Eksistensi Robot Mengancam Profesi Manusia?

Bintoro Agung Sugiharto, CNN Indonesia | Kamis, 15/09/2016 14:49 WIB
Eksistensi Robot Mengancam Profesi Manusia? Ilustrasi robot perawat (REUTERS/Francois Lenoir)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah penelitian oleh Forrester Research memperkirakan pada 2021 robot akan mulai mengambil sebagian pekerjaan manusia. Pekerjaan seperti bankir, supir taksi, dan agen pelayanan konsumen, menjadi yang paling terancam oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan.

Dalam laporan Forrester, sekitar enam persen pekerjaan yang dilakukan manusia akan direbut kecerdasan buatan model awal. Facebook, Amazon, dan Apple, merupakan yang terdepan dalam pengembangan bot yang mengandalkan algoritma seperti Siri.

"Pada 2021, ombak besar perubahan akan mulai. Solusi yang muncul akibat kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/ AI) akan menggusur peran manusia terutama di bidang transportasi, logistik, pelayanan pelanggan dan konsumen," tulis Brian Hopkins, Wakil Presiden Forrester, dalam laporan tersebut.



Tidak hanya pekerja di industri tersebut yang terancam dengan kehadiran mesin pintar. Berdasasrkan laporan Digital Trends, para peneliti di World Economic Forum punya prediksi yang lebih mengkhawatirkan. Menurut mereka 7,1 juta pekerjaan akan digantikan oleh algoritma dan dua-pertiga diantaranya terpusat pada pekerjaan yang bersifat kantoran dan administratif.

Dalam satu dekade ke depan, mobil tanpa supir diperkirakan dapat dijual ke pasar. Inovasi tersebut menjadi ancaman langsung bagi industri truk, taksi, serta otomotif secara umum. Analis dari Barclays, Brian Johnson, menghitung penjualan kendaraan dapat menyusut 40 persen dalam 25 tahun ke depan jika mobil tanpa supir benar-benar beredar di pasar.


Pekerjaan lain yang dapat menjadi 'mangsa' robot seperti dilansir Quartz yakni para remaja di balik meja pemesanan restoran cepat saji. CEO Carl's Jr. Andy Puzder begitu percaya bahwa kecerdasan buatan dapat meningkatkan performa perusahaan setelah berkunjung ke Eatsa, sebuah restoran yang yang seluruhnya dioperasikan dengan mesin di California.

"Mereka selalu sopan, selalu membuat dagangan laku, tak pernah libur, tak pernah terlambat, tak bisa terpeleset-lalu-jatuh, tak kenal diskriminasi umur, seks, atau ras," terang Puzder mengenai keuntungan mempekerjakan mesin dibanding manusia. (evn)