Alasan Smartfren Pakai Teknologi TDD dan FDD 4G LTE

Aditya Panji , CNN Indonesia | Kamis, 18/06/2015 20:10 WIB
Alasan Smartfren Pakai Teknologi TDD dan FDD 4G LTE Perusahaan telekomunikasi Smartfren memperluas penjualan ponsel pintar Andromax yang mendukung 4G LTE di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali, pada Kamis, 18 Juni 2015. (CNN Indonesia/Aditya Panji).
Bali, CNN Indonesia -- Smartfren memutuskan untuk memakai dua standar dalam teknologi 4G Long Term Evolution (LTE), yaitu time division duplex (TDD) dan frequency division duplex (FDD) untuk menyelenggarakan layanan Internet kecepatan tinggi.

Keduanya memiliki metode yang berbeda dalam mengantarkan data atau panggilan dari radio BTS menuju ponsel konsumen.

Chief Technology Officer Smartfren Telecom, Christian Daigneault mengatakan, kedua teknologi tersebut dipakai untuk saling melengkapi layanan yang bakal diterima pelanggan.

Duplexing sendiri merupakan teknik di mana ponsel melakukan proses mengirim dan menerima data pada waktu yang sama, tak seperti walkie-talkie yang proses mengirim dan menerimanya tidak bisa dilakukan bersamaan dan hal ini disebut simplexing.

Baca juga: Butuh 'Selembar Kertas' Lagi Smartfren Bisa Gelar 4G LTE

Christian menjelaskan, teknologi TDD yang berjalan di spektrum 2.300 MHz milik Smartfren punya karakteristik sangat cepat ketika memberi akses unduh (download). Tetapi untuk kecepatan akses unggah (upload) cenderung lemah.

TDD berarti proses mengirim dan menerima data terjadi pada frekuensi yang sama, tetapi masing-masing hanya sepersekian detik, bergantian antara keduanya. Christian mengatakan itu bagus untuk penggunaan Internet mobile yang cenderung membutuhkan akses download lebih cepat.
Chief Technology Officer Smartfren Telecom, Christian Daigneault. (CNN Indonesia/Aditya Panji).

"Ini sangat cocok untuk data yang dikirimkan ke pelanggan untuk browsing, streaming video atau audio," kata Christian di sela acara uji jaringan 4G LTE Smartfren di Bali, Kamis (18/6).

Sementara teknologi FDD yang diterapkan pada spektrum 850 MHz, menurut Christian, punya karakteristik akses download dan upload yang seimbang.

FDD mengantarkan data mengirim dan menerima dalam saluran yang berbeda. Metode ini meminimalkan gangguan yang mungkin ada serta membuat penerimaan jadi lebih baik.

Christian berkata teknologi TDD bakal menunjang akses unduh yang lebih cepat untuk memenuhi pelanggan yang haus data, dan FDD yang berjalan di frekuensi rendah diandalkan untuk memberi jangkauan yang lebih luas.

"Frekuensi yang lebih rendah memang punya sifat jangkauan yang lebih luas. Jadi kami pakai FDD di 850 MHz untuk coverage," tutur Christian.

Selama ini satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia hanya menggunakan satu standar proses pengantaran data di layanan. Operator berlisensi GSM seperti Telkomsel, XL Axiata, dan Indosat, memakai FDD, semenyata Internux Bolt memakai TDD.

Smartfren merupakan operator pertama di Indonesia yang menerapkan dua standar LTE. Mereka berencana menggelar 4G LTE pada semester kedua tahun ini dan sekarang telah mulai menjual perangkat ponsel pintar yang mendukung 4G LTE.

Smartfren telah menunjuk Nokia dan ZTE sebagai produsen perangkat base transceiver station (BTS) 4G LTE. Nokia akan menggarap daerah barat kawasan operasional Smartfren seperti Sumatera, Jabodetabek, dan Jawa Barat. Sementara ZTE di kawasan timur, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan dan Sulawesi.