Startup Pertanian iGrow Raih Investasi dari Dua Pemodal

Aditya Panji, CNN Indonesia | Sabtu, 25/06/2016 12:23 WIB
iGrow yang digambarkan sebagai Framville dalam kehidupan nyata, akan mengembangkan lahan pertanian organik dan berencana ekspansi lahan ke Turki dan Jepang. Dua pendiri iGrow, Jim Oklahoma (Chief Business Development Officer) dan Andreas Senjaya (CEO). (Dok. iGrow)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan rintisan iGrow yang bergerak di bidang pertanian organik mengumumkan telah mendapatkan pendanaan dari dua pemodal ventura, yaitu East Ventures dan 500 Startups, dengan nilai yang tak diungkap.

Investasi ini diharapkan bisa mempercepat misi iGrow untuk menanam pertanian organik dan mengembangkan bisnis di masa depan. Selain Indonesia, iGrow juga berencana ekspansi ke negara lain.

iGrow selama ini sering digambarkan sebagai “Farmville dalam kehidupan nyata.” Startup ini didirikan oleh Muhaimin Iqbal, Andreas Senjaya, dan Jim Oklahoma, dan kini memiliki kurang lebih 10 anggota dalam tim.


Layanan mereka memungkinkan setiap pengguna untuk bertani tanpa harus memiliki lahan dan kemampuan bercocok tanam. Dengan fitur di layanan mereka, pengguna dimungkinkan untuk memilih tanaman dan lahan yang bisa dijadikan investasi, mulai dari kurma hingga durian.

Bisnis iGrow menghubungkan para pengguna dalam hal ini yang memberi dana, dengan petani, pemilik lahan, dan pembeli hasil pertanian.

Bagi pengguna, mereka dapat mendaftarkan diri di iGro, kemudian memilih benih dan lahan, kemudian menginvestasikan sejumlah uang untuk proses pertanian.


Chief Business Development Officer iGrow, Jim Oklahoma iGrow, Jim Oklahoma berkata, pihaknya saat ini sedang bertani di lahan lebih dari 1.000 hektar. Ia melanjutkan bahwa masih ada 16 juta hektar lahan yang kurang dimanfaatkan di Indonesia dan ia melihat itu sebagai potensi.

“Seiring dengan ekspansi lokal, kami juga menjajaki untuk membuka peternakan dan pasar di negara-negara lain sekitar pada akhir tahun ini,” tutur Jim dalam siaran pers yang diterima CNNIndonesia.com, Jumat (24/6).

iGrow mengaku mengincar negara Turki karena di sana menjadi tempat terbaik untuk menanam buah zaitun. Jepang juga menjadi incaran dan iGrow sedang diskusi dengan pihak lokal di sana.

CEO iGrow Andreas Sanjaya mengatakan, pihaknya menghubungkan tiga pemangku kepentingan dalam bisnis pertanian, yaitu pasar, keterampilan, dan modal.

“Model ini secara komprehensif memungkinkan lahan yang tidak dimanfaatkan untuk ditanami dengan tanaman organik, dan dalam waktu yang sama memberdayakan petani untuk meningkatkan pendapatan mereka,” jelasnya.


Perusahaan percaya pertanian organik bisa menekan dampak lingkungan ketimbang pertanian konvensional. Pasar global untuk makanan dan minuman organik pun terus tumbuh lima kali lipat pada rentang 1999 sampai 2014, menurut Research Institute of Organic Agriculture, dan diprediksi akan makin besar.

Sebelum meraih investasi terbaru kali ini, iGrow telah mendapatkan investasi dari 500 Startups dan mengikuti sejumlah program akselerasi. (adt/eno)