang dianggap bisa menjadi persediaan mantap untuk air minum manusia apabila akan menduduki Bulan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari situs Popular Science, plastik bening yang dibentuk melengkung seperti kubah bisa ditempatkan di atas bagian permukaan Bulan untuk menangkap uap air, sekaligus memberi kesempatan permukaan Bulan untuk memadatkannya.
Mereka telah memperkirakan bahwa satu 'kubah' plastik tersebut bisa melapisi satu meter persegi regolith Bulan dan menghasilkan 190 mililiter air per hari, yang sama dengan sekitar 6,5 ons cairan atau setengah dari minuman soda di kaleng.
Lihat juga:Berlian Ternyata Bukan Berasal dari Bumi |
![]() |
Catatan kecil, regolith adalah lapisan longgar dangkal yang menyelimuti batuan padat. Regolith teksturnya bisa seperti debu atau tanah, dan biasa ditemui di Bumi, Bulan, Mars, serta di permukaan beberapa asteroid.
Bulan diperkirakan menyimpan 1,6 miliar ton air es dan elemen langka yang berlimpah. Bukan hal baru mengenai ide 'penjajahan' satelit Bumi ini untuk mengambil sumber dayanya.
Pada Februari lalu, berhembus kabar bahwa perusahaan swasta Shackleton Energy Company (SEC) berniat menambang di sana.
SEC yang berbasis di Texas itu berencana menambang cadangan besar air es untuk diubah menjadi bahan bakar roket dalam bentuk hidrogen dan oksigen. Bahan ini kemudian bisa dijual ke mitra antariksa lainnya.
Perusahaan swasta lain, Moon Express juga tertarik menggunakan air es Bulan sebagai bahan bakar, tapi dalam bentuk berbeda. Moon Express berencana untuk memberi sistem operasi dan pesawat antariksanya bahan bakar dari peroksida oktan tinggi (HTP).
(eno)
