Keduanya memiliki metode yang berbeda dalam mengantarkan data atau panggilan dari radio BTS menuju ponsel konsumen.
Chief Technology Officer Smartfren Telecom, Christian Daigneault mengatakan, kedua teknologi tersebut dipakai untuk saling melengkapi layanan yang bakal diterima pelanggan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Butuh 'Selembar Kertas' Lagi Smartfren Bisa Gelar 4G LTE
TDD berarti proses mengirim dan menerima data terjadi pada frekuensi yang sama, tetapi masing-masing hanya sepersekian detik, bergantian antara keduanya. Christian mengatakan itu bagus untuk penggunaan Internet mobile yang cenderung membutuhkan akses download lebih cepat.
Chief Technology Officer Smartfren Telecom, Christian Daigneault. (CNN Indonesia/Aditya Panji). |
Sementara teknologi FDD yang diterapkan pada spektrum 850 MHz, menurut Christian, punya karakteristik akses download dan upload yang seimbang.
FDD mengantarkan data mengirim dan menerima dalam saluran yang berbeda. Metode ini meminimalkan gangguan yang mungkin ada serta membuat penerimaan jadi lebih baik.
Christian berkata teknologi TDD bakal menunjang akses unduh yang lebih cepat untuk memenuhi pelanggan yang haus data, dan FDD yang berjalan di frekuensi rendah diandalkan untuk memberi jangkauan yang lebih luas.
"Frekuensi yang lebih rendah memang punya sifat jangkauan yang lebih luas. Jadi kami pakai FDD di 850 MHz untuk coverage," tutur Christian.
Selama ini satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia hanya menggunakan satu standar proses pengantaran data di layanan. Operator berlisensi GSM seperti Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat, memakai FDD, semenyata Internux Bolt memakai TDD.
Smartfren merupakan operator pertama di Indonesia yang menerapkan dua standar LTE. Mereka berencana menggelar 4G LTE pada semester kedua tahun ini dan sekarang telah mulai menjual perangkat ponsel pintar yang mendukung 4G LTE.
Smartfren telah menunjuk Nokia dan ZTE sebagai produsen perangkat base transceiver station (BTS) 4G LTE. Nokia akan menggarap daerah barat kawasan operasional Smartfren seperti Sumatera, Jabodetabek, dan Jawa Barat. Sementara ZTE di kawasan timur, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan dan Sulawesi.
Chief Technology Officer Smartfren Telecom, Christian Daigneault. (CNN Indonesia/Aditya Panji).