“Yang bikin bingung lagi, dugaan adanya perlakuan terhadap si mati, padahal perilaku kubur seperti ini belum ada pada Homo habilis dan Homo erectus, dua spesies manusia purba tertua,” kata Harry, kepada CNN Indonesia, Jumat (11/9).
Harry mengatakan masih banyak hal yang belum jelas dari temuan tersebut. Uraian tentang karakter fisik belum jelas dan radiometric dating terhadapnya pun belum dilakukan. Karena keterbatasan data itu, terlalu banyak ketidakpastian di seputar temuan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Harry, karena data masih kurang mantap masih terbuka berbagai kemungkinan mengenai taksonomi makhluk tersebut. “Untuk itu kita sebaiknya menunggu kemajuan penelitian, baik terhadap fisik manusianya maupun temuan asosiasi dan konteksnya,” kata dia.
Para ahli memberi nama makhluk itu dengan nama Homo naledi. Dari bentuknya, mereka menduga Homo naledi mirip seperti nenek moyang Homo erectus yang hidup di Bumi sekitar 1,5-1,8 juta tahun lalu.
"Kami menemukan spesies baru yang kemudian ditempatkan di genus Homo. Sungguh menakjubkan," kata ahli paleontologi dari University of Witwatersrand, Lee Berger yang juga memimpin penelitian tersebut.
Berger menggambarkan Homo naledi sebagai makhluk yang kurus, berkaki panjang, serta ukuran otak yang kecil seperti jeruk. Sementara urusan gender, Berger meyakini Naledi laki-laki memiliki tinggi sekitar 1,5 meter, sementara Naledi perempuan sedikit lebih pendek. Pengukuran dari tulang yang mereka temukan dianggap menyimpan misteri mengenai campuran kera purba dan manusia modern.
Lihat juga:Fosil Spesies Baru Manusia Purba Ditemukan |