Perusahaan telah meluncurkan layanan 4G LTE pertamanya di Kota Batam pada 6 Juli 2015 lalu, bersamaan dengan komersialisasi 4G LTE spektrum 1.800 MHz yang digelar operator berlisensi GSM.
Presiden Direktur Smartfren Telecom, Merza Fachys mengatakan, peluncuran 4G LTE dari perusahaannya merupakan komitmen untuk mengisi Rencana Pita Lebar Indonesia yang digalang pemerintah sejak 2014 sampai 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Smartfren merupakan satu-satunya operator yang bertahan pada teknologi CDMA. Telkom Flexi memilih untuk mengalihkan pelanggan dan frekuensinya kepada Telkomsel. Indosat memilih untuk mengganti teknologi CDMA dengan E-GSM. Sementara Esia melakukan kerja sama jaringan dengan Smartften dan hanya menjadi penyedia jasa.
Anak usaha kelompok Sinar Mas ini mengadopsi teknologi standar pengantaran data FDD (Frequency Division Duplex) di spektrum frekuensi 850 MHz yang mereka miliki, kemudian TDD (Time Division Duplex) di spektrum 2.300 MHz yang akan dihuni Smartfren dalam waktu dekat setelah mendapat restu dari regulator untuk hengkang dari spektrum 1.900 MHz.
TDD punya karakter sangat cepat ketika memberi akses download, tetapi untuk kecepatan akses unggah cenderung lebih lemah.
Sementara FDD punya karakter akses download dan upload yang seimbang. Karena standar FDD dipakai Smartfren pada spektrum rendah, maka ini sangat cocok untuk memberi akses pada jangkauan yang lebih luas.