Masa "perang harga" dalam industri telekomunikasi dinilai Dian sudah lewat dan kini industri menuju ke arah yang lebih matang. Tren pun menunjukkan layanan telekomunikasi telah menjadi kebutuhan premier dan konsumen mulai mencari layanan prima.
"Kita akan jaga kualitas dan layanan. Kita akan kasih kemudahan bagi pelanggan yang mau beli paket Internet atau ganti paket," ujar Dian dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis (2/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Bos XL Ungkap Ketertarikan Akuisisi Saham Link Net
"Kalau mau tingkatkan jumlah pelanggan bisa saja kita guyur kartu perdana. Perpanjang masa aktif. Tapi bukan itu yang kita cari sekarang. Kami harus tingkatkan pendapatan," tutur Dian.
XL menderita rugi yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk (rugi bersih) sebesar Rp 758,07 miliar pada kuartal I 2015. Padahal, sebelumnya meraih laba Rp 378,98 miliar pada kuartal I 2014.
Perusahaan operator seluler, menurut Dian, perlu mengantisipasi peralihan bisnis menuju jaringan tetap, konten, dan televisi berbayar. Oleh karena itu Dian menyatakan ketertarikan XL mengakuisisi sebagian saham PT Link Net Tbk yang akan dilepas oleh PT First Media Tbk.
XL tidak menutup kemungkinan untuk bekerjasama dengan mitra lokal dan asing, termasuk juga dengan Indosat yang ikut dalam perburuan sebagian saham Link Net.
Link Net dinilai memiliki keunggulan dari sisi basis pelanggan yang sudah matang untuk jaringan serat optik ke rumah tangga atau Fiber To The Home (FTTH).
Terkait banderol saham Link Net yang menembus angka US$ 500 juta, Dian menilai valuasi itu tidak realistis karena mencapai 12x nilai earning before interest, tax, depreciation, and amortization (EBITDA) dari emiten berkode LINK itu.
Pesaing lain yang disebut tertarik mengakuisisi saham Link Net adalah Grup MNC melalui PT Global Mediacom Tbk. (adt)