Walau Rumit, Indosat Berharap Uji Teknis Balon Google Sukses

Hani Nur Fajrina, CNN Indonesia | Sabtu, 07/11/2015 10:02 WIB
Walau Rumit, Indosat Berharap Uji Teknis Balon Google Sukses Pejalan kaki melintasi gedung pusat Indosat yang berada di Jalan Medan Merdeka, Jakarta, Rabu, 3 September 2014. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Direktur sekaligus CEO Indosat Alexander Rusli, menyatakan proyek balon udara Google yang bakal diuji di Indonesia pada 2016, bukan hal mudah untuk dijalankan secara teknis namun ia berharap pada akhirnya bisa mencapai kesuksesan.

"Technical test Loon ini sangat kompleks. Metodenya rumit secara teknis, dari mulai rute terbang hingga penerapannya," ucap Alex saat dijumpai di kantor pusat Indosat, Jakarta Pusat, Jumat (6/11).

Alex menjelaskan, balon Loon Google akan menggunakan frekuensi 900 MHz dari ketiga operator, yaitu Indosat sendiri, XL Axiata, dan Telkomsel. Uji coba dilakukan secara bergantian, dan kebanyakan mengincar wilayah Indonesia timur.


"Kami sadar masih banyak yang skeptis terhadap konsep Loon. Tapi kami inginnya solusi ini bisa berjalan dengan sukses," tambah Alex.

Alex mengaku, baru akan memikirkan proses komersial Loon setelah uji coba rampung. Jika betu-betul terealisasi, ia menyatakan bakal membahas model bisnis sampai biayanya.

"Sebetulnya masih sangat jauh. Tapi jika terealisasi, kami bakal bahas berapa charging modelnya, apakah harus bayar per kilobyte serta usage-nya," tutup Alex.

Sejauh ini model bisnis dari Project Loon memang belum jelas, namun pihak Indosat memastikan uji coba di langit Indonesia bakal dimulai pada kuartal pertama tahun depan dan berlangsung selama satu tahun hingga akhir 2016.

Perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, Telkomsel, menilai balon Google dapat dijadikan infrastruktur alternatif di mana mereka dapat berperan sebagai "BTS terbang."

Presiden Direktur dan CEO XL Axiata, Dian Siswarini mengatakan, perangkat radio pemancar sinyal pada balon udara itu bakal disediakan oleh Google karena mereka telah merancang perangkat yang tahan terhadap air, angin, dan cuaca ekstrem.

Dian sepakat bahwa uji teknis ini bakal rumit, termasuk harus mengurus izin untuk lalu lintas di udara. "Nanti Google yang akan urus ke regulator penerbangan. Proses uji teknis ini akan panjang," tutur Dian beberapa waktu lalu kepada CNN Indonesia.

Ratusan balon akan mengudara di ketinggian 20 km dari permukaan laut. Ia bisa memancarkan koneksi Internet 4G LTE dengan radius 40 kilometer ke darat dari tempat lokasi balon itu berada.

Balon itu bisa bertahan selama 150 hari di angkasa, dan sebelum ia diturunkan Google akan menerbangkan balon lain sebagai pengganti. (adt)